Tunas muncul dan mengeluarkan akar baru, suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama. Tunasnya itu bisa membelah atau bertunas lagi laksana padi biasa.
Oleh Musriadi Musanif
(Wartawan Utama/Korda Singgalang Tanah Datar)
KIPRAHKITA.com - Lama namanya tak terdengar disebut orang. Tiba-tiba, Sabtu (10/6), ada yang menyebutnya di arena Festival Balairung Sari di Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar.
Padi salibu. Ya, itulah namanya. Desrio Nandi yang menjadi ketua panitia pelaksana festival, di hadapan Bupati Tanah Datar Eka Putra dan ribuan pengunjung menyatakan, Tabek adalah nagari asalnya teknologi salibu yang lebih dikenal dengan Kampung Salibu.
Secara definisi, padi salibu maksudnya adalah tanaman padi sawah yang tumbuh setelah batang padi sisa panen dipangkas. Dari pemangkasan itu, muncul tunas baru yang tidak lagi tergantung dengan batang pertama. Produksi tunas itu bisa lebih banyak pula dari panenan tanaman pertama.
Dengan teknologi ini, tanaman padi yang tumbuh kembali setelah panen, dimana batangnya kembali dipangkas. Setelah pemangkasan, padi akan tumbuh kembali sebagaimana biasa untuk kemudian berbuah dan dapat dipanen lagi.
![]() |
| dokumentasi musriadi musanif |
Tunas muncul dan mengeluarkan akar baru, suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama. Tunasnya itu bisa membelah atau bertunas lagi laksana padi biasa. Realitas seperti itulah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama dengan tanaman sebelumnya.
Sebenarnya, pengembangan teknologi bercocok tanam padi di sawah yang sekali tanam bisa panen berkali-kali itu, sudah lama berkembang di Luhak Nan Tuo, khususnya di Kecamatan Pariangan dan Limo Kaum.
Pada saat Tanah Datar dipimpin Bupati M. Shadiq Pasadigoe dan Irdinansyah Tarmizi (alm), pengembangan teknologi padi salibu sangat gencar, sehingga sempat mendapat decak kagum dari pakar-pakar pertanian, termasuk Menteri Pertanian yang pada waktu itu dijabat Andi Amran Sulaiman.
Nagari Tabek menjadi sentra proyek percontohan, penerapan dan pengembangan teknologi tersebut. Hal yang sama juga dilakukan di Nagari Limo Kaum.
Adalah benar. Padi salibu sebuah inovasi di bidang pertanian tanaman pangan, khususnya di bidang bercocok tanam padi di sawah, hasil kreasi petani Luak Nan Tuo, dinilai sebagai terobosan hebat guna meningkatkan kesejahteraan petani.
Teknologi ini diaplikasikan berdasarkan pengalaman petani bertahun-tahun di Tanah Datar, terutama di Kecamatan Pariangan dan Limo Kaum. Sekali tanam, panennya berkali-kali!
Para petani di kedua daerah tersebut, memang sudah sejak lama melakukan inovasi-inovasi pertanian. Mereka berupaya menekan biaya produksi seminimal mungkin, tapi bisa meningkatkan produksi beberapa kali. Pilihan jatuh ke padi salibu yang menekan angka produksi, waktu, bibit, dan tenaga kerja.
Produksinya malah semakin meningkat, setelah petani yang menerapkan sistem tanam padi salibu itu, mendapat binaan dan bantuan teknik pula dari Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Sumatera Barat.
Pengalaman petani di Nagari Tabek, penerapan teknologi padi salibu dapat menghemat biaya produksi hingga 30 persen. atau sekitar Rp2,5 juta per hektar dalam sekali panen.
Dengan demikian, pendapatan petani akan mengalami peningkatan yang cukup besar, karena terjadi pemangkasan ongkos produksi, mulai dari pengolahan lahan, penyediaan bibit, sampai pada waktu yang digunakan.
Fakta inilah yang kemudian mendorong BPTP Sumbar melakukan penelitian lebih lanjut. Institusi ini dengan konsisten melakukan berbagai uji coba untuk peningkatan pendapatan petani, termasuk meneliti padi-padi jenis apa saja yang cocok ditanam dalam sistem salibu itu.
Bila kini sistem ini baru bisa diterapkan hingga tiga kali panen, namun berdasarkan percobaan-percobaan dan penelitian yang dilakukan, terbuka kemungkinan, panen padi salibu mencapai lima kali dalam sekali tanam.
Pada masa pemerintahan Shadiq, Pemkab Tanah Datar telah merancang untuk mengembangkan program padi salibu di empat kecamatan, termasuk di Pariangan. Tiap-tiap kecamatan yang menjadi target program, pemerintah mengalokasikan pupuk untuk 40 hektare lahan yang dibangun.
Tapi kemudian program ini meredup, dan beberapa tahun belakangan tak terdengar lagi, setelah terjadi pergantian pucuk pimpinan di daerah ini.
Inovasi teknologi padi salibu di Nagari Tabek mampu menghasilkan 21 ton gabah per hektar. Padahal dengan tidak menerapkan inovasi salibu, produksi padi sawah petani setempat hanya berada pada kisaran 14 ton gabah per hektar.
Hal yang amat membantu petani dalam menekan biaya produksi adalah unsur panen berkali-kalinya itu. Sebab, pengolahan lahan cukup satu kali saja, begitu pula dengan persemaian dan penanaman. Sementara rentang waktu dari panen pertama ke panen berikutnya, terbilang singkat.
Keuntungan lain dari budidaya tanaman padi salibu, waktu panen relatif pendek, yakni antara 80 hingga 90 persen dari tanaman induk, kebutuhan air lebih sedikit 30 hingga 40 persen dibanding tanaman pindah, meningkatkan produksi padi melalui indeks panen, dan biaya produksi lebih rendah, karena hemat biaya pada pengolahan tanah, bibit, dan penanaman.***

0 Komentar