Oleh DR. Suhardin, S.Ag., M.Pd. (Dosen UIC Jakarta)
JAKARTA, kiprahkita.com – Di tengah krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, dunia tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi, tetapi juga manusia yang memiliki karakter, spiritualitas, dan kepedulian terhadap alam. Pemanasan global, pencemaran lingkungan, penggundulan hutan, kerusakan ekosistem, hingga perubahan iklim menjadi tantangan besar yang akan diwariskan kepada generasi muda. Ironisnya, generasi yang paling merasakan dampaknya justru bukan generasi yang paling banyak menyebabkan kerusakan tersebut.
Generasi Z lahir dan tumbuh di era digital. Mereka akrab dengan internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai inovasi teknologi. Di balik kedekatan mereka dengan dunia digital, tersimpan harapan besar bahwa generasi ini mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan bumi. Banyak di antara mereka yang aktif mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan, gerakan pengurangan sampah plastik, penghijauan, hingga pelestarian alam melalui berbagai platform digital.
![]() |
| DR. Suhardin, S.Ag., M.Pd. (Dosen UIC Jakarta) |
Namun, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup dibangun hanya melalui pengetahuan atau tren media sosial. Kepedulian sejati memerlukan fondasi moral dan spiritual yang kuat. Dalam perspektif Islam, ibadah bukan sekadar hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT, melainkan juga memiliki dampak horizontal terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.
Shalat dan puasa merupakan dua ibadah utama yang mengajarkan disiplin, pengendalian diri, tanggung jawab, serta kesadaran bahwa manusia hanyalah khalifah yang diberi amanah untuk memelihara bumi. Orang yang melaksanakan shalat dengan baik akan terus diingatkan agar menjauhi perbuatan yang merusak. Demikian pula puasa melatih kesabaran, kesederhanaan, empati kepada sesama, serta kemampuan menahan hawa nafsu yang sering menjadi penyebab eksploitasi alam secara berlebihan.
Penelitian yang dilakukan terhadap 94 siswa Generasi Z di DKI Jakarta menunjukkan bahwa konsistensi menjalankan shalat dan puasa memiliki hubungan positif dengan perilaku ramah lingkungan. Semakin baik kualitas pelaksanaan kedua ibadah tersebut, semakin tinggi pula kepedulian mereka terhadap lingkungan. Hasil analisis statistik bahkan memperlihatkan bahwa ibadah shalat dan puasa memberikan kontribusi nyata terhadap perilaku ramah lingkungan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa spiritualitas bukan sekadar persoalan ritual pribadi, tetapi mampu membentuk karakter yang peduli terhadap kehidupan. Nilai-nilai ibadah diterjemahkan menjadi tindakan nyata, seperti membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, menghemat penggunaan air dan energi, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghormati seluruh makhluk ciptaan Allah SWT.
Hal ini sekaligus membantah anggapan bahwa generasi muda hanya sibuk dengan gawai dan media sosial. Faktanya, banyak Generasi Z yang justru memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan kampanye lingkungan, menggalang aksi sosial, melakukan edukasi publik, hingga menggerakkan komunitas peduli alam. Dunia digital menjadi sarana dakwah sekaligus media membangun kesadaran ekologis.
Islam sendiri telah mengajarkan konsep keseimbangan alam sejak berabad-abad lalu. Manusia diperintahkan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah menciptakannya dengan sebaik-baiknya. Karena itu, menjaga lingkungan sejatinya merupakan bagian dari pengamalan ajaran agama. Menanam pohon, menjaga kebersihan, mengurangi pemborosan, dan melestarikan alam merupakan bentuk ibadah sosial yang bernilai di sisi Allah SWT.
Oleh sebab itu, pendidikan lingkungan sebaiknya tidak hanya menekankan aspek pengetahuan ilmiah, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai-nilai spiritual. Sekolah, keluarga, masjid, serta masyarakat perlu bersinergi menanamkan bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik dan unggul dalam teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral serta kepedulian terhadap lingkungan. Kemajuan bangsa tidak akan berarti apabila diwariskan kepada bumi yang rusak dan tidak layak dihuni.
Generasi Z memiliki peluang besar menjadi pelopor perubahan tersebut. Dengan memadukan kecerdasan digital dan kekuatan spiritual, mereka dapat menghadirkan peradaban yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berkelanjutan. Shalat dan puasa bukan hanya membentuk pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga melahirkan manusia yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam sebagai amanah dari Allah SWT.
Menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan wujud nyata dari keimanan. Ketika ibadah mampu membentuk karakter yang mencintai bumi, maka lahirlah generasi yang tidak hanya dekat dengan Tuhannya, tetapi juga menjadi penjaga kehidupan bagi seluruh makhluk di alam semesta.
