Kampung Iklim

Oleh Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.

(Sekretaris LPLH-SDA MUI Pusat)


Pemanasan global memang nyata dan telah menjadi kegelisahan setiap warga dunia, betapa tidak? 


Sekarang dirasakan dimana-mana panas, di rumah panas, di luar panas, di jalan panas, tetapi dalam waktu sekonyong-konyong hujan turun dengan ekstrem, lebat, padat dan dengan butiran yang besar, malah ada pada tempat-tempat tertentu terjadi hujan es yang dapat memecahkan kaca mobil. 


Semua sudah mengetahui dengan nyata bahwa kapitalisasi yang dilakukan oleh pada umumnya masyarakat dunia, mengeksploitasi sumber daya alam, melakukan pabrikasi, industrialisasi, mobilisasi mayarakat dunia, yang semua menghasilkan emisi karbon, berakibat pada effect rumah kaca, dirasakan oleh penghuni dunia dengan pemanasan global.


Kesepakatan pimpinan dunia, untuk mengurangi perilaku yang berdampak terhadap pemanasan global, belum terlalu efektif, karena menyangkut dengan profitabilitas dan kemapanan dari berbagai corporation, sehingga pada akhirnya muncul pemikiran kompensasi karbon dengan oksigen. 


Berbagai penggiat lingkungan yang menghasilkan oksigen, daerah yang dinyatakan sebagai paru-paru dunia, pemberi asupan oksigen kepada dunia, perlu diperhatikan oleh dunia industri untuk diberikan kompensasi sebagai bentuk dari keteledoran diri dan institusinya memberikan emisi karbon terhadap masyarakat dunia, tetapi ini belum juga ada kejelasan, bagaimana pemberian kompensasinya. 


Sebagian masyarakat dunia yang bergerak di bidang lingkungan tengah berusaha untuk melakukan penghijauan secara massif dan dapat diukur oleh lembaga tertentu besaran konstribusi oksigennya di atmosfier dunia, mengawinkannya dengan dunia usaha yang terlanjur membuang emisi karbonnya di atmosfier dunia ini, inilah bentuk dari perdagangan baru dalam dunia sebagai wujud mempertahankan kelangsungan bumi dari kerusakan ekosistem.


Semoga regulasi nasional di bangsa ini dapat diakses oleh para penggiat local dan kecil di kalangan anak bangsa. 


Namun di balik yang demikian itu, sebagai seorang yang beriman, tentu kita perlu mengamalkan yang pernah dititahkan oleh Rasul, bahwa andaikan ada informasi besok hari kiamat, jika kita mempunyai sebatang pohon, maka tanamlah, karena pohon yang ditanam tersebut pasti akan mendatangkan manfaat. 


Pembiasaan menanam, pembiasaan cinta lingkungan, pembiasaan menata lingkungan bagian dari ajaran Islam yang perlu diamalkan. Islam sangat menghanjurkan bahwa konsumsi terhadap sumber daya alam, dilakukan dengan seperlunya, tidak boleh berlebih-lebihan, perilaku yang berlebih-lebihan adalah perilaku setan. 


Kegiatan nyata yang kontributif terhadap perbaikan lingkungan, tanpa banyak wacana dan mencerca adalah kegiatan village conduct, kampung iklim, pelibatan seluruh unsur masyarakat di kampung, di desa, RW untuk melakukan rehabilitasi lahan kosong untuk ditanam berbagai tumbuhan hijau yang mendatangkan kesejukan, kerindangan di lingkungan setempat, sehingga walaupun kecil kalau dilakukan secara massif akan menghasilkan konstribusi positif terhadap pengurangan pemanasan global di tingkat local. 


Kegiatan inilah yang perlu di galakkan dan menjadi arahan, bimbingan dan seruan oleh para pimpinan ummat kepada masyarakat, sehingga kepedulian lingkungan hidup nyata dan dirasakan oleh masyarakat. 


Gerakan kampung iklim jika tertata dan terdata juga akan dapat dilola menjadi carbon trade yang tengah diimpikan oleh sebagian warga kebarokahannya.***

Posting Komentar

0 Komentar