Oleh Musriadi Musanif
Wartawan Utama dan Penerima Fachrodin Award 2020
SEJATINYA, dunia tulis-menulis dan jurnalisme itu berkembang hebat di Muhammadiyah. Sebab, pelopor dunia kepenulisan jauh sebelum Indonesia merdeka adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah.
Haji Fachrodin mempelopori jurnalisme di lingkungan Muhammadiyah, lalu kemudian berkembang menjadi jurnalis besar Indonesia. Pada 1914, beliau masih tercatat sebagai penulis tetap Surat Kabar Doenia Bergerak yang didirikan Mas Marco Kartodikromo.
Lalu pada 1915, Fachrodin mendirikan Majalah Suara Muhammadiyah yang hingga kini masih eksis. Perkembangannya pun sangat luar biasa, monumental, dan fenomenal.
Jurnalisme dan kepenyairan, juga dirintis dan dikembangkan tokoh Muhammadiyah bernama Hamka. Selain menjadi reporter, penulis ulasan, penulis novel dan roman, Hamka juga mendirikan dan mengelola sejumlah media massa, ada yang silih berganti, ada juga dalam waktu bersamaan mengembangkan sejumlah media.
Di Sumatera Barat, juga banyak tokoh Muhammadiyah yang menjalankan peran sebagai jurnalis sekaligus penulis. Nama RB. Khatib Pahlawan, Marjohan, H. Adi Bermasa, Shofwan Karim Elha, dan Bakhtiar jelas tak bisa lepas dari dunia kepenulisan itu.
Lalu untuk yang masih eksis seperti Ketua PDM Agam Mursyidi, Ketua PDM Payakumbuh H. Irwandi Nashir, Wakil Ketua PDM Pabasko Musriadi Musanif, Wakil Ketua PDM Tanah Datar Mustafa Akmal Dt. Sidi Ali, Wakil Ketua PDM Pasaman Barat Ardinan, Gusmizar Sitohang juga dari Pasaman Barat, dan sejumlah jurnalis muda pada media-media profesional yang berasal dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).
Penulis artikel ini juga bagian dari Muhammadiyah, karena selain menjadi anggota dan pimpinan Muhammadiyah, juga menekuni profesi sebagai jurnalis sejak 1990. Alhamdulillah, hingga kini masih aktif menulis untuk berbagai plaform media dengan kompetensi wartawan utama, dan menjadi Penerima Fachrodin Award 2020 dari Pimpinan Pusat Muhamadiyah.
Berkembangkah jurnalisme dan kepenulisan di Muhammadiyah, khususnya Sumatera Barat yang dikenal sebagai gudangnya jurnalis dan penulis? Ternyata tidak. Dunia ini hanya digeluti segelintir kader Muhammadiyah. Bahkan, dengan ratusan anggota dan simpatisan, Muhammadiyah di tanah Minangkabau ini tidak memiliki media yang kuat.
Ada beberapa tabloid yang sempat terbit, seperti Tabloid AR Soetan Mansur, Majalah Menara, dan Tabloid Kiprah. Media-media itu hanya terbit berbilang bulan. Setelah itu terpaksa hilang dari peredaran karena berbagai faktor, di antaranya rendahnya minat baca warga Muhammadiyah itu sendiri.
Soal rendahnya minat baca di Muhammadiyah ini, secara acak kerap penulis uji dengan berbagi link berita melalui grup-grup WhatsApp yang anggotanya warga Muhammadiyah. Ada grup besar yang anggotanya ribuan orang warga Muhammadiyah, ketika link informasi dibagi di situ, hanya diklik oleh lima orang saja. Sungguh ironis!
Tapi ketika link informasi atau berita di-share di grup yang anggotanya bukan warga Muhammadiyah dengan kapasityas kurang dari 150 orang, eh malah diklik oleh lebih dari 500 orang dalam waktu hanya dua jam.
