TANAH DATAR, kiprahkita.com –Pembukaan TMMD ke-127 di Nagari Pagaruyung oleh Eka Putra bukan sekadar acara tahunan, melainkan momentum yang menegaskan kembali satu gagasan besar: pembangunan Indonesia bertumpu pada desa.
Di tengah denting gong pembukaan dan penyerahan alat kerja secara simbolis, tersimpan pesan kuat bahwa kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat tetap menjadi fondasi utama kemajuan nagari.
Program Tentara Nasional Indonesia melalui Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) sejak awal memang dirancang melampaui proyek fisik. Jalan dibuka, rumah direhabilitasi, sanitasi diperbaiki, dan fasilitas umum dibangun. Semua itu penting dan nyata. Panjang jalan bisa dihitung, anggaran bisa diaudit, dan jumlah personel bisa dicatat. Namun nilai sesungguhnya dari TMMD terletak pada dampak jangka panjang yang ia tanamkan dalam kehidupan masyarakat.
Pembangunan desa bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi membangun optimisme. Jalan baru bukan sekadar akses fisik, melainkan akses menuju peluang ekonomi. Perbaikan fasilitas umum bukan hanya kenyamanan, tetapi investasi pada kualitas hidup. Ketika infrastruktur hadir, aktivitas ekonomi bergerak lebih lancar, distribusi hasil pertanian menjadi lebih efisien, dan konektivitas sosial semakin kuat.
Yang patut diapresiasi adalah penekanan pada keberlanjutan. Keberlanjutan bukan sekadar istilah, melainkan komitmen bersama. Infrastruktur yang dibangun hari ini menjadi pijakan bagi pertumbuhan ekonomi lokal esok hari. Penyuluhan yang diberikan menjadi bekal pengetahuan untuk perubahan perilaku jangka panjang. Partisipasi warga selama pelaksanaan TMMD mencerminkan bahwa pembangunan bukan milik pemerintah semata, melainkan milik masyarakat itu sendiri.
Di sinilah kekuatan terbesar TMMD: pada semangat gotong royong. Tradisi kolektif yang telah lama menjadi identitas masyarakat Minangkabau menemukan ruang aktualisasinya. Ketika warga terlibat langsung dalam proses pembangunan, rasa memiliki tumbuh secara alami. Rasa memiliki inilah yang menjadi kunci perawatan dan keberlanjutan setelah program selesai.
Penanaman pohon simbolis dalam pembukaan TMMD menghadirkan makna mendalam. Pohon tidak tumbuh hanya karena ditanam, tetapi karena dirawat bersama. Begitu pula pembangunan desa. Keberhasilan sejati tidak diukur pada hari peresmian, melainkan pada tahun-tahun setelahnya—ketika jalan tetap terpelihara, fasilitas tetap dimanfaatkan, dan ekonomi masyarakat terus bergerak maju.
TMMD ke-127 di Tanah Datar memiliki peluang besar menjadi model pembangunan kolaboratif yang berkelanjutan. Dengan integrasi antara pembangunan fisik, penguatan ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat, program ini dapat melampaui statusnya sebagai agenda rutin dan menjadi investasi sosial jangka panjang.
Karena pada akhirnya, pembangunan sejati bukan tentang cepatnya proyek diselesaikan, melainkan tentang lamanya manfaat dirasakan. Dan dalam semangat kemanunggalan TNI dan rakyat, TMMD terus membuktikan bahwa desa bukan hanya objek pembangunan—melainkan subjek utama kemajuan bangsa. TMMD*
0 Komentar