Mengenalkan Muhammadiyah Awali dari Enam Pertanyaan ini

Ada enam pertanyaan pokok yang harus dijawab, ketika memperkenalkan Muhammadiyah, sesuaikan dengan usianya

Irwandi saat menyajikan materi


 PAYAKUMBUH, kiprahkita.com - Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Daerah Kota Payakumbuh melaksanakan pelatihan Taruna Melati I, berbarengan dengan Latihan Dasar Kepemimpinan, Kamis (15/6), di Komplek Perguruan Madani Islami School.


Salah seorang narasumber pada kegiatan itu adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh H. Irwandi Nashir. Pada kesempatan itu, Irwandi menyebut resep jitu dalam mengenalkan Muhammadiyah, kepada pihak-pihak yang ingin tahu persyarikatan yang didirikan KHA. Dahlan tahun 1912 itu,


"Ada enam pertanyaan dasar yang mesti dikenalkan dari dini kepada siapa saja, tak terkecuali untuk pelajar dalam mempersiapkan kader Persyarikatan Muhammadiyah," ujarnya.


Enam pertanyaan itu, imbuhnya, dimulai dari ayat Quran yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah, arti kata Muhammadiyah, tempat dan waktu lahirnya, mengenal tokoh pendirinya, identitas, serta maksud dan tujuan persyarikatan Muhammadiyah.


Menurutnya, kepada siapa pun untuk mengenalkan Persyarikatan Muhammadiyah, maka awalilah dari enam pertanyaan dasar itu. Tapi pembahasannya mesti disesuaikan dengan usia dan latar kematangan pikiran dan pengetahuan mereka.


Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi itu menyebut, lahirnya Muhammadiyah didorong oleh keinginan untuk mengamalkan surah Ali Imran ayat 104.


"Ayat itu telah menginspirasi lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah, sebagai wadah untuk mengajak manusia kepada kebaikan, dan mencegah dari keburukan menurut syariat Islam," terangnya.

 

Muhammmadiyah yang artinya pengikut Nabi Muhammad SAW, kata Irwandi, kelahirannya dibidani KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912. Muhammadiyah, sebutnya, menjadikan gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar dan tajdid sebagai identitasnya.


Dua identitas ini, tegasnya, mesti dijelaskan kepada siapa saja, agar tak ada yang salah paham dengan persyarikatan yang berusia lebih satu abad ini.


Sebagai identitas Muhammadiyah, lanjut Irwandi, tajdid bermakna mencerahkan kembali pemahaman terhadap ajaran Islam, yang sebelumnya sudah diketahui, dan memberikan pengetahuan baru yang sebelumnya belum diketahui.


Irwandi mencontohkan, bagaimana umat Islam mestinya memahami pesan Surat Yunus ayat 5. Menurutnya, Surat Yunus itu bukan saja menginformasikan tentang adanya matahari dan bulan yang beredar di orbitnya, tapi juga mendorong manusia untuk mendalami ilmu, yang kemudian dengan ilmu hisab untuk menentukan kapan awal bulan.


"Menggunakan ilmu hisab untuk menentukan awal bulan, termasuk awal Ramadhan dan Syawal, adalah contoh gerakan tajdid yang dipelopori Muhammadiyah di Indonesia," jelasnya.(mus)

Posting Komentar

0 Komentar