Hamim Ilyas Dimakamkan di Klaten, Muhammadiyah: Warisan Ilmunya Akan Terus Hidup

KLATEN, kiprahkita.com Kepergian Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan dunia intelektual Islam Indonesia.


Saat prosesi pemakamannya di Klaten, Sabtu (23/5) bulan lalu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Achmad Dahlan Rais mengenang almarhum sebagai ulama yang santun, bersahaja, dan mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan pemikiran Islam yang membawa rahmat bagi semesta.


Warisan Ilmunya Akan Terus Hidup


"Kita merasa kehilangan, apalagi Muhammadiyah," kata Achmad Dahlan Rais di hadapan keluarga dan para pelayat.


Ia mengatakan, hingga akhir hayatnya Hamim Ilyas masih mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Sekitar tiga bulan sebelum wafat, almarhum juga dipercaya memimpin Badan Pembina Harian Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (BPH PUTM).


Menurut Achmad Dahlan Rais, Hamim Ilyas merupakan sosok cendekiawan Muslim yang memadukan kesalehan pribadi dengan kepedulian sosial.


"Beliau adalah seorang cendekiawan Muslim yang kesalehan pribadinya melangit namun kesalehan sosialnya mengakar kuat di bumi," ujarnya.


Ia menilai salah satu warisan intelektual terbesar Hamim Ilyas adalah gagasan Fikih Akbar, yang dirumuskan sebagai upaya menghadirkan teologi Islam rahmatan lil 'alamin, yakni Islam yang membawa kedamaian, keadilan, dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.


"Gagasan besar beliau yang paling monumental tertuang dalam karya Fikih Akbar," katanya.


Achmad Dahlan Rais juga mengenang ketenangan Hamim Ilyas di masa-masa akhir pengabdiannya. Meski kondisi kesehatan terus menurun dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit, almarhum tetap aktif berdiskusi dan menyampaikan pemikiran dengan sikap yang teduh.


"Jika berbicara, beliau selalu tenang namun pikirannya mengalir deras; kalimatnya tidak meninggi tetapi menyejukkan," tuturnya.


Menurutnya, Hamim Ilyas memandang Al-Qur'an bukan sekadar teks sejarah, melainkan pedoman yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan modern. Pandangan tersebut kemudian melahirkan gagasan fikih yang membumi dan berpihak pada perlindungan kehidupan manusia.


"Beliau membaca dan mencatat ayat-ayat Al-Qur'an bukan sekadar sebagai teks yang dipagari masa lalu, melainkan sebagai cahaya yang menuntun realitas hari ini," ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Achmad Dahlan Rais turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Ia mengajak putra-putra almarhum untuk terus mendoakan sang ayah serta mengajak seluruh warga Muhammadiyah melanjutkan cita-cita dan pemikiran yang telah diwariskan Hamim Ilyas.


"Diharapkan keluarga besar Muhammadiyah dan seluruh umat dapat meneruskan gagasan-gagasan mulia bagi keseluruhan umat dan kehidupan semesta ini," katanya.


Menutup sambutannya, Achmad Dahlan Rais mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian sehingga perlu mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.*

Posting Komentar

0 Komentar