Krisis Keteladanan dalam Kepemimpinan

Oleh Kasman Katik Sulaiman

Warga Muhammadiyah dan tinggal di Sungai Penuh..


Kasman Katik Sulaiman


SUNGAI PENUH, kiprahkita.com Pagi ini , obrolan pengunjung di Warung Pak Aji mengalir seperti biasa. 

Kopi hitam, teh manis , sampai teh telur diiringi kepulan asap rokok pengunjung khas para ahli hisab turut menghangatkan suasana pagi yang sebenarnya masih terasa dingin.


Percakapan kecil dimulai , kemudian melebar ke topik lainnya dan berangsur ramai , tiba-tiba mengarah pada satu tema yang terasa semakin di telinga: " kepemimpinan"


“Katanya harus hemat, efisien, berpihak pada rakyat kecil?” ujar seorang bapak setengah baya. “Tapi lihat saja, kebijakan dan perilakunya kok jauh dari itu.”


Yang lain mengangguk pelan. Tidak ada amarah, hanya nada getir. Seolah-olah ini bukan lagi hal yang mengejutkan, melainkan sesuatu yang sudah terlalu sering terjadi hingga terasa biasa.


Di sinilah letak persoalan kita hari ini: krisis keteladanan dalam kepemimpinan.


Kepemimpinan sejatinya bukan sekadar soal kebijakan, apalagi sekadar retorika. Ia adalah soal _keteladanan_ kesesuaian antara kata dan perbuatan. Seorang pemimpin tidak hanya diukur dari apa yang ia ucapkan, tetapi dari bagaimana ia menjalankan ucapannya itu dalam tindakan nyata.


Namun yang kerap kita saksikan justru sebaliknya. Kata-kata indah tentang efisiensi, kesederhanaan, dan keberpihakan pada rakyat seringkali berhenti sebagai slogan. Di panggung, terdengar lantang. Di lapangan, menguap tanpa jejak. Akibatnya, publik tidak lagi menilai pemimpin dari janji, melainkan dari ketidaksesuaiannya.


Fenomena ini bukan sekadar persoalan moral pribadi, tetapi sudah menjadi masalah struktural dalam kehidupan berbangsa. Ketika keteladanan hilang, maka kepercayaan publik ikut runtuh. Dan ketika kepercayaan runtuh, kebijakan sebaik apa pun akan sulit mendapat legitimasi.


Dalam perspektif nilai-nilai keislaman, _keteladanan_ adalah inti kepemimpinan. Al-Qur’an menegaskan pentingnya keselarasan antara ucapan dan tindakan. Allah SWT berfirman:


“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)»


Ayat ini bukan sekadar teguran, tetapi peringatan keras bahwa _inkonsistensi_ adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Kepemimpinan tanpa keteladanan pada akhirnya akan kehilangan ruhnya.


Lebih jauh, krisis ini juga berdampak pada masyarakat luas. Ketika pemimpin tidak memberi contoh, maka standar moral publik ikut menurun. Masyarakat menjadi permisif terhadap ketidakjujuran, terbiasa dengan inkonsistensi, bahkan mulai menganggapnya sebagai hal yang wajar. Inilah bahaya yang paling sunyi namun paling merusak.


Padahal, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan sumber daya, bahkan tidak kekurangan regulasi. Yang sering hilang justru figur yang bisa dipercaya _figur_ yang ucapannya menjadi pegangan karena tindakannya sejalan.


Kita membutuhkan pemimpin yang sederhana dalam gaya hidup, jujur dalam ucapan, dan konsisten dalam kebijakan. Pemimpin yang tidak sekadar pandai berbicara di depan publik, tetapi juga berani menegakkan apa yang ia katakan, meski itu berat bagi dirinya sendiri.


Sejarah telah menunjukkan, perubahan besar tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari keteladanan yang nyata. Ketika pemimpin memberi contoh, rakyat akan mengikuti. Ketika pemimpin menyimpang, masyarakat pun akan kehilangan arah.


Maka, membenahi krisis ini tidak cukup hanya dengan mengganti sistem atau memperbaiki aturan. Yang lebih mendasar adalah mengembalikan _etika kepemimpinan_ bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan panggung retorika.


Warung kopi itu akhirnya kembali sunyi. Percakapan beralih ke hal lain. Namun satu hal yang tertinggal: harapan sederhana dari rakyat biasa bahwa suatu saat nanti, kita tidak lagi dipimpin oleh kata-kata, tetapi oleh teladan yang nyata.*

Posting Komentar

0 Komentar