Sumbar tak Punya Taman Budaya itu Aneh


PADANG, kiprahkita.com - Kalau Sumatera Barat tidak punya raman budaya, itu jelas aneh. Sebab, daerah dengan beragam budaya luhur warisan nenek moyang, dihuni tidak sedikit budayawan, mulai dari skala lokal hingga internasional.


Demikian dikatakan Anggota DPD RI H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, saat berdialog dengan 35 seniman dan budayawan Sumbar, Ahad (11/6) malam, yang rilisannya disampaikan Selasa (23/6).


Dialog dilakukan terkait dengan alih fungsi pembangunan kompleks Taman Budaya, yang dilakukan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat yang saat ini terus berlangsung, kendati mendapat penolakan dari para seniman dan budayawan.


Merespon keluhan yang disampaikan budayawan itu, Harmainy menyatakan, Taman Budaya jelas amat dibutuhkan karena para seniman dan budayawan bisa mengekspresikan banyak hal di situ.


"Taman Budaya merupakan tempat berkumpulnya para seniman dan budayawan, tempat berdiskusi dan tempat berlatih. Senian dan budayawan telah mengharumkan nama negara dan nama daerah. Jangan sampai seni dan budaya Sumatera Barat tercerabut oleh perkembangan zaman," katanya.


Menurut ketua Dewan Kehormatan DPD RI itu, perlu perhatian bersama agar Taman Budaya yang sedang dibangun, tetap memikirkan fungsi-fungsi yang selama ini telah ada.


Ada teater utama, bioskop, gallery, labor musik, tari, perpustakaan. Serta tempat rapat dan diskusi tetap ada di Jalan Diponegoro tersebut. "Aneh rasanya jika Sumatera Barat tidak punya Taman Budaya,” pungkasnya.


Para seniman menyebut, Kompleks Taman Budaya Sumbar yang terletak di kawasan Jalan Diponegoro, sejak 1974 dikenal sebagai pusat aktifitas dan kreatifitas dari para seniman, pekerja seni, sastrawan maupun budayawan dan lainnya dari seluruh Sumatera Barat.


Namun baru-baru ini, sebut mereka, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) melakukan FGD yang menjelaskan tentang rencana perubahan fungsi gedung zona C. 


Mereka mengungkapkan, dari semula sebagai kantor untuk aktifitas kegiatan perkantoran Dinas Kebudayaan dan UPTD Taman Budaya, dialihkan sebagai bangunan hotel bintang lima.


Sementara pembangunan zona B, yang semula direncanakan untuk aktifitas seniman, yang nantinya memuat bangunan teater utama, bioskop, gallery, labor musik, tari, perpustakaan, dan lain-lain tidak berlanjut pembangunannya. 


Hadir pada pertemuan itu wartawan dan sastrawan senior Khairul Jasmi, penyair Yeyen Kiram yang dikenal sebagai aktifis Cagar Budaya, koreografer tari Internasional Ery Mefri, Angga Djamar, dan penyair Syarifuddin Arifin.


Ada juga Andrea C Tamsin, Nasrul Azwar, Trikora Irianto, Jeffnil St Pandeka, koreografer Deslenda, Filhamzah, Dadang Leona, Hermawan An, teaterwan Rizal Tanjung, Muslim Noer, Fauzul elNurca, Kamal Guci, dan masih banyak lainnya.(rel/mus)

Posting Komentar

0 Komentar