Agaknya benar, kebanyakan warga Muhammadiyah masih berkutat dalam wacana oral, berbicara dari atas podium dan disimak ratusan jamaah, sebagiannya terkantuk-kantuk, yang lainnya asik ngobrol dan tidak sedikit pun menyimak paparan sang pembicara.
Kita sungguh harus menyadari, sebagian besar orang zaman sekarang hanya fisiknya saja di alam nyata, tetapi prilaku dan aktivitasnya sudah berpindah ke dunia maya. Perkembangan pesat media sosial membuat perubahan dahsyat dalam kehidupan umat manusia.
Ketika semua orang rebutan sharing informasi melalui media sosial, maka pada saat itulah distorsi informasi datang menjelang. Banyak orang yang hanya pandai sekadar berbagi informasi, padahal informasi itu tidak akurat, tidak enak dicerna, menimbulkan banyak persepsi, dan adu domba.
Hal yang sama sekali tidak benar alias hoaks, bisa berpengaruh luas di masyarakat. Semua serba kacau dan bercampur-baur. Dalam kondisi demikian, kita butuh pejuang-pejuang tangguh Muhammadiyah terjun ke duia penyebarluasan informasi yang benar dan akurat.
Bila orang Muhammadiyah tidak mau terjun ke pertarungan informasi di alam maya itu, maka informasi yang tidak benar dan memojokkan akan semakin luas. Tambahan pula, tak masanya lagi aktivitas Muhammadiyah ditutup-tutupi. Semua hal untuk kepentingan umat harus dipublikasi dengan cara yang benar dan media yang tepat.
Secara pribadi, saya sangat mengapresiasi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Dr. Bakhtiar, M.Ag. Saya kenal beliau adalah seorang penulis. Sejak masih mahasiswa, berbagai artikel yang beliau tulis, dibaca oleh ribuan orang lantaran terbit di media cetak yang pada masa itu mendominasi informasi.
Tiga tahun belakangan, beliau sudah sangat sibuk. Hampir-hampir tidak punya waktu lagi untuk menulis. Tapi beliau tetap rajin berbagi informasi. Kalau bolehlah kita membanding-banding, pada periode 2020-2022, personal PWM Sumbar yang kerap menulis dan menjadi narasumber dalam pemberitaan, mungkin hanya Bakhtiar dan Shofwan yang dikenal kalangan jurnalis di Sumbar.
Selebihnya tak diketahui nasibnya, karena tidak pernah menulis dan tidak pernah pula diwawancarai jurnalis. Pelit sangat dalam berbagi informasi.
"Ibo wak da, sagadang iko acara, indak surang juo wartawan nan maliput. Indak ciek juo media nan mambaritakan (kasihan kita, sebesar ini acara, tidak seorang wartawan pun yang meliput. Tidak satu pun media yang memberitakan)," komentar Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh H. Irwandi Nashir, M.Pd. dalam suatu percakapan dengan penulis.
Sepanjang yang penulis ketahui, Irwandi adalah satu dari dua ketua PDM di Sumbar yang dikenal luas oleh jurnalis. Beliau tidak pelit berbagi informasi. Kalau wartawan tidak datang meliput, beliau sendiri yang menulis beritanya, lalu dengan senang hati dibagikannya kepada jurnalis. Berbeda dengan Ketua PDM Mursyidi yang memang pekerjaannya adalah jurnalis profesional.
Di tingkat wilayah, selain tradisi menulis dan berbagi informasi sudah menjadi keseharian Bakhtiar, ada perkembangan baru juga akhir-akhir ini. Sekretaris PWM Drs. H. Apris, MM tercatat sangat aktif pula sebagai pemberi informasi untuk dipublikasikan kepada khalayak. Ini tentu perlu kita apresiasi.
Saya kira, Ada pertanda baik. Telah terbit fajar baru di Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Bakhtiar-Apris-dan Bendahara Muhammad Najmi, menulis dan mempublikasikan karya tulis terkait dengan kiprahnya mengelola pesyarikatan, menjadi bagian penting pertanggungjawaban terhadap publik.***

0 Komentar