Teologi Al-Kautsar


Oleh Dr. Suhardin, S.Ag.,M.Pd.

Dosen Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta


Kejayaan kafir Quraisy ditelan oleh sejarah, sementara Islam tetap bersinar dan berjaya menjadi peradaban alternatif di dunia.



KIPRAHKITA.com - Rasulullah SAW tersenyum bahagia, di tengah seriusnya bersama jamaah dalam majlis tertentu, sontak beberapa sahabat yang rada kepo bertanya, apa gerangan yang membuat sang Rasul tersenyum.


Beberapa sahabat bertanya, apakah gerangan yang membuat baginda tersenyum merekah? Rasulullah SAW orang yang bersahaja dan dekat dengan sahabat tersebut, langsung menjawab untuk menuntaskan kekepoaan sahabat.


Rasulullah membacakan dengan lengkap Al-Quran surah Al-Kausar kepada jamaah. Terjemahannya: “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sungguh orang yang membencimu dialah yang terputus” (QS. Al-Kausar [108]:1-3).

  

Surah ini tergolong surah yang sangat pendek, hanya tiga ayat, tetapi padat makna, dijelaskan tidak mungkin habis, demikian dalam dan luasnya kandungan dari tiga ayat tersebut.


Al-Kausar merupakan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia, ditafsirkan juga oleh para mufassir, bahwa al-kausar adalah telaga di akhirat yang diberikan kepada kaum muslimin menjelang masuk surga, tetapi ada sebagian umat Nabi Muhammad yang tidak bisa meminum telaga tersebut.


Tentu kita penasaran, siapa yang tidak bisa meminum air telaga tersebut, tentu itulah umat Nabi Muhammad yang sudah mendapatkan nikmat banyak, tetapi dirinya senantiasa mengeluh, tidak merasa berkecukupan dengan nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT.


Banyak sekali nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepada manusia, jikalah dihitung, tentu kita tidak akan mampu menghitungnya, jika semua kayu di dunia ini dijadikan pensil dan air lautan dijadikan tinta, untuk menuliskan nikmat yang sudah diberikan Allah, niscaya pohon dan air laut tidak cukup, apalagi sekarang pohon sudah signifikan berkurang akibat terjadinya deforestrasi. 


Manusia diberikan oleh Allah nikmat ada yang berlebih ada juga yang cukup, tetapi banyak diantara manusia merasa kurang dari apa yang sudah diberikan Allah SWT, itulah yang disebut dengan miskin, orang yang tekor, berkekurangan terus menerus.


Kaya itu bukan karena persediaan hartanya banyak, tetapi orang yang merasa cukup dan menganggap apa yang diberikan Allah itu berlebih dari kebutuhan yang ia perlukan. Dengan kecukupan dan merasa berlebih itulah ia tidak segan-segan untuk memberi kepada orang lain. 


Solusi dari penyakit merasa kurang adalah shalat dan berkurban. Shalat menjaga diri untuk dalam frekuensi ketaqwaan dan memastikan bahwa diri bersama Allah SWT, tidak berjarak sedikitpun dengan Allah SWT. Berkurban perwujudan perasaan memiliki kecukupan dan bersedia berbagi, memberi, kepada orang lain.


Pada ayat terakhir diakhiri oleh Allah SWT “Sungguh, orang yang membencimu dialah yang terputus dari rahmat Allah”.


Rasulullah yang mempunyai anak laki-laki, Qasim, Abdullah dan Ibrahim meninggal, sehingga Rasul disebut tidak memiliki pewaris karya. Muhammad tidak akan ada yang melangsungkan karyanya kemudian hari.


Agama Islam yang dibawa beliau hanya akan habis sepeninggal beliau, tatkala beliau wafat nanti agama Islam akan habis. Maka Allah SWT mengklarifikasi bahwa orang yang mengembangkan isu tersebut, karena kebenciannya terhadap Nabi Muhammad SAW tidak akan terbukti, malah dia yang akan mendapatkan hal yang sama dengan isu yang ia kembangkan tersebut. 


Muhammad SAW dijamin oleh Allah SWT bahwa “Dan Sesungguhnya engkau pasti mendapatkan pahala yang besar dan tidak putus-putusnya” (QS. Al-Qalam: ayat 3).


Abu Jahal yang mengisukan tersebut yang terputus, tidak memiliki generasi yang melanjutkan kerajaan yang sudah ia bangun dari nenek moyangnya terdahulu, dibersihkan oleh ummat Islam, sehingga kejayaan kafir Quraisy ditelan oleh sejarah, sementara Islam tetap bersinar dan berjaya menjadi peradaban alternatif di dunia. 


Dari tiga ayat tersebut terdapat problematika dan solusi, problematika yang dihadapi manusia, pertama, manusia yang merasa senantiasa kekurangan, kurang dikasih dan kurang diberi nikmat oleh Allah SWT.


Sebanyak apapun kekayaan yang sudah diraup dan ditumpuk, tetap merasa kurang dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Kekayaan ditumpuk dari berbagai sumber tanpa menghiraukan kelayakan dan kepatutan mendapatkannya, yang penting untuk persiapan tujuh turunan ke depan.


Kedua, kegalauan manusia terhadap masa depan diri, keluarga dan generasi masa depan. Manusia senantiasa khawatir terhadap masa depan keluarganya, melanjutkan cita-citanya, meneruskan usahanya.  


Problematika kehidupan manusia yang tertuang dalam ayat pertama dan ayat ketiga pada surah al-Kausar tersebut, dijawab oleh Allah SWT pada ayat kedua, “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”


problematika kekurangan dan kegalauan terhadap kelangsungan masa depan, dijawab dengan shalat dan kurban, tetapi shalat dan berkurban tersebut haruslah dilakukan dengan li rabb, untuk Tuhanmu, shalat dan kurban bukanlah dilakukan dalam konteks pencitraan, tetapi benar-benar ikhlas hanya untuk Allah SWT. Kunci dari shalat dan kurban itu adalah Allah SWT. 


Qurban yang dilakukan dalam bantuk kegiatan sosialisasi, politisasi, dan pencitraan, tidaklah memiliki nilai teologis, tetapi hanya nilai popularitas, yang menghasilkan kebaikan semu, untuk kepentingan sesaat, tetapi kegalauan yang hakiki pada dua problem di atas, kekurangan dan kerisauan tidak terjawab. 


Kepelitan manusia yang senantiasa merasa kurang, tidak mensyukuri nikmat Allah dan merasa gelisah, risau dan gundah terhadap masa depan, akan terobati dengan shalat dan berkurban, tetapi shalat dan berkurban itu haruslah dilakukan hanya demi Allah SWT, bukan untuk yang lain.***

Posting Komentar

0 Komentar