Shalat, Puasa, dan Kepedulian Lingkungan: Membangun Generasi Z Berkarakter Menuju Indonesia Emas 2045
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi manusia saat ini bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Perubahan iklim, banjir, longsor, pencemaran sungai, sampah plastik, hingga berkurangnya kawasan hijau merupakan dampak dari perilaku manusia yang kurang bijaksana dalam mengelola alam.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia memiliki harapan besar menuju Indonesia Emas 2045 dengan menyiapkan Generasi Z sebagai generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, moral, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Selama ini, penyelesaian masalah lingkungan lebih banyak diarahkan pada aspek teknologi, regulasi, maupun pembangunan berkelanjutan. Semua itu memang penting, tetapi tidak akan memberikan hasil yang maksimal apabila tidak dibarengi dengan pembentukan karakter manusia. Lingkungan yang lestari lahir dari perilaku manusia yang baik. Karena itu, pendidikan karakter dan spiritualitas menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang mencintai lingkungan.
Dalam Islam, manusia diangkat sebagai khalifah di muka bumi. Amanah tersebut mengandung tanggung jawab untuk memelihara, menjaga, dan memanfaatkan alam secara bijaksana, bukan merusaknya. Alam bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang harus dihormati. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan, menghemat air, merawat tumbuhan, tidak mencemari sungai, hingga mengurangi sampah merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu cara membangun karakter tersebut adalah melalui ibadah. Shalat dan puasa bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga proses pendidikan yang membentuk kepribadian seseorang. Shalat melatih kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, dan kejujuran. Lima kali sehari seorang muslim diingatkan untuk kembali kepada Allah SWT sehingga lahir kesadaran bahwa setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk tidak melakukan kerusakan terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungan.
Puasa juga memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa mendidik manusia untuk hidup sederhana, mengendalikan hawa nafsu, menghargai nikmat Allah, dan memiliki empati terhadap orang lain. Nilai kesederhanaan tersebut sangat relevan dengan gaya hidup ramah lingkungan. Orang yang mampu mengendalikan keinginannya tidak mudah berperilaku konsumtif, lebih hemat menggunakan sumber daya, serta lebih peduli terhadap kelestarian alam. Dengan kata lain, puasa membangun kesadaran bahwa bumi bukan untuk dieksploitasi, melainkan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.
Hubungan antara ibadah dan perilaku ramah lingkungan ternyata tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga telah dibuktikan melalui penelitian. Sebuah penelitian terhadap Generasi Z di DKI Jakarta menunjukkan bahwa konsistensi menjalankan ibadah shalat dan puasa memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku ramah lingkungan. Generasi muda yang memiliki kualitas ibadah lebih baik cenderung menunjukkan kepedulian yang lebih tinggi terhadap kebersihan, pelestarian tumbuhan, pengelolaan sampah, serta berbagai aktivitas yang mendukung kelestarian lingkungan. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembinaan spiritual dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam membangun budaya cinta lingkungan.
Di sisi lain, mereka juga menjadi generasi yang paling merasakan dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Karena itu, mereka memiliki posisi yang sangat strategis dalam menentukan masa depan Indonesia. Potensi tersebut harus diarahkan agar tidak hanya menghasilkan generasi yang menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan bumi.
Pendidikan lingkungan saat ini tidak cukup hanya diajarkan melalui teori di sekolah. Nilai-nilai tersebut harus dibangun melalui keteladanan di rumah, sekolah, masjid, pesantren, dan masyarakat. Membiasakan membuang sampah pada tempatnya, menghemat listrik dan air, menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan praktik sederhana yang dapat dimulai sejak usia dini. Ketika kebiasaan tersebut dipadukan dengan penguatan ibadah, maka akan lahir karakter yang kokoh dan berkelanjutan.
Bagi lembaga pendidikan Islam, penguatan spiritual dan kepedulian lingkungan seharusnya berjalan beriringan. Peserta didik tidak hanya didorong untuk menghafal Al-Qur'an atau menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari pengamalan ajaran Islam. Dengan demikian, lahirlah generasi Qurani yang unggul dalam ilmu pengetahuan, memiliki akhlak mulia, serta mampu menjadi pelopor pelestarian lingkungan.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial. Kemajuan teknologi tanpa karakter hanya akan mempercepat eksploitasi alam. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang dipadukan dengan nilai-nilai agama akan melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi manusia sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Apabila Generasi Z mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan kekuatan spiritual, maka mereka tidak hanya akan menjadi generasi yang sukses secara akademik dan profesional, tetapi juga menjadi penjaga bumi yang amanah. Dari masjid, sekolah, pesantren, keluarga, hingga ruang digital, semangat menjaga lingkungan harus terus ditanamkan sebagai bagian dari ibadah. Dengan cara itulah Indonesia akan melahirkan generasi yang beriman, berilmu, peduli terhadap alam, serta mampu mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang maju, berkelanjutan, dan diridai Allah SWT.

0 Komentar