Mengintip Jiwa Pengasuh: Pesantren Kauman Padang Panjang Tes Psikologi 19 Musyrif demi Jaminan Ramah Anak

PADANG PANJANG, kiprahkita.com Melindungi santri dari ancaman kekerasan tidak cukup hanya dengan memasang kamera pengawas atau membuat aturan tertulis. Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang mengambil langkah berani dengan "mengintip" kondisi psikologis para pengasuhnya. Pada Jumat (10/6/2026), sebanyak 19 orang musyrif dan musyrifah menjalani serangkaian tes psikologi ketat, sebagai bentuk pengakuan jujur bahwa ancaman terdekat bagi anak justru bisa datang dari orang-orang terdekat sekalipun. 


Tes Psikologi 19 Musyrif demi Jaminan Ramah Anak


Tes psikologi ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tes tertulis dan wawancara. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa para pendamping santri memiliki kestabilan emosi dan motivasi yang sehat, serta untuk mendeteksi sedini mungkin potensi kecenderungan terhadap penyimpangan perilaku, termasuk kekerasan seksual.


"Ancaman bisa datang dari siapa pun, termasuk orang terdekat seperti musyrif. Melalui tes ini, kami ingin memberikan jaminan keamanan kepada orang tua dan siswa bahwa mereka berada di lingkungan yang terlindungi," ujar Hilyati Fadhilla yang merupakan guru BK di Pesantren Kauman. 


Sementara itu Mudir Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, Dr. Derliana, MA, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen besar pesantren dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang berkualitas dan aman. "Menjaga kualitas tata kelola hingga di level internasional merupakan komitmen yang terus kami rawat. Kami percaya bahwa ilmu dan pengalaman akan semakin bernilai ketika dapat dibagikan dan menginspirasi lembaga lain untuk tumbuh bersama," ujarnya 


Pelaksanaan tes psikologi ini bekerja sama dengan Buk Fitri dari Lembaga Al Aly, yang memiliki kompetensi dalam asesmen psikologis. Kerja sama ini memastikan bahwa proses evaluasi berjalan profesional dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.


Langkah Pesantren Kauman ini sejalan dengan upaya berkelanjutan lembaga tersebut dalam mewujudkan satuan pendidikan ramah anak. Sebelumnya, Pesantren Kauman telah menerima kunjungan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2023 untuk meninjau implementasi Madrasah Ramah Anak (MRA) . Pada kunjungan tersebut, KPAI menekankan pentingnya pemenuhan enam komponen MRA, termasuk kebijakan ramah anak, tenaga pendidik terlatih, dan proses belajar yang mendukung tumbuh kembang anak .


Komitmen ini juga tercermin dalam berbagai program yang telah dijalankan, seperti Deklarasi Anti-Bullying dan penyediaan fasilitas ramah anak di lingkungan pesantren . Dengan dilakukannya tes psikologi bagi para musyrif, Pesantren Kauman semakin memperkuat fondasi sistem perlindungan anak di internal pesantren. Hal ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya fokus pada aspek akademik dan keagamaan, tetapi juga pada kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis seluruh santri. Upaya ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan pesantren lainnya dalam menciptakan lingkungan yang benar-benar aman dan ramah anak . (TR)

Posting Komentar

0 Komentar