Paradigma pendidikan sudah banyak berubah. Kini fokusnya pada pembinaan karakter dan peningkatan kompetensi, dengan menerapkan pola Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.
BATUSANGKAR, kiprahkita.com -- Pola pembelajaran saat ini sedang mengalami pengembangan dan paradigma baru, lewat apa yang dikenal dengan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Fokusnya adalah peningkatan kompetensi dan pembinaan karakter.
Demikian dikatakan Bupati Tanah Datar Eka Putra, Senin (22/5), saat membacakan pidato Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Dikbud Ristek), pada kegiatan Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), di Lapangan Cindue Mato Batusangkar.
Menurut bupati, banyak perubahan yang terjadi akhir-akhir ini dalam paradigma pendidikan nasional. Program Merdeka Belajar sejauh ini sudah memasuki episode ke-24, dan diyakini akan semakin mendekatkan konsep pendidikan nasional kepada apa yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara, sang bapak pendidikan nasional Indonesia.
“Cita-cita besar Ki Hajar Dewantara adalah menuntut bakat, minat dan potensi peserta didik agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang tinggi, sebagai seorang manusia dan anggota masyarakat,” kata bupati.
“Peserta didik lini bisa belajar lebih tenang, karena aktivitas pembelajaran lebih holistik bersama gurunya. Kepala sekolah dan kepala daerah yang dahulunya kesulitan memonitor kualitas pendidikan secara nasional, melalui platform rapor pendidikan untuk melakukan perbaikan kualitas pelayanan pendidikan,” ujarnya.
“Kini, Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran mendalam untuk mengembangkan karakter dan kompetensi, sedangkan seleksi untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sekarang fokus pada pengukuran kemampuan literasi dan nalar.
Dahulu, kata bupati, mahasiswa fokus belajar teori dalam kelas atau ruangan, tapi saat ini bisa melanglang buana mencari pengetahuan dan pengalaman di luar kampus, dengan hadirnya program-program kampus merdeka.
Terkait Dana Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan Biaya Operasional Pendidikan (BOP), imbuhnya, pemanfaatannya lebih fleksibel dan ada keleluasaan bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan perluasan program beasiswa, kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi jauh lebih terbuka.
“Merdeka Belajar ibarat layar yang terbentang luas jangan sampai kita lipat lagi, kita semua tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, seniman dan pelaku budaya dan peserta didik di seluruh penjuru nusantara adalah kapten di kapal besar yang bernama Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika dalam sambutannya menegaskan, kelahiran Budi Utomo 115 tahun pada 20 Mei 1908 yang ditandai dengan meleburnya berbagai gerakan perjuangan yang bersifat kedaerahan menjadi satu barisan yang utuh.
“Diawali dari itu gerakan perjuangan Republik Indonesia gegap gempita bergerak mewujudkan Republik Indonesia sebagai negara yang satu berdaulat adil dan makmur,” ucapnya.
Gerakan yang didirikan Dr. Sutomo ini bersama mahasiswa bertujuan mendorong bangsa Indonesia mengejar ketertinggalan dari bangsa lain pada masa itu. Cita-cita utama kebangkitan nasional, katanya, memerdekakan cita-cita kemanusiaan, memajukan, memajukan nusa dan bangsa, serta mewujudkan kehidupan bangsa yang terhormat dan bermartabat di mata dunia.(prokopimtd; ed. mus)

0 Komentar