Keteladanan Orang Tua dan Pendidikan Karakter Sedekah dari Rumah ke Sekolah

PADANG PANJANG, kiprahkita.com Sekolah bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, berhitung, atau menguasai ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, sekolah adalah tempat menanamkan karakter, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan. Salah satu nilai yang terus diajarkan di sekolah adalah kepedulian sosial melalui kebiasaan bersedekah, berinfak, berwakaf, berzakat, dan memberikan sumbangan sesuai kemampuan.


Dalam Islam, sedekah bukan sekadar memberikan harta, tetapi merupakan wujud syukur kepada Allah SWT, bukti kepedulian kepada sesama, sekaligus investasi amal yang pahalanya terus mengalir. Karena itu, ketika sekolah mengajak orang tua berpartisipasi dalam kegiatan komite, membantu program pendidikan, atau memberikan sumbangan yang telah disepakati secara musyawarah dan sesuai ketentuan, sesungguhnya sekolah sedang mengajarkan nilai gotong royong dan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan anak.


Pendidikan Karakter Sedekah dari Rumah ke Sekolah


Di sinilah keteladanan orang tua menjadi sangat penting. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru di sekolah, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari di rumah. Apabila di sekolah anak diajarkan pentingnya berbagi, namun di rumah ia menyaksikan orang tuanya selalu menolak berkontribusi meskipun sebenarnya mampu, maka akan muncul kebingungan dalam diri anak. Nilai yang diajarkan guru bertabrakan dengan contoh yang diberikan orang tua.


Tentu tidak semua orang tua yang tidak memberikan sumbangan berarti kikir atau tidak peduli. Ada yang memang sedang mengalami kesulitan ekonomi sehingga tidak mampu. Kondisi seperti itu harus dihormati dan dipahami. Namun berbeda halnya apabila seseorang sebenarnya berkecukupan, memiliki penghasilan tetap, tetapi sengaja menghindari tanggung jawab sosial dengan berpura-pura tidak mampu. Sikap seperti ini justru memberikan pelajaran yang kurang baik kepada anak, yaitu bahwa menghindari kewajiban sosial dapat dibenarkan demi kepentingan pribadi.


 Anak-anak memiliki daya ingat dan kemampuan meniru yang luar biasa. Mereka akan lebih percaya pada tindakan daripada nasihat. Ketika orang tua berkata, "Rajinlah bersedekah," tetapi pada saat yang sama selalu mencari alasan agar tidak ikut membantu kegiatan sekolah, anak akan menangkap pesan bahwa ucapan tidak harus sejalan dengan perbuatan. Inilah yang dikhawatirkan menjadi pendidikan karakter yang tidak utuh.


Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak menjadi hamba yang kikir. Allah SWT berfirman:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261)


Ayat ini menggambarkan bahwa satu kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT. Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjadi sebab datangnya keberkahan.


Sebaliknya, sifat bakhil mendapat peringatan keras dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:

"Dan jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Bahkan kebakhilan itu buruk bagi mereka." (QS. Ali Imran: 180)


Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa harta yang kita miliki sesungguhnya hanyalah titipan. Yang benar-benar menjadi milik kita adalah apa yang telah kita infakkan di jalan Allah dan dimanfaatkan untuk kebaikan.


Bahkan dalam Al-Qur'an digambarkan penyesalan manusia ketika ajal telah tiba. Mereka berharap diberi sedikit penangguhan waktu agar dapat bersedekah dan memperbanyak amal saleh. Allah SWT berfirman:


"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesal),"Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Munafiqun: 10)


Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketika kesempatan telah habis, manusia baru menyadari betapa berharganya amal sedekah. Namun penyesalan itu tidak lagi bermanfaat.


Oleh karena itu, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus berjalan seiring dalam mendidik anak. Guru telah berusaha menanamkan nilai kepedulian, gotong royong, dan berbagi. Orang tua hendaknya memperkuat pendidikan tersebut melalui teladan nyata di rumah. Anak yang melihat orang tuanya ringan tangan membantu sesama akan tumbuh menjadi pribadi yang dermawan, peduli, dan memiliki empati sosial.


Persoalan sumbangan komite sekolah pun hendaknya dipandang secara proporsional. Komite sekolah bukanlah lembaga yang memungut biaya secara sewenang-wenang, melainkan wadah partisipasi masyarakat dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila ada keberatan terhadap mekanisme atau besaran sumbangan, hendaknya disampaikan melalui musyawarah, bukan dengan menghindar atau memberikan contoh yang kurang baik kepada anak.


