Sebulan di Riyadh

Oleh RIFKI MAHENDRA, Dinas Kominfo Padang Panjang


RIYADH, Jeddah, Mekah, Madinah. Nama kota itu amat populer di Indonesia. Banyak yang berharap bisa berkunjung ke situ. Sayang, kesempatan tidak bisa diperoleh semua orang.


Bagi orng Indonesia, selain menunaikan ibadah haji dan umrah, Saudi Arabia --keempat kota tersebut berada di kerajaan ini-- menjadi idaman banyak orang untuk bekerja.


Di tengah tipisnya peluang, tersebutlah nama Endar Madessa. Bwliau adalah guru di SMP Negeri Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat. Endar lolos dalam program mengajar di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), ke Kota Riyadh, Arab Saudi bulan lalu.


Setelah menetap selama sebulan lebih di Riyadh, Endar mengungkapkan begitu banyaknya perbedaan yang dirasakan. Khususnya dari segi lingkungan dan budaya yang sebelumnya tidak pernah ditemui selama di Indonesia khususnya di Kota Padang Panjang.


“Di hari kedua setelah sampai di sana kita langsung kerja. Normalnya off dulu tiga hari. Dikarenakan mendesaknya kebutuhan tenaga untuk akreditasi sekolah, saya sudah langsung ngajar dan divisitasi asesor pusat akreditasi,” ceritanya, sebagaimana dirilis Dinas Kominfo Kota Padang Panjang, Selasa (2/5).


Lantaran datang di saat bulan suci Ramadhan, ujarnya, hampir setiap hari ada undangan berbuka, baik kegiatan sekolah, maupun keluarga guru. Dia juga menyempatkan diri untuk berbuka puasa di masjid-masjid dan bertemu dengan masyarakat yang multietnis.


“Di sini saya langsung dapat pengalaman di kota yang sangat maju dan tertata. Bahkan di luar ekspektasi, seperti contohnya lingkungan kota hijau banyak taman dan tumbuhan, kemudian pengalaman dengan aturan dan penegakan disiplin yang sangat ketat, di mana untuk mendapatkan kartu telpon saja harus melewati beberapa tahapan prosedur,” sebutnya.


Kartu tersebut, lanjutnya, juga terintegrasi dengan semua data diri dan aplikasi yang diperlukan untuk buka rekening bank, sewa rumah, pengurusan SIM, transaksi online serta daftar umrah dan haji dan berbagai hal lainnya.


Sampai saat ini, Endar mengatakan, dirinya masih tinggal di rumah atase pendidikan dan budaya Indonesia karena pengurusan dokumen izin tinggal dan hal lainnya masih dalam proses.


“Baru kemarin (Senin) setelah satu bulan lebih baru bisa aktif iqomah (ID tinggal di sini) dan bisa daftar absheer yang meruapakan syarat mutlak untuk izin dan pengurusan lainnya,” katanya.


Selain mengajar, Endar yang akan mengabdi untuk anak-anak Indonesia yang ada di Riyadh selama tiga tahun ke depan, juga ditugaskan membantu tim humas sekolah. Serta membina ekskul untuk olimpiade matematika SD, lomba karya tulis, dan juga sebagai kepala labor komputer.


“Di sini kita mengajar dibedakan tingkat SMP dan SMA serta untuk mapel yang berbeda-beda juga. Karena memang dari awal kami diharapkan siap dengan kondisi demikian,” ucapnya.


Selama sebulan di Riyadh, Endar juga mendapatkan kesempatan umrah gratis dari PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia). Bahkan di akhir Ramadan dirinya sempat dua kali menunaikan ibadah umrah pada kesempatan tersebut


“Kegiatan saya selama di sini selain di sela-sela kegiatan rutin itu, saya juga mencoba berbagai kuliner dan tempat-tempat wisata yang di sini semuanya indah dan menakjubkan. Ini merupakan pengalaman yang berharga sekali bagi saya pribadi bisa merasakan hidup di negeri orang,” tutupnya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar