PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Buku tipis ini ( 20 lembar ) ditulis oleh seorang tokoh adat yg ulama, H. Mansur Daud Dt. Palimo kayo.
Buya Dt Palimo kayo, begitu biasa beliau dipanggil, menyebutkan bahwa jauh sebelum 1900 telah muncul cikal bakal Thawalib padang Panjang, berbentuk pengajian di Surau jembatan besi, yg dipimpin oleh Abdullah Ahmad sepulangnya dari Makkah belajar dg Syekh Khatib Al Minangkabawi 4 th.
![]() |
| Sejarah Perguruan Thawalib Padang Panjang |
Waktu Abdullah Ahmad pindah ngajar ke Padang beliau digantikan oleh Syekh Daud Rasyidi ayahanda buya Dt Palimo kayo. Terus berganti2a yg memimpinnya, Syekh Abdul Latief Rasyidi, Dr Abdul Karim amrulllah ( ayahanda Hamka) Abdul Hamid Hakim angku muda. Buya Mawardi Muhammad dan seterusnya.
Di masa Inyiek Deer kemajuan Thawalib nampak sangat pesat. Belajar sudah gaya modern, pakai kelas, bangku, papan tulis dan juga buku/kitab. Sebagai pegangan para pelajar.
Masa itu sekitar th 1912 Murid2 berdatangan bukan dari tanah Minangkabau saja. Tapi dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi bahkan dari negri jiran Malaysia,Singapore dan Thailand.
Thawalib terus melakukan inovasi utk kemajuan, para guru dan murid2 Bersinergi , mereka membuat koperasi, organisasi, ( tempat latihan murid2 dalam kepemimpinan dan managmen) , debating club, perpustakaan dan penerbitan Majalah AL Munir yg dipimpin Zainuddin Labay Elyunusy, Angku Mudo Abdul Hamid Hakim dan guru2 lainnya.
Ada masa maju dan berkembang pesat, ada pula. Masa surut sampai fakum beberapa tahun.
Hal ini disebutkan Buya Dt Palimo kayo,. Ketika Thawalib di pimpinan oleh guru besar Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim tibalah zaman gelap ( hal. 13 ).
Penyebab nya waktu terjadi pemberontakan PRRI, para santri dipulangkan ke kampung masing2, guru2 juga meninggalkan sekolah. Akibatnya secara fisik bangunan tdk terurus, ada yg lapuk, Ada yg bocor bahkan ada yg roboh, begitu tulis Buya Dt. Ditambah lagi meninggal nya angku Mudo masa itu, 13 Juli 1959, lengkaplah cobaan utk Perguruan ini.
Pasca PRRI, penulis buku ini mengumpulkan beberapa org guru dan pengurus mereka mencoba berbenah dg tenaga dan keuangan yg amat terbatas, kembali membangun puing2 runtuh Dan dikumpulkan murid mulai kegiatan belajar, waktu itu hanya 23 org santri setelah lebih kurang 5 tahun pakum. Dan alhamdulillah dg niat ikhlas, dan semangat yg luar biasa terus bangkit sedikit demi sedikit tapi pasti. Thawalib kembali pada masa kejayaannya, batang tarandam kembali bangkit dibawah kepemimpinan Buya H. Mawardi muhammad dan Dt Palimo kayo serta dibantu guru2 lainnya. Indra Gamal Kuok.*
Baca Juga

0 Komentar