Pada akhirnya, pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui buku pelajaran atau ceramah di kelas. Pendidikan karakter lahir dari keteladanan. Anak akan menjadi pribadi yang dermawan apabila melihat orang tuanya gemar berbagi. Anak akan menjadi jujur apabila melihat orang tuanya berlaku jujur. Anak akan mencintai sedekah apabila menyaksikan kedua orang tuanya menjadikan berbagi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


Marilah kita mendidik anak-anak bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan. Sebab keteladanan adalah guru yang paling berpengaruh. Ketika rumah dan sekolah mengajarkan nilai yang sama, insya Allah akan lahir generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.


Dalam ilmu trainer diajarkan, "berpura-pura kayalah sebanyak 21 X dalam bersedekah", memiliki jiwa yang dermawan dan keyakinan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta.


Ada sebuah pelajaran menarik dalam kehidupan. Banyak ulama dan trainer sedekah mengajarkan bahwa salah satu cara menumbuhkan mental keberlimpahan harta adalah dengan membiasakan diri memberi, bukan membiasakan diri meminta / ditiadakan bayar komite/ biaya sekolah anak.


Orang yang senantiasa membuka tangannya untuk membantu orang lain, meskipun dalam jumlah kecil, sedang melatih dirinya menjadi pribadi yang percaya bahwa rezeki berasal dari Allah SWT. Sebaliknya, orang yang selalu merasa kekurangan, meskipun hartanya banyak, sering kali hidup dalam ketakutan kehilangan sehingga enggan berbagi.


Dalam masyarakat sering terdengar ungkapan, "Bersikaplah seperti orang kaya dengan gemar memberi, maka Allah akan memampukanmu menjadi kaya yang sesungguhnya." Tentu yang dimaksud bukan berpura-pura memiliki harta berlimpah atau memaksakan diri di luar kemampuan. Maksudnya adalah menumbuhkan karakter orang kaya, yaitu suka berbagi, ringan membantu, senang melihat orang lain bahagia, dan tidak selalu menghitung untung-rugi dalam setiap kebaikan yang dilakukan. Karakter seperti inilah yang sering menjadi pintu datangnya keberkahan.


Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak menjadi hamba yang kikir. Allah SWT berfirman:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261)


Banyak orang yang secara materi berkecukupan, tetapi hidupnya terasa sempit karena hatinya dipenuhi rasa takut miskin. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang sederhana kehidupannya, namun selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk bersedekah. Anehnya, justru mereka sering merasakan ketenangan, kemudahan urusan apa saja, anak-anakmya soleh solehah, berkarakter baik, mudah diarahkan, menjaga diri dari maksiat pacaran, narkoba, pergaulan bebas, mudah shalat karena pertolongan Allah SWT.


Rezki datang meski pas-pasan dari arah yang tidak disangka-sangka. Inilah yang disebut keberkahan rezeki, sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar jumlah uang yang dimiliki.


Allah SWT menjanjikan bahwa apa yang diinfaqkan di jalan-Nya tidak akan sia-sia. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Allah akan mengganti dan melipatgandakan apa yang dikeluarkan oleh hamba-Nya untuk kebaikan. Karena itu, seorang mukmin semestinya tidak takut menjadi miskin karena bersedekah. 


Yang patut dikhawatirkan justru ketika hati menjadi keras, enggan berbagi, dan terlalu mencintai harta sehingga lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.


Sifat bakhil/kikir  mendapat peringatan keras dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:

"Dan jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Bahkan kebakhilan itu buruk bagi mereka." (QS. Ali Imran: 180)


Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa harta yang kita miliki sesungguhnya hanyalah titipan. Yang benar-benar menjadi milik kita adalah apa yang telah kita infakkan, sedekahkan, dan sumbangkan di jalan Allah dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Seperti kewajiban membayar uang sekolah, komite, SPP, uang tahunan, atau jenis apapun yang sudah disepakati bersama di sekolah tersebut.


Bahkan dalam Al-Qur'an digambarkan penyesalan manusia ketika ajalnya telah tiba. Mereka berharap diberi sedikit penangguhan waktu hidup agar dapat bersedekah dan memperbanyak amal saleh (Sholat). Allah SWT berfirman:


"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesal),"Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh (Sholat)." (QS. Al-Munafiqun: 10)


Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketika kesempatan telah habis, manusia baru menyadari betapa berharganya amal sedekah, infaq, sumbangan. Namun penyesalan itu tidak lagi bermanfaat baginya. Waktu sudah habis.


