PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Pimpinan Daerah (PD) 'Aisyiyah Padang Panjang, Batipuh, dan X Koto (Pabasko) menggelar seminar bertema "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian" di Aula AR. St. Mansur Kauman Padang Panjang, Ahad (14/6/2026).
Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Milad 'Aisyiyah ke-109 in sya Allah jatuh pada tanggal 19 Juni 2026 datang. Hadir jajaran Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Pabasko, organisasi wanita Kota Padang Panjang, Pimpinan Cabang dan Ranting 'Aisyiyah se-Pabasko, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Putri tingkat daerah, serta pimpinan Amal Usaha 'Aisyiyah.
![]() |
| Seminar Milad Aisyiyah ke-109 |
Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan yang dipandu Mona Muslianti, S.Pd. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Suratmi Ilyas, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars 'Aisyiyah yang dipimpin Salmiyah, S.Pd.
Ketua Panitia Pelaksana, Fitra Lismawarti, M.Pd (Kepala SMA Muhammadiyah), dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan memperkuat peran perempuan dalam menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, mempererat persaudaraan, serta membangun budaya damai di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua PD 'Aisyiyah Pabasko, Dra. Fauziah Ahmad, dalam sambutannya menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan merupakan salah satu pilar penting gerakan 'Aisyiyah yang harus terus diperkuat di berbagai lini kehidupan.
“Melalui seminar ini diharapkan lahir pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya membangun perdamaian, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, melalui pendekatan dakwah yang berkeadaban dan berkemanusiaan,” ujarnya.
![]() |
| Anggota PD Aisyiyah Pabasko |
Kegiatan juga diisi sambutan dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pabasko serta Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Padang Panjang yang sekaligus membuka seminar secara resmi oleh Ny. Sri Wahyuni Allex Saputra.
Pada sesi diskusi panel yang dimoderatori Fitra Lismawarti, M.Pd (Kepala SMA Muhammadiyah), peserta mendapatkan berbagai perspektif mengenai dakwah kemanusiaan dan upaya mewujudkan perdamaian. Panelis pertama, Dr. Desi Asmaret, M.Ag, memaparkan materi tentang pentingnya memperkokoh dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian di lingkungan keluarga.
Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang harmonis. Oleh karena itu, nilai-nilai kasih sayang, mawaddah, rahmah, toleransi, dan penghormatan dalam keluarga akan memunculkan sakinah. Keluarga yang tenang dan damai.
Menurut Desi, keluarga yang dibangun di atas nilai-nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah tidak hanya menciptakan ketenangan bagi anggota keluarga, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang damai. Ia menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui keteladanan orang tua, komunikasi yang baik, saling menghargai perbedaan, serta penyelesaian masalah dengan musyawarah dan penuh kasih sayang. Dengan demikian, keluarga menjadi ruang pertama untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian yang akan terbawa hingga kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, panelis kedua, Dr. Endri Yenti, M.Ag, mengangkat tema perlindungan hukum bagi kelompok rentan sebagai bagian dari upaya memperkuat dakwah kemanusiaan. Ia menekankan pentingnya kesadaran hukum dan keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan perlindungan agar tercipta keadilan dan perdamaian yang berkelanjutan.
Secara Hukum (UU No. 39 Tahun 1999): Kelompok masyarakat yang mengalami hambatan dalam menikmati hak-haknya secara wajar Anak-anak dan Perempuan. Penyandang Disabilitas (Difabel). Lanjut Usia (Lansia). Masyarakat Adat/Minoritas. Pengungsi dan Korban Bencana/Konflik.
Endri Yenti menjelaskan bahwa Aisyiyah perlu memberikan Edukasi & Literasi Hukum bagi keluarga Muhammadiyah: Dai yang bertugas memberikan kesadaran hukum kepada masyarakat agar tidak menjadi korban eksploitasi. Pendampingan (Advokasi): Lembaga dakwah menyediakan bantuan hukum (LBH) bagi warga miskin atau perempuan korban kekerasan. Kontrol Sosial: Dakwah menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar (Voice for the voiceless) terhadap kebijakan pemerintah. Mediasi: Menyelesaikan konflik sosial yang melibatkan kelompok marginal melalui pendekatan agama yang persuasif.
Dakwah tidak hanya Dakwah Bil-Lisan (ceramah), tetapi bertransformasi menjadi Dakwah Bil-Hal (aksi nyata). Diskusi pun berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Seminar ditutup pada siang hari dengan harapan semangat dakwah kemanusiaan yang diusung Aisyiyah dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi keluarga Aisyiyah dan masyarakat luas.
Melalui momentum Milad ke-109 ini, 'Aisyiyah kembali menegaskan komitmennya sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang aktif berkontribusi dalam membangun kehidupan yang damai, adil, dan berkeadaban. Sebab manusia dikatakan berguna bila bermanfaat kepada manusia lain. Akhirnya Seminar Milad Aisyiyah ke-109 Bahas Dakwah Kemanusiaan dan Perdamaian Sukses terlaksana.Yusriana*


0 Komentar