Tragedi Bank Syariah Indonesia (BSI) tak boleh dipandang sebagai kasus serangan siber saja, tetapi juga terkait bangunan perekonomian umat.
JAKARTA, kiprahkita.com -- Keluhanan terhadap BSI masih terjadi. Pihak manajemen memang telah berupaya meminimalisir kekecewaan nasabah, terutama terkait dengan layanan transfer dan tarik tunai.
![]() |
| Prof. Abdul Mu'ti.(muhammadiyah.or.id) |
BACA JUGA
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Abdul Mu'ti menyerukan gerakan bersama menyelamatkan BSI harus dilakukan. Muhammadiyah, sebutnya, siap mengerahkan puluhan ahli Information and Technology (IT)
"Tragedi BSI ternyata belum berakhir, walaupun manajemen BSI telah berupaya untuk meminimalisir kekecewaan nasabah, yang sampai hari ini masih juga mendapatkan kendala mendapat layanan BSI, terutama dari layanan transfer dan tarik tunai," ujarnya.
Sebagaimana yang telah banyak diinformasikan di berbagai media, sebutnya, Muhammadiyah dengan ribuan amal usaha dan jutaan anggota, karyawan, guru dan dosen adalah salah satu institusi yang terdampak atas tragedi BSI ini.
"Sebagai lembaga keagamaan yang selalu hadir dan tampil untuk kemaslahatan umat. Insya Allah, dengan dikomandani oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Abdul Mukti, Persyarikatan Muhammadiyah akan mengumpulkan puluhan ahli ahli IT yang dimiliki untuk membantu BSI dalam mengatasi tragedi kejahatan cyber yang melanda BSI," kata Wakil Ketua LP-UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga dosen FEB-TB Ahmad Dahlan Syafruddin Anhar.
Dikatakan, upaya Mu'ti adalah satu langkah nyata Persyarikatan Muhammadiyah untuk menyelamatkan bangunan perekonomian ummat. Save BSI ini sebagai satu bentuk pertanggungjawaban sosial Muhammadiyah dalam gerakan ekonomi ummat.
"Direksi BSI juga harus menyadari bahwa ini adalah lembaga keuangan yang memang harus didedikasikan untuk dan kepada umat. Oleh karena itu kesadaran ini menjadi landasan profesionalitas para direksi dan komisaris, serta institusi negara yang membawahinya yaitu kementerian BUMN," katanya.
![]() |
| Syadruddin Anhar |
Anhar menegaskan, sebagai lembaga usaha negara, jangan sekali sekali BSI diletakkan pada landasan ambisi dan kepentingan keduniaan semata tanpa mengindahkan nilai nilai ideologis.
Tragedi BSI ini, tegasnya, harus dijadikan pelajaran dan instrumen untuk melakukan evaluasi diri segenap manajemen BSI. Nilai-nilai ideologi menyatakan bahwa jabatan, pekerjaan dan rejeki itu adalah amanah dan harus dipertanggungjawabkan.
"Muhammadiyah sekali lagi hadir untuk kemaslahatan ummat dengan gerakan SAVE BSI. semoga sukses. Salam sang pencerah," katanya.(rel/mus)


0 Komentar