Salah satunya ayat Al-Qur'an Surah An-Nahl ayat 61:

"Dan sekiranya Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak ada satu makhluk melata pun yang ditinggalkan-Nya di bumi. Tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila ajal (waktu) mereka telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) dapat memajukannya." (QS. An-Nahl: 61)


Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan penangguhan kepada manusia untuk  beramal saleh di antaranya sedekah, infaq, sumbangan. Namun ketika waktu yang telah ditetapkan tiba, tidak ada seorang pun yang dapat menunda ataupun mempercepatnya lagi.


"maka tunggulah" atau "tunggulah sampai waktunya", ada beberapa ayat lain yang mengingatkan kita akan hal beramal saleh tersebut, misalnya:

Al-Qur'an Surah Al-An'am ayat 158

"...Maka tunggulah! Sesungguhnya kami pun menunggu."

Al-Qur'an Surah Hud ayat 122

"Dan tunggulah, sesungguhnya kami pun menunggu."

Al-Qur'an Surah Az-Zumar ayat 55

"...sebelum datang azab kepadamu secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya."


Sedekah dan pendidikan karakter, QS. An-Nahl ayat 61 sangat tepat dijadikan pengingat bahwa Allah memang memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal, tetapi kesempatan itu tidak berlangsung selamanya.


Ketika waktu yang ditetapkan Allah telah tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk menunda atau menambah amal saleh. Karena itu, jangan menunda bersedekah, infaq, sumbangan selagi Allah masih memberikan kesehatan, kelapangan rezeki, dan kesempatan hidup. Uang sekolah anak itu bisa kita angsur tiap bulan dengan zakat kita. Zakat gaji tak harus 2,5 persen. Bisa kita perbesar menjadi 3 persen, 4,5, hingga 10 persen, sesuaikan dengan besaran bulanan anak.


Bagi anak-anak, pelajaran ini sangat penting. Ketika mereka melihat orang tuanya antusias membantu kegiatan sosial di sekolah, mendukung pendidikan di sekolah, ikut berpartisipasi dalam program kemasyarakatan, dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk orang lain, mereka akan belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya diperoleh dengan menerima, tetapi juga dengan memberi. Mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.


Ketika suatu saat nanti mereka di posisi orang tua untuk anak-anak mereka, mereka pun meniru dan faham arti sedekah, infaq, sumbangan di sekolah anak mereka. Itu cucu orang tua. Keturunan orang tua. Bukankah Nabi Ibrahim berdoa untuk anak dan keturunanya agar menjadi orang sholeh.


Karena itulah, pendidikan karakter tentang sedekah, infak, zakat, wakaf, dan sumbangan sosial di sekolah tidak boleh berhenti di ruang kelas pada guru saja. Nilai-nilai tersebut harus hidup di rumah melalui keteladanan orang tua.


Anak yang dibesarkan dalam budaya berbagi akan memiliki jiwa sosial yang kuat. Ia tidak akan takut miskin karena memberi, sebab sejak kecil ia melihat bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas selalu dibalas Allah SWT dengan kebaikan yang lebih besar, baik dalam bentuk rezeki, kesehatan, ketenangan hati, maupun keberkahan hidup.


Sejarah Islam juga memberikan teladan yang sangat indah tentang semangat berbagi. Ketika Rasulullah SAW mengajak kaum Muslimin untuk berinfak demi kepentingan umat, para sahabat berlomba-lomba mengeluarkan harta terbaik mereka.


Abu Bakar Ash-Shiddiq datang membawa seluruh hartanya hingga ketika ditanya Rasulullah SAW apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab, "Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya."


Sementara itu, Umar bin Khattab membawa separuh hartanya dengan harapan dapat mengungguli Abu Bakar dalam berbuat kebajikan. Namun setelah melihat pengorbanan Abu Bakar, Umar mengakui bahwa dirinya tidak akan mampu melampaui sahabat yang mulia itu dalam kedermawanan.


Kisah ini bukan mengajarkan agar setiap orang menghabiskan seluruh hartanya, melainkan menanamkan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan sesuai kemampuan masing-masing. Orang yang mampu hendaknya memberi lebih banyak, sementara yang terbatas tetap dianjurkan untuk berbagi sesuai kesanggupannya.


Sebab yang dinilai Allah SWT bukan semata-mata besar kecilnya pemberian, melainkan keikhlasan hati dan kesungguhan dalam membantu sesama. Jika semangat para sahabat ini diwariskan kepada anak-anak melalui keteladanan orang tua dan pendidikan di sekolah, niscaya akan lahir generasi yang tidak takut berbagi, tidak diperbudak oleh harta, dan meyakini bahwa sedekah/sumbangan adalah jalan menuju keberkahan hidup, bukan penyebab kemiskinan.


