“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu, sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya ,maka tanamlah” (HR Bukhari dan Ahmad)
Oleh Dr. Suhardin, S.Ag.,M.Pd.
Dosen Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta
KIPRAHKITA.com - Ditinjau dari teks dan konteks kutipan hadits tersebut di atas terlihat, Nabi Muhammad SAW sangat ekologis dan enviromentalis.
Beliau peduli dengan masa depan oksigen di muka bumi, baru sekarang dirasakan saat panas sudah dirasakan, kemana-mana tidak ada kenyamanan, di jalan, di rumah, di pasar, di kendaraan.
Kenyamanan dirasakan tatkala sedang di bawah pohon, baru terasa asupan oksigen sehinga membuat hawa menjadi sejuk, nyaman dan tentram.
Michelle L'Heureux, seorang peneliti di Pusat Prediksi Iklim menyebutkan, sekarang fenomena kemunculan El Nino. El Nino dapat menyebabkan sejumlah dampak, seperti meningkatnya risiko hujan lebat dan kekeringan di beberapa wilayah di dunia, sehingga dirasakan, terutama di daeraj Jabodetabek cuaca panas, dan ketika tertentu hujan ekstrem dan badai muncul.
Mungkin banyak lagi beberapa fenoma yang akan dirasakan oleh makhluk hidup di muka bumi ini, akibat dari terjadinya deforestrasi dan industrialisasi di beberapa kawasan negara maju dan berkembang.
Pada masa kenabian, Nabi Muhammad SAW belum mendapatkan masa industrialisasi dan juga belum terjadi deforestrasi, tetapi Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada ummatnya dan segenap manusia untuk membiasakan diri menanam.
Ditegaskan oleh Nabi walaupun ada informasi besok akan terjadi kiamat, jika ada sebuah tunas pohon yang siap tanam, silakan ditanamkan, sekalipun besoknya juga akan hancur akibat kiamat. Tetapi di sini Nabi memberikan signal, kiamat bukan urusan makhluk tetapi adalah urusan khalik.
Urusan makhluk adalah bagaimana menjaga dan menata ekosistem ini agar tetap sustainable, berkelanjutan dan equilibrium, berkeseimbangan antara karbon dan oksigen, sehingga makhluk yang ada di muka bumi ini aman dan tentram dalam menjalankan kehidupan.
Pesan nabi yang spektakuler ini perlu diprogramkan dalam rangka ubudiah ummatnya, sebagai bagian dari wujud nyata shalawat terhadap-Nya, sehingga shalawat bukan hanya berisi puji-pujian dalam bentuk lisan dan nyanyian, tetapi kurang peduli dengan pesan-pesan beliau untuk kemaslahatan penghuni bumi ini.
Beberapa agenda yang dibutuhkan dalam mengejawantahkan pesan habibullah, manusia agung yang termulia ini, pertama, rehabilitas hutan dan lahan, banyak lahan-lahan yang masih terlantar, tidak terurus, gundul dan mengundang longsor, maka lahan-lahan yang seperti ini perlu agaknya dilakukan gerakan penghijauan dengan berupaya menanam beberapa tanaman keras di lahan tersebut.
Kedua, kampung iklim, program yang selama ini dilakukan pemerintah berbasis RT dan RW untuk menanam, penghijauan dengan menanam beberapa tumbuhan-tumbuhan yang bermanfaat baik untuk asupan oksigen maupun kebutuhan sayur mayur untuk warga di lingkungan tersebut.
Penanaman boleh dilakukan di lahan-lahan pojokan atau juga dengan menggunakan hydroponics. Gerakan ini wujud dari urban farming yang tengah digalakkan oleh teman-teman agrotechnology. Gerakan ini coba memberikan motivasi kepada segenap warga untuk gemar menanam.
Jika ratusan jutaan masyarakat gemar menanam dengan intensitas setiap hari, per minggu dan per bulan, akan terjadi gerakan hijau di negara kita ini.
Ketiga, gerakan hutan wakaf, beberapa organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan tengah melakukan gerakan hutan wakaf. Wakaf semenjak dahulu hanya diperuntukkan pada tiga M (Masjid, Madrasah dan Maqam).
Sekarang coba diwujudkan dalam bentuk rehabilitas lahan dengan penghijauan yang sempurna dengan berusaha melakukan forestrasi, hutanisasi. Mengembangkan lahan menjadi hutan buatan untuk masa depan dengan memberikan proporsi pada tanaman konservasi berupa tanaman keras sebagai penyangga air dan penyuplai oksigen, dengan juga menanam tanaman produksi dan tanaman konsumsi, sehingga dapat melakukan subsidi silang antara tanaman konservasi dengan tanaman yang produktifitas pendek.
Keempat, konservasi yang sesungguhnya, hal ini tentu harus dilakukan oleh pemerintah, karena terkait dengan regulasi, infrastruktur dan pembiayaan, tidak mungkin dilakukan dalam bentuk gerakan, tetapi masyarakat perlu melakukan gerakan penyadaran untuk melindungi konservasi pemerintah.
Beberapa lahan-lahan tropis yang sudah dirusak oleh beberapa warga negara yang sudah terledor, perlu dikonservasi dengan tidak hanya menanam hutan, tetapi mengisi dengan berbagai satwa yang sudah terindikasi hampir punah pada lokasi tersebut agar kehidupan makhluk tetap equilibrium, seimbang dan saling mengisi kehidupan dengan aliran rantai makanannya.
Kelima, berbagai hutan milik organisasi sosial kegamanaan, milik adat dan pemerintah perlu di data dan ditata sedemikian rupa, sehingga dapat di audite dan diukur dengan menggunakan pihak ketiga yang berkompeten dalam menakar kadar oksigennya di atmosfier ini.
Kepemilikan oksigen yang dahulunya kita yakini adalah milik Allah SWT, sama dengan tanah dan air juga milik Allah SWT, tetapi belakangan ini atas penguasaan dan usaha dapat menjadi milik manusia yang dapat dikompensasi dan diperjual belikan.
Sebagian manusia yang lain yang tengah memproduksi emisi karbon dengan membangun industrialisasi yang mendatangkan pemanasan global, harus rela dan berkewajiban untuk memberikan kompensasi kepada sebagian manusia yang tengah berjuang melakukan penghijauan dan mensuplai oksigennya kepada segenap makhluk ciptaan Allah SWT.
Manusia harus saling berbagi dan saling memberikan kewajiban untuk kemaslahatan bumi satu-satunya diciptakan Allah untuk makhluk-Nya. Selamatkan penghuni bumi dari ketidak nyamanan, kehancuran alam dan isinya, kiamat urusan Allah SWT, manusia hanya tawakkal terhadap takdir Allah tersebut. Wallahu ‘alam.***

0 Komentar