BATUSANGKAR, kiprahkita.com -- Bahagia itu sederhana. Bahagia diperoleh melalui harmonisasi dengan Allah SWT, diri sendiri, alam sekitar, dan manusia lainnya. Mewujudkan harmonisasi mesti dilatihkan hingga menjadi kebiasaan.
Berbicara pada Kajian Islam Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Sayang Ibu Batusangkar, Ustadz H. Irwandi Nashir menjelaskan, harmonisasi dengan Allah diawali dari memperbaiki cara bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.
"Bersyukur dalam makna dan cara yang sesungguhnya, adalah tangga pertama dalam menata hubungan dengan Allah Ta'ala," jelasnya, Ahad (30/4).
Setiap pribadi muslim, jelas Irwandi, penting terus menumbuhkan dan memupuk kesadaran rohani terhadap nikmat Allah, dalam bentuk diciptakannya kita oleh Allah sebagai manusia, lalu dilangsungkan-Nya kehidupan kita dengan pemeliharaan dan bimbingan-Nya, melalui syariat Islam yang diwahyukan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.
Menurut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi itu, abai dan gagal dalam mewujudkan cara bersyukur yang sesungguhnya kepada Allah, berdampak pada porakporandanya tatanan hubungan seorang makhluk dengan Khaliq.
"Rusaknya harmonisasi dengan Allah, berarti sirnanya kebahagian sejati yang dicari manusia," terang Ustadz Irwandi yang juga ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh itu.
Bersyukur kepada Allah itu, lanjutnya, tidak hanya tangga awal untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga menjadi indikator keberhasilan ibadah kita, seperti diisyaratkan di penghujung ayat 185 dari Quran Surah al-Baqarah.
Bagi pemilik RSIA Sayang Ibu Batusangkar H. Zulhanif Nazar dan istri Ny. Hj. Suryatina Ali, kajian Islam untuk keluarga besar RSIA Sayang Ibu, diyakini berdampak besar terhadap peningkatan kualitas cara mengamalkan ajaran agama dan profesionalitas dalam bekerja.
Kajian Islam di pekan pertama Bulan Syawwal 1444 H/2023 M itu, turut dihadiri Direktur RSIA Sayang Ibu Habib, para dokter, perawat, dan karyawan.(mus)

0 Komentar