Berikut cara yang perlu dilakukan orang tua untuk membantu anak sukses di sekolah, di masa depan, dunia dan akhirat.

Pertama, hargai setiap proses di sekolah. Ketika anak masuk sekolah telah dibuat kesepakatan untuk kelancaran kegiatan di sekolah perlu dana gotong royong sumabngan orang tua.

Kedua, menyediakan fasilitas belajar yang srhat di sekolah perlu dana gotong royong sumabngan orang tua.

Ketiga, bantu anak menemukan keseimbangan anatara yang haq dan bathil. Dana gotong royong sumabngan orang tua hak sekolah dan kewajiban orang tua menunaikan sesuai kemampuan.

Keempat, komunikasi dengan sekolah akan dana gotong royong sumabngan orang tua jangan ambil putusan sendiri demi karakter baik anak.

Kelima, pertahankan perspektif jangka panjang, bahwa sekolah yang bagus butuh dana gotong royong sumabngan orang tua. Maka pilihlah sekolah sesuai kemampuan finansial orang tua, jangan beri anak pendidikan karakter tidak amanah sesuai prosedur sekolah.


Jaga Diri dengan Amalan ini

Beberapa ayat dan hadist menjadi landasan bahwa sedekah/sumbangan, infak, dan zakat menjadi sebab datangnya perlindungan Allah, keberkahan harta, serta terhindarnya seseorang dari berbagai musibah. 

Namun perlu dipahami, tidak ada satu ayat yang secara harfiah berbunyi "sedekah menjaga harta", melainkan maknanya dipahami dari sejumlah dalil hadist.

Berikut dalil-dalil yang paling kuat:

1. Sedekah tidak Mengurangi Harta (Hadis Sahih)

Sahih Muslim meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

"Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim No. 2588)

Hadis ini menunjukkan bahwa secara hakikat, sedekah tidak membuat seseorang menjadi miskin. Allah justru mengganti dan memberkahinya.


2. Allah Mengganti Harta yang Diinfakkan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an QS. Saba' ayat 39:

"Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik."

Ayat ini menjadi dasar keyakinan bahwa infak tidak sia-sia.


3. Sedekah Melipatgandakan Pahala dan Keberkahan

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 Allah berfirman:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki."

Ini adalah ayat paling terkenal tentang keutamaan infak. sedekah, dalam bahasa kampungnya sumbangan.


4. Sedekah Menjadi Sebab Terhindar dari Musibah

Ada hadis yang sangat populer:

"Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak pernah dapat mendahului sedekah."

Hadis ini diriwayatkan oleh Sunan al-Baihaqi dan beberapa kitab lainnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanadnya, tetapi makna umum bahwa sedekah menjadi sebab turunnya rahmat Allah dan perlindungan dari berbagai keburukan banyak disebut dalam literatur keislaman.


5. Sedekah Memadamkan Murka Allah

Rasulullah SAW bersabda:

"Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Tuhan."

Hadis ini diriwayatkan oleh Sunan at-Tirmidzi (dengan penilaian yang diperselisihkan oleh para ulama), dan maknanya banyak dijadikan motivasi untuk memperbanyak sedekah dengan ikhlas.


6. Zakat Menjaga Harta

Dalam fikih Islam dikenal ungkapan para ulama:"Bentengilah harta kalian dengan zakat."

Ungkapan ini dinisbatkan kepada Nabi SAW dalam sebagian riwayat, tetapi status hadisnya lemah (da'if) menurut banyak ahli hadis. Meskipun demikian, maknanya sejalan dengan prinsip syariat bahwa zakat menyucikan dan memberkahi harta, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 103:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka."


Simpulan

Islam mengajarkan bahwa sedekah bukanlah penyebab kemiskinan. Rasulullah SAW menegaskan, "Harta tidak akan berkurang karena sedekah" (HR. Muslim). Bahkan Allah SWT berjanji, "Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya" (QS. Saba': 39). Karena itu, seorang mukmin tidak perlu takut kehilangan harta karena memberi. Justru dengan sedekah, infak, dan zakat, seorang hamba berharap memperoleh keberkahan (ilmu anak-anak di sekolah), perlindungan anak-anak dari pergaulan bebas, serta penggantian harta orang tua yang lebih baik dari Allah SWT. (YUSRIANA, S.Pd)*


Baca Juga

http://www.kiprahkita.com/2026/07/inna-lillahi-wa-inna-ilaihi-rajiun.html 

Posting Komentar

0 Komentar