Feature

Feature menjadi kekuatan jurnalistik hari ini. Tanpa feature, media jurnalistik itu akan kering


Oleh Musriadi Musanif

(wartawan utama/pengelola kiprahkita.com)


OPINI, kiprahkita.com  - Dulu, setiap akan mengawali perkuliahan tatap muka, kepada para mahasiswa, saya selalu mengingatkan, siapa saja di antara mereka yang karya tulisnya dimuat di surat kabar harian lokal Sumbar atau majalah nasional, saya langsung memastikan nilai yang mereka peroleh pada semester itu.


Mahasiswa yang menulis feature, langsung diberi nilai A. Menulis artikel dan berita dapat nilai B. Mereka tak perlu serius-serius amat dalam ujian semester. Tapi harus tetap ikut kuliah. Nilai yang diburu sudah dipastikan, tapi belajar tentu tak boleh berhenti.


Feature. Ya, kenapa feature yang diberi nilai tertinggi? Bagi saya, feature merupakan karya tulis yang indah. Dia tidak berbicara dengan nalar dan logika, tetapi dengan hati. Feature mengungkap fakta, realita dan data, lalu secara otomatis mampu menggerakkan hati nurani, berita dan opini menggerakkan otak.


Dahulu, ketika saya bekerja sebagai reporter dan kemudian menjadi redaktur di Harian Umum Singgalang, saat pemimpin redaksinya dijabat almarhum Bapak H. Darlis Syofyan, saya selalu dimotivasi untuk menulis opini. Menurutnya, tidak banyak kalangan wartawan yang mampu menulis opini.


Atas anjuran, saran, dan bimbingan beliau, saya telah menulis ratusan opini yang dimuat di rubrik komentar dan halaman opini untuk karya-karya yang serius. Banyak pula di antara opini yang dimuat di rubrik langgam, retropeksi, dan beberapa rubrik lain yang penyajiannya santai, menggunakan kosa kata Bahasa Minang yang diindonesia-indonesiakan. Kami mengistilahkannya, Bahasa Indonesia ala Sutan Rajo Angek.


Ketika posisi Bapak Darlis Syofyan digantikan Bapak Khairul Jasmi, ‘sekolah’ saya untuk menulis opini dinilai sudah tamat. KJ justru menggiring terus untuk menulis feature. Tiap sebentar saya ditelepon, ada-ada saja topik feature yang beliau sarankan untuk saya tulis.


“Sejak jadi Pimpinan Redaksi Harian Singgalang, Juli 2006, kebiasaan menulis feature saya turunkan ke sejumlah wartawan di koran ini. Saya memantau-mantau saja, tetapi sesekali gatal-gatal juga tangan ini dan saya tulis feature,” tulis KJ dalam pengantar buku kumpulan feature-nya.


Feature menjadi kekuatan jurnalistik hari ini. Tanpa feature, media jurnalistik itu akan kering. Feature juga menjadikan sebuah surat kabar tidak bisa ditaklukkan televisi.


Koran yang hanya melaporkan peristiwa dalam bentuk berita, diyakini akan habis dilumat televisi dan radio yang kini rajin menyiarkan peristiwa live dari tempat kejadian. Habislah koran yang baru beredar keesokan harinya.


Serangan dahsyat kini juga datang dari media online. Informasinya bisa real time, sama dengan siaran live televisi. Tapi tanpa feature, media online juga akan terasa kering. 


Feature memiliki kemampuan untuk memberikan pemahaman dan penyadaran, karena dia memberi sentuhan kedalaman, keindahan, dan bahkan perenungan.


Membaca feature jauh lebih asik ketimbang membaca buku teori-teori menulis feature yang banyak ditulis profesor dan doktor, tapi kering dan membingungkan. Maklum, profesor dan doktor itu hanya tahu teori, tetapi nyaris tak pernah mempraktekkan teori yang dirumuskannya itu.(*)

Posting Komentar

0 Komentar