Eco Kurban (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)


Oleh Dr. Suhardin, S.Ag., M Pd.

Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta


KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA BAGIAN KEDUA


KIPRAHKITA.com - Syariat korban telah diturunkan Allah SWT semenjak Nabi Adam AS. Habil dan Qabil yang telah didik oleh ayahnya, Nabi Adam AS, untuk berusaha bertani dan berternak diperintahkan Allah SWT berkurban.


Habil memilih hasil pertaniannya yang paling bagus untuk diberikan kepada makhluk lain yang membutuhkan sebagai rasa syukur dan taat terhadap perintah Allah SWT.


Qabil mengambil beberapa hewan ternak yang agak kurang baik diberikan sebagai rasa dongkolnya bahwa sebagian dari yang dimilikinya diminta.


Alhasil qurban habil diterima oleh Allah SWT dengan memanfaatkannyauntuk makhluk ciptaan Tuhan dalam melangsungkan kehidupannya, sementara qurban Qabil membusuk tidak diterima, karena memang beliau tidak ikhlas dalam memberikannya. 


Ibrahim AS setelah selesai menghadapi ujian berat dari hukuman orang-orang kafir, membakarnya hidup-hidup. Allah SWT memperlihatkan mukjizat sebagai nubuwah Ibrahim AS, api yang panas berobah jadi dingin untuk menyelamatkan Nabi Ibrahim.


Setelah itu Nabi Ibrahim pergi ke sebuah negeri untuk menyembah Allah SWT secara aman dan damai serta mendakwahkan ketauhidan kepada masyarakat, seraya mengharapkan kedatangan seorang putra yang akan meneruskan perjuangan beliau, maka Allah SWT memberikan kabar gembira dengan kelahiran seorang putra yang sangat sabar. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat As-Saffat (37) ayat 99-101.


“Dan dia Ibrahim berkata sesungguhnya aku harus pergi menghadap kepada Tuhanku, Dia akan memberiku petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang sangat sabar (Ismail)”.


Anak yang ditungggu, didambakan telah lahir, hal ini memberi semangat, motivasi, ghairah, dan inspirasi bergerak ke masa depan secara akselerative pada diri Ibrahim AS.


Tetapi Allah SWT memberikan ujian terhadap Ibrahim, Ismail dan Istrinya Hajar tentang cintanya terhadap Allah SWT. Maka Allah SWT memerintahkan kepada Ibrahim AS melalui mimpi untuk menyembelih Ismail AS.


Ibrahim langsung bersmusyawarah dengan anaknya, dan sang anak langsung menthatati yang dititahkan oleh sang ayah kepadanya, mendeklarasikan diri dengan izin Allah SWT dirinya termasuk orang-orang yang sabar.  As-Saffat (37) 102:


“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata: “wahai anakku aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; In sha Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.


Kesabaran Ismail dalam konteks ini, patuh dan taat kepada Allah SWT dan kepada kedua orang tuanya, tidak ada secercah rasa pembangkangan terhadap apa yang diperintah Allah kepadanya, dia memahami bahwa dirinya adalah milik Allah SWT dan dia tidak memiliki hak untuk membantah apa yang sudah ditentukan Allah SWT kepadanya.


Dia hanya bertawakkal kepada Allah SWT tidak ada sesutau zat yang lain untuk menyandarkan nasibnya, semua terpulang kepada Allah SWT. Menjalankan dengan khusu’ (serius dan konsentrasi) segala yang sudah digariskan Allah SWT sesuai dengan kaifiyah (protokol) yang sudah ditetapkan Allah SWT.   


Sikap dan perilaku inilah yang sangat dihargai Allah SWT dengan langsung memanggil Ibrahim AS yang sudah benar-benar menjalankan perintah. Allah SWT mendeklarasikan bahwa ini adalah ujian keimanan Ibrahim AS terhadap-Nya.


Allah menggantikan sembelihan yang besar, dan diabadikan untuk kalangan orang-orang yang beriman sampai hari kiamat. Di abadikan dalam As-Safat (37) 103-108:


“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu kami panggil dia wahai Ibrahim. Sungguh! Engkau telah membenarkan mimpi itu sungguh demikian kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar. Dan kami abadikan untuk Ibrahim pujian untuk kalangan orang-orang yang datang kemudian”.


Tindakan yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap putranya benar-benar dalam kerangka ketaqwaan dan keihsanan. Ketaqwaan getaran hati untuk mentaati perintah Allah SWT dan ketakutan untuk berbuat yang dilarang Allah SWT.


Keihsanan menjadikan kehidupan yang senantiasa berkayakinan selalu dalam pantauan Allah SWT. Sikap ini memberikan kekuatan kepada manusia untuk selalu melaksanakan perintah Allah SWT dengan resiko apapun yang akan dihadapi.


Dua sikap inilah yang sangat dinilai Allah SWT dengan balasan yang nyata di dunia dan di akhirat nanti. 


Penyembelihan Ismail bukanlah yang diharapkan Allah SWT, yang diharapkan-Nya adalah penyembelihan cinta yang bisa menyaingi cinta terhadap-Nya.  Cinta anak yang bisa mengalahkan cinta terhadap yang menciptakan anak, perlu dikorbankan.


Cinta terhadap harta benda yang bisa mengalahkan cinta terhadap yang memberikan harta, perlu dikorbankan. Cinta terhadap kebun, peternakan, perikanan, perhiasan, dan koleksi lainya perlu dikorbankan, yang hanya dicintai adalah yang memberikan segala nikmat kepada kita, yakni Allah SWT.


Dia memberikan nikmat hidup, nikmat kehidupan dengan aneka fasilitas, harta benda yang melimpah ruah, anak istri yang shaleh, saudara yang banyak siap membela, handai taulan yang senantiasa bisa berkumpul berkomunikasi dan rekanan yang senantiasa siap memberikan bantuan jaringan usaha. Semua itu nikmat yang dianugerahkan Allah SWT.(bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar