PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Sejumlah warga di Kota Padang Panjang sudah tiga bulan ini mengeluhkan lonjakan drastis tagihan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Puncaknya per bayar 1 Mei 2026. Kenaikan yang dinilai tidak wajar karena mencapai hingga tiga kali lipat dari tagihan biasanya, sehingga memicu keresahan dan protes di tengah masyarakat. Padahal kasir bayar mengatakan kenaikan 30 persen, namun dalam praktiknya 300 persen.
Salah seorang warga, Yuria , mengaku terkejut ketika menerima tagihan air bulan ini yang mencapai Rp232.000, padahal biasanya hanya berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000. “Kami ini rumah tangga sederhana, pemakaian juga biasa saja. Tidak masuk akal kalau tiba-tiba naik setinggi itu,” ujarnya.
| Kenaikan Tarif Bikin Kaget Pengguna Mobile Banking |
Ketika dalam tiga bulan ini stay Rp80.000, Yuria masih memakluminya. namun pas dicek lewat aplikasi mobile di bulan Mei ini, malah melonjak 3X lipat. Dari Rp80.000 menjadi Rp232.000. Yang memakai air cuma berdua dengan suami beliau.
Keluhan serupa juga datang dari warga lainnya. Ada yang sebelumnya hanya membayar sekitar Rp50.000, namun kini melonjak menjadi Rp267.150. Naik 4X lipat. Bahkan, seorang pelaku usaha kuliner dilaporkan mengalami kenaikan ekstrem dari sekitar Rp1 juta menjadi Rp7 juta dalam satu bulan.
Begitupun warga yang biasa Rp26.000 menjadi Rp56.000. Ini warga yang bayar tagihan selalu ke Kantor PDAM. Sedang warga yang mengeluh sebelumnya selalu bayar online atau aplikasi mobile banking.
Salah satu warga kategori RT C juga mengeluh. Rumah ditinggal. Tak ada penghuni tapi tetap bayar Rp36.000 sebulan. Beban tambah retribusi sampah.
Warga memaklumi kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari kebocoran instalasi, hingga dugaan adanya praktik penyesuaian tarif tertentu. “Ada kemungkinan kebocoran halus, tapi banyak juga yang menduga ini akibat pencatatan yang tidak sesuai,” ungkap salah seorang warga.
Seperti Ibu Yuria, tahun 2020 karena Covid, semua anak kost pulang. Tiga bulan pasca anak kost pulang, tagihan tak pernah turun. Ibu Yuria pun protes ke perusahaan daerah tersebut. "Yang bulan ini bayar saja dulu, Bu! Bulan depan kita koreksi apakah ada kendala lain." Kata petugas. Bulan depannya turun menjadi Rp50.000-Rp80.000 sekarang.
Saat ini pun beberapa warga yang telah melakukan pengecekan langsung ke kantor PDAM mengaku mendapatkan penyesuaian tagihan setelah mengajukan komplain. Seperti Ibu Rina tetangga Yuria. tiga bulan berturut ditagih Rp150.000. Januari-Maret. Katanya ada kebocoran instlasi.
Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa terdapat ketidaksesuaian dalam proses pencatatan atau penagihan.
Warga kini berinisiatif untuk lebih aktif melakukan pengecekan mandiri, seperti memotret meter air saat petugas datang serta mencocokkan angka pemakaian sebelum melakukan pembayaran. Selain itu, mereka juga berencana mendatangi kantor PDAM secara langsung untuk meminta penjelasan resmi. Warga pun lebih memilih bayar manual lagi ketimbang memakai aplikasi mobile. "Tak diketahui berapa kubik terpakai kalau pakai mobile banking," begitu keluh mereka. Ini juga menjadi keluhan warga.
Sayangnya saat salah seorang warga ingin melihat foto kedudukan rekening airnya, ternyata semua komputer di sana sedang error karena gangguan sinyal.
“Kami berharap ada transparansi dari pihak PDAM. Jangan sampai masyarakat dirugikan karena sistem yang tidak akurat atau ulah oknum tertentu,” kata warga lainnya pula. "Harga naik oke. Tapi masak naiknya 100 persen hingga 300 persen. lebih mahal lagi dari tagihan listrik." Tambahnya.
Keterangan resmi dari pihak PDAM terkait penyebab lonjakan tagihan yang terjadi tersebut karena belum ada kenaikan sejak tahun 2010. Kos penanganan katanya Rp500.000.000 per bulan. Tagihan lama tak mampu lagi menutupi ini.. Namun, warga mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh serta perbaikan sistem. "Masak kelalaian PDAM tidak menaikkan tarif terdahulu dipikul warga sekarang." lanjutnya.
Kasus ini menjadi perhatian luas di masyarakat, terutama karena menyangkut kebutuhan dasar yang berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga.*
0 Komentar