PADANG PANJANG, kiprahkita.com -- Keberadaan materi belum tentu membuat orang sepenuhnya bahagia. Guru yang bahagia adalah guru yang memiliki orientasi hidup yang benar dan konsisten.
Ustadz H. Alber Nashir menegaskan hal itu, saat menjadi narasumber pada Kajian Islam untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMAN 2 Padang Panjang, Kamis (4/5).
"Guru yang bahagia adalah guru yang memiliki orientasi hidup yang benar dan konsisten di atas jalan yang benar dan nilai-nilai kebaikan," ujarnya.
Dengan merujuk pada Al-Quran Surah At-Takwir ayat 26 hingga 27, dosen Ma’had Aly Serambi Mekkah Padang Panjang ini menjelaskan, hidup yang terarah akan memunculkan perasaan yang terarah dan keutuhan pribadi.
Menurutnya, 13 tahun pertama dakwah Rasululullah sawa adalah mengarahkan kehidupan manusia. Tema ayat-ayat yang turun masa itu, terangnya, mencakup keimanan kepada Allah, hari akhir, Nabi dan Rasul. “Ketiga tema ini paling ampuh mengarahkan kehidupan manusia,” jelasnya.
Selain orientasi hidup yang terarah, kebahagian itu, terang Ustadz Alber, diperoleh melalui keharmonisan hubungan dengan Allah, sesama manusia, diri sendiri, dan lingkungan.
Dia menegaskan, keharmonisan dengan Allah dibentuk melalui ibadah yang benar. Sementara keharmonisan dengan sesama manusia dibina melalui muamalah yang baik, dan keharmonisan dengan diri sendiri diwujudkan dengan selalu berpikir dan memelihara mental positif.
Membangun mental positif yang baik, lanjutnya, tergantung sistem keyakinan dan kepercayaan terhadap seluruh kemampuan yang dimiliki. "Manusia adalah makhluk kebiasaan, dan semua sistem kepercayaan, nilai, aturan, atau mudahnya sifat yang ada dalam diri manusia, semuanya terbentuk dari pengalaman atau kebiasaan masa lalu," katanya.
Mental positif, imbuhnya, membuat guru tidak membebani dirinya dengan orientasi mendapatkan imbalan.
“Bahagia akan terbentuk dari pengabdian dan tanggung jawab mendidik serta mengajarkan nilai-nilai penting dan inspiratif kepada siswa tanpa mengharapkan balas dan jasa,“ terangnya.
Tinggi rendahnya tingkat kebahagiaan seseorang, lanjutnya, berbanding lurus dengan tinggi rendahnya rasa syukur. Dengan kata lain, guru yang bahagia adalah guru yang selalu bersyukur.(*/mus)

0 Komentar