Penguatan Nilai-nilai Islam dalam Kegiatan Sosial

Oleh Dr. Suhardin, S.Ag.,M.Pd.

Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta


Para penyihir hanya memainkan pandangan mata, tetapi Musa AS wujud tongkatnya benar berwujud ular benaran



ALLAH SWT memberikan kepada setiap nabi dan rasul-Nya, kekuatan dahsyat yang dapat memberikan pelemahan terhadap kaum yang menantang. Kekuatan luar biasa tersebut menimbulkan ketakutan kepada kaum yang tidak percaya terhadap kenabian dan kerasulannya.


Musa AS diberikan kekuatan oleh Allah melalui tongkatnya, sehingga menimbulkan ketakutan terhadap Firaun (penguasa yang tengah bersinggasana di waktu itu), ketakutan dan langsung sujud para penyihir Firaun, padahal mereka telah dibayar mahal oleh Firaun untuk melawan Musa AS. 


Kekuatan dahsyat tersebut disesuaikan dengan situasi dan tempat para nabi dan rasul ditugaskan oleh Allah SWT. Musa AS ditugaskan kepada masyarakat yang suka dengan ilmu sihir, maka Allah memberikan mukjizat kepada Musa AS berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular.


Para penyihir hanya memainkan pandangan mata, tetapi Musa AS wujud tongkatnya benar berwujud ular benaran, yang dapat diyakini oleh para penyihir, ini bukanlah sihir, tetapi kekuatan yang berasal dari yang maha kuasa, sehingga membuat mereka sujud dan beriman kepada kerasulan Musa AS. 


Kaum Ad dan Tsamud, ahli arsitektur engineering yang mampu merekayasa gunung menjadi bangunan megah yang menjulang tinggi ke angkasa. Allah SWT memberikan mukjizat kepada Nabi Shaleh AS dengan mengeluarkan seekor onta dari dalam bebatuan gunung yang menjulang, untanya persis sebagaimana unta biasa yang makan dan minum dan memberikan manfaat susu terhadap mereka.


Kejadian ini terang membuat orang yang tidak percaya terhadap ketuhanan dan kenabian Shaleh, menjadi percaya, tetapi yang kafir tetap melakukan rasionalisasi untuk mencari pembenaran, sehingga mereka tetap mengingkari, sehingga pada akhirnya mereka membunuh unta tersebut, dan pada akhirnya Allah mendatangkan azab-Nya. 


Nabi Muhammad SAW diberikan Allah SWT mukjizat bukan hanya mukjizat material indrawi, tetapi mukjizat sepanjang masa. Allah SWT memberikan mukjizat luar biasa kepada Nabi Muhammad SAW berupa Al-Quran Al-Karim yang mana memiliki kekuatan luar biasa secara Bahasa, kelimuan (scientific) dan informasi-informasi ghaib untuk persiapan kehidupan di masa depan, pasca kehidupan dunia. 


Secara bahasa tidak bisa dipungkiri, Bahasa Al-Quran dari Bahasa Arab yang memiliki sarat makna, dan menampilkan gubahan yang tidak mampu ditandingi oleh segenap ahli syair dari berbagai penjuru dunia. 

Menyatunya kekuatan manusia dan jin untuk menggubah satu surah tandingan dari Al-Quran, dipastikan tidak akan mampu. Kandungan makna Al-Quran tidak satupun yang bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahuan dan teknologi.


Berbagai pesan Al-Quran berupa sejarah dapat dibuktikan dengan penelitian antropologi. Pesan Al-Quran tentang ilmu pengetahuan terbukti kebenarannya secara saintifik. Demikiannya juga pesan-pesan normatif, dapat dijadikan panduan utama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. 


Pesan Al-Quran tentang kemasyarakatan, pertama, social cohesiveness, kekompakan sosial, ini terjadi jika kepentingan utamanya adalah Allah SWT. Jika kepentingan selain Allah, maka persatuannya adalah rapuh, orientasi adalah kepentingan masing-masing, aneka ragam kepentingan membuat orang akan bertikai, dan menimbulkan conflict (pecah). Tetapi jika kepentingan itu, atas nama Allah SWT, niscaya semua akan mengorbankan jiwa raganya untuk kepentingan Allah SWT. 


Kedua, the power of God, Allah maha menentukan, manusia hanya berusaha, keberhasilan adalah nikmat Allah, kegagalan adalah ujian Allah.


Manusia tidak sombong dan pongah dengan keberhasilan dirinya dalam melakukan sesuatu untuk kesejahteraan sosial. Kreatifitas yang dilakukan atas kuasa yang dimanahkan Allah SWT, bukanlah kehebatan dan kejumawaan individual, tetapi Allah membantu melalui berbagai makhluk-Nya, boleh jadi teman dan lawan kita, hewan, tumbuh-tumbuhan dan situasi alam yang membantu kita menggapai keberhasilan.


Kegagalan merupakan pendidikan Allah kepada kita agar tetap belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri. 


Ketiga, purity of heart, kesucian hati, ketulusan jiwa dalam melakukan gerakan, bukan hati yang dibalut riya, ambisi dan mengejar sesuatu untuk kepentingan sesaat (pragmatic).


Orientasi diri menuju keridhaan ilahi, semua amal jariyah dipersembahkan kepada Allah SWT. Apresiasi manusia hanya semu dan relative, keridhaan Allah abadi, menjadi tabungan utama untuk masa depan di kehidupan nanti.


Kritikan manusia vitamin gerakan untuk membuat diri tetap tegar dalam kerangka ikhlas menuju sang pencipta Allah SWT.


Keempat, performance, kecakapan dalam bekerja, melakukan sesuatu untuk kegiatan sosial kemasyarakatan bukan amatiran, asal kerja, karena tidak digaji dan dihargai secara materi, tetapi kerja yang dilakukan haruslah standar, berbasis pada kompetensi.


Kapabilitas individual haruslah di up-grade selalu, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan yang dilalui. 


Kelima, structure and measurement, terukur dan terstruktur, kerja yang dilakukan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan tidaklah pekerjaan asal jadi atau asal dikerjakan, tetapi pekerjaan yang terencana sedemikian rupa, pekerjaan yang dilakukan tersebut dapat dilihat, dirasakan dan dievaluasi sedemikian rupa, sehingga beban kerja dan capaian kerja dapat diukur sedemikian rupa. Tingkat keberhasilan dan tingkat pencapaian pekerjaan yang dilakukan dapat diukur secara kuantitatif dalam skoring yang jelas dan akurat. 


Inilah sekelumit nilai-nilai Islam yang perlu dibumikan dalam menyelenggrakan kegiatan sosial kemasyarakatan agar tetap sustainable dan harmony, in sha Allah, barakallah.***

Posting Komentar

0 Komentar