Eco Kurban (Bagian Kedua dari Dua Tulisan)


Oleh Dr. Suhardin, S.Ag., M Pd.

Dosen Universitas Ibunu Chaldun Jakarta


KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA BAGIAN PERTAMA


KIPRAHKITA.com - Allah menegaskan kepada manusia, bahwa sesungguhnya kami telah memberikan nikmat yang sangat banyak. Oleh sebab itu hendaklah manusia untuk senantiasa melakukan shalat dan berqurban.


Sesungguhnya orang yang membenci engkau (Muhammad) itulah yang akan putus. Quran Surat al-Kautsar 1-3: “Sesunguhnya telah kami berikan kepadamu (karunia) sangat banyak. Sebab itu hendaklah engaku shalat karena Tuhanmu, dan hendaklah engaku berqurban. Sesungguhnya orang yang membenci engaku itulah yang akan putus”.


Para mufassir banyak mangartikan tentang “al-kausar” namun yang jelas al-kausar di sini adalah karunia, nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada manusia di dunia dan nanti akan diberikan Allah SWT kepada manusia lagi di akhirat berupa balasan surga al-kautsar, dan safaat dari Nabi Muhammad dalam rangka melindungi ummatnya dalam memperkarai urusannya di dunia.


Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia jika dihitung, niscaya tidak akan mampu dengan memakai metode statistik apapun dan teknik kalkulus bagaimanapun, karena banyaknya nikmat yang dianugerahkan kepada manusia, semenjak lahir, anak, remaja, dewasa, tua dan sampai kembali menghadapNya, hanya hitungan raqib dan Atid yang mampu mengkalkulasi, mentabulasi, dan membalansi nikmat, karunia, dan anugerah Allah terhadap manusia. 


Nikmat yang begitu banyak tersebut, wujud kesyukuran manusia terhadap Allah SWT maka hendaklah melaksanakan shalat dan berkurban.


Shalat membangun spiritualisasi diri, rasa kagum, rasa takut, rasa harap, dan rasa cinta yang tulus menuju sang khalik dalam kesepian, kesunyian dan kebathinan yang sesungguhnya. Manusia bisa manangis, merintih, menghiba dan mengharap kepada Allah SWT terhadap segala sesuatu yang diinginkannya, baik untuk keselamatan, kesejahreaan, dan kebahagiaan di dunia dan nanti di akhirat kelak.


Berkurban ibadah sosial, membuang kebinatangan yang dimiliki manusia dan menghiasinya dengan cinta yang tulus kepada Allah SWT melalui kemanfaatan benda yang dikurbankan tersebut  untuk sesama makhluk ciptaan Allah SWT.       


Darah sembelihan hewan kurban, daging hewan kurban yang sudah dukuliti, tulang belulang hewan kurban yang sudah dicincangi, tidak akan sampai kepada Allah SWT. Tetapi yang langsung sampai dan disapa Allah SWT adalah ketaqwaan manusia yang berkurban.


Taqwa sambungan langsung dekat dan merapat kepada Allah SWT. Orang yang bertaqwa tidak berjarak dengan Allah SWT. Pada diri orang yang bertwaqwa berkilau wajah Allah SWT. Inilah capaian ibadah kurban. Maka orang yang bertaqwa tidak ada tempat baginya selain dari surga yang sudah dijanjikan Allah SWT.  Qur’an Surat Ali-Imran (3) ayat 133:


“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”


Manfaat fisik kurban adalah kegembiraan, kebersamaan, kemanfaaatan untuk kemanusiaan dan makhluk hidup lain yang ada disekitar lingkungan pelaksanaan ibadah kurban.


Dalam pelaksanaan ibadah kurban, antar manusia melakukan organisasi (jamaah), koordinasi, kerja sama, interaksi dan komunikasi, bergotong royong untuk melaksanakan kebajikan yang sudah disyariahkan oleh agama Islam, melaksanakan tata aturan, kaifiyah (protokol) keislaman, semenjak dari pemilihan hewan kurban, pemotongan hewan kurban, pembagian hewan kurban sampai pada recovery tempat pelaksanaan ibadah kurban. Hal ini diatur dengan rinci dan riggid oleh Islam ditambah dengan kebijakan-kebijakan lokal yang sudah ditetapkan oleh panitia.  


Kegembiraan pelaksanaan ibadah kurban tidak dapat dilukiskan, atmosfir kebathinan sangat dalam, penyelenggaraan ibadah kurban benar-benar merekat jalinan ukhwah, kebersamaan antar individu muslim dalam sebuah kumunitas yang akrab.


Suasana sangat cair, tidak ada diffrensiasi sosial antar individu dalam sebuah komunitas, semua bersama untuk sebuah kemanfaatan. Tempat penyelenggaraan hewan kurban dibersihkan secara bergotong royong, hewan kurban dibagikan secara proporsional, skala prioritas yang tidak mampu, kurang mampu dan yang mampu.


Tidak ada memandang, suku, adat, bahasa dan agama, semua menjadi sebuah gerakan kemanusiaan. Bukan hanya manusia hewan lain yang ada disekitar juga menikmati termasuk anorganic yang ada di sekitar tempat penyelenggaraan hewan kurban.


Pelaksanaan hewan kurban selain sebagai gerakan sosial kemanusian juga telah menjadi entitas budaya nasional. Gerakan gotong royong yang sebenarnya terwujud nyata dalam pelaksanaan kurban. 


Panitia kurban diminta untuk hati-hati dalam memeriksa kesehatan hewan kurban, sehingga benar-benar diyakini bahwa hewan kurban bebas penyakit, tidak menimbulkan effect terhadap masyarakat yang mengkonsumsinya.


Penyelenggaraan kurban di tengah masyarakat memang sudah sangat baik, tetapi perlu dilakukan inovasi, agar pelaksanaan hewan kurban benar-benar sesuai dengan syariah dan mengindahkan prinsip-prinsip hegeanist dan standar kesehatan masyarakat serta standar kesehatan hewan.

 

Inovasi yang dibutuhkan diantaranya pertama, penyelenggaraan ibadah kurban dalam bentuk pemotongan lebih, diprioritaskan pada tempat yang sudah distandarkan, yakni rumah pemotongan hewan, panitia mengambil dagingnya ke tempat rumah potong hewan untuk dibagikan kepada jamaah yang sudah terdata oleh panitia, dalam rentang waktu hari tasyri’.


Kedua, dilaksanakan sebagai mana biasa dengan memperhatikan aspek kebersihan, jangan sampai beberapa hari setelah penyelenggaraan pemotongan hewan kurban masih tersisa bau amih dan bau busuk dari ampas dan darah serta sisa jeroan hewan kurban, kurangi kerumunan massa, rebutan daging dari masyarakat dan panitia, lakukan pembagian yang adil dan berkeadaban.


Ketiga, Jaga sterilisasi daging hewan kurban, jangan sampai hewan kurban berlama-lama tergeletak di tempat terbuka, dilalati dan berdebu, diusahakan memiliki frezer besar, agar terjaga kesegaran daging hewan qurban.


Keempat, berikanlah dana kurban kepada lembaga amil zakat yang sudah memiliki rekam jejak terpercaya seperti Lazis Muhammadiyah untuk dijadikan kurban dan pihak lazis akan mendistribusikan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan terutama di daerah terluar, terdepan dan terbelakang dalam bentuk corned daging kurban. 


Dalam empat alternative inovasi penyelenggaraaan ibadah kurban di atas penulis lebih cendrung merekomendasikan kepada alternative yang keempat di atas. Lebih aman, nyaman dan terpercaya. Insya Allah barokah.***

Posting Komentar

0 Komentar