Delyuzar Harris
di RS Dr. Pirngadi Medan, 1987
MEDAN, kiprahkita.com –Stase Penyakit Dalam merupakan salah satu masa kepaniteraan klinik yang paling panjang, paling melelahkan, sekaligus paling membentuk diriku sebagai calon dokter. Setelah menyelesaikan posting di bagian sebelumnya, kami segera melapor ke Seksi Pendidikan Ilmu Penyakit Dalam untuk menerima pembagian bangsal, jadwal jaga, serta berbagai aturan yang harus dipatuhi selama menjalani stase. Sejak saat itu aku menyadari bahwa kami akan memasuki salah satu departemen yang paling menantang dalam pendidikan klinik.
Ketika pertama kali memasuki bangsal Penyakit Dalam RS Dr. Pirngadi Medan pada tahun 1987, aku merasa seolah-olah memasuki dunia kedokteran yang sesungguhnya. Hampir semua penyakit yang selama ini hanya kubaca di buku kini hadir di depan mata, dengan wajah, suara, penderitaan, dan harapan yang nyata.
![]() |
Pengalaman yang paling membekas justru terjadi pada hari pertamaku. Sebagai co-ass baru, malam itu aku langsung mendapat jadwal jaga malam. Tugas pertamaku bukan memeriksa pasien, melainkan mengerjakan pemeriksaan laboratorium sederhana, yaitu pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode Sahli di laboratorium kecil ruang co-ass.
Menjelang dini hari suasana bangsal mulai tenang. Tiba-tiba kulihat seorang pasien dengan perut yang sangat membesar akibat distensi abdomen mulai bernapas satu-satu, kemudian mengalami apnea. Keluarganya panik dan berteriak meminta oksigen. Senior co-ass yang bertugas segera berinisiatif mencari tabung oksigen. Namun sebelum oksigen datang, pasien telah meninggal dunia.
Belakangan kami mengetahui bahwa pasien tersebut memang berada pada stadium terminal kanker saluran cerna. Keadaan yang dialaminya bukan semata-mata masalah kekurangan oksigen, melainkan bagian dari proses akhir perjalanan penyakitnya.
Pagi harinya suasana bangsal berubah tegang. Salah seorang menantu pasien datang dengan emosi yang tak terkendali sambil mencari dokter yang dianggap bertanggung jawab. Kebetulan aku berada paling dekat dengannya. Tanpa sempat menghindar, sebuah pukulan keras mendarat di wajahku. Aku benar-benar tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti itu pada hari pertamaku di Stase Penyakit Dalam.
Keluarga yang lain segera menahan pria tersebut. Tidak lama kemudian Chief PPDS, dr. Surya Muchtar, datang menenangkan keadaan. Bersama beliau hadir pula dr. Guntur, seorang dokter militer yang sedang menjalani pendidikan spesialis. Situasi akhirnya dapat dikendalikan, dan pelaku diamankan. Pagi itu juga diadakan rapat mendadak bersama Direktur Rumah Sakit untuk mengevaluasi kejadian tersebut.
Senior co-ass mendapat teguran karena mengambil inisiatif memberikan oksigen pada pasien yang sebenarnya sedang mengalami proses terminal akibat distensi abdomen stadium akhir. Dari kejadian itu kami belajar bahwa setiap tindakan medis harus didasarkan pada penilaian klinis yang tepat, bukan semata-mata karena dorongan kepanikan.
Ketika diminta membuat laporan, aku menyatakan tidak akan menuntut orang yang telah memukulku. Bagiku, ia hanyalah anggota keluarga yang sedang kehilangan orang yang dicintainya dan tidak mampu mengendalikan emosinya. Peristiwa itu justru menjadi pelajaran yang sangat berharga mengenai pentingnya komunikasi dengan keluarga pasien, penanganan pasien terminal, serta bagaimana tenaga kesehatan harus tetap tenang dalam menghadapi situasi krisis.
Setelah peristiwa tersebut, kegiatan berlangsung sebagaimana biasanya. Setiap pagi kami sudah berada di Bangsal VIII sebelum matahari benar-benar meninggi. Kami memeriksa keadaan umum pasien, tanda-tanda vital, menyiapkan status, mempelajari hasil laboratorium, membaca foto rontgen, menelaah hasil EKG, kemudian mengikuti visite bersama para konsulen.
Setiap visite selalu menghadirkan ketegangan tersendiri. Kami harus mampu menjelaskan diagnosis, diagnosis banding, patofisiologi penyakit, hingga alasan memilih terapi tertentu. Sebelum memasuki stase ini kami sudah sering mendengar cerita dari senior.
"Kalau ronde bersama dr. Sutadi, bersiaplah. Kalau tidak belajar, habislah."
Nama beliau bahkan memiliki julukan khusus di kalangan mahasiswa, "Koyan dr. Sutadi", karena ketelitian dan kedalaman pertanyaannya.
Begitu pula bila visite dipimpin dr. Kariman Sudin. Beliau terkenal tegas. Bila jawaban kami tidak memuaskan, status pasien bisa saja dilempar sebagai bentuk teguran. Namun siapa pun yang mampu menjawab dengan baik sering memperoleh penghargaan luar biasa, bahkan ada yang dibebaskan dari ujian akhir.
Di antara para konsulen, dr. Mangara Silalahi juga sangat ditakuti oleh mahasiswa co-ass karena beliau sangat keras, disiplin, dan suka bertanya tentang semua hal.
Setiap konsulen memiliki kekhasan masing-masing. Dr. Bachtiar Fanani sangat mendalami kasus-kasus keganasan. Dr. Pangarapen Tarigan dan dr. Lukman Hakim dikenal sebagai guru terbaik dalam penyakit hati dan saluran cerna. Kepala Ruangan, dr. Bachtiar Panjaitan, hampir setiap ronde meluangkan waktu mengajarkan kami langsung di sisi tempat tidur pasien. Penjelasan beliau sederhana, tetapi sangat mudah dipahami dan selalu melekat dalam ingatan.
Untuk penyakit kardiovaskular kami banyak belajar dari dr. Adin Sutan Bagindo dan dr. Reynaldi Harun. Hipertensi beserta komplikasinya diajarkan dengan sangat sistematis oleh dr. Harun Rasyid Lubis. Penyakit infeksi tropis menjadi bidang yang sangat dikuasai dr. Kariman Sudin. Penyakit autoimun seperti lupus banyak kami pelajari dari dr. Azhar Tanjung. Bidang pulmonologi dibimbing oleh dr. Rusli Pelly, yang membuatku merasa lebih dekat karena beliau berasal dari daerah yang sama denganku. Saat bertugas di ICCU kami mendapat bimbingan dari dr. Sutomo Kasiman yang berwibawa namun sangat sabar mengajar. Sedangkan pasien diabetes melitus umumnya berada di bawah bimbingan dr. Syafii Piliang maupun dr. Aisyah.
Bangsal Penyakit Dalam benar-benar menjadi laboratorium kehidupan. Hampir setiap tempat tidur menghadirkan pelajaran yang berbeda. Ada pasien diabetes melitus dengan kaki diabetik, pasien sirosis hati dengan asites masif, pasien hepatitis yang tampak kuning seluruh tubuhnya, pasien gagal ginjal yang menunggu hemodialisis, pasien hipertensi dengan stroke, penyakit jantung, lupus, hingga berbagai penyakit infeksi tropis yang pada masa itu masih sangat banyak dijumpai.
Di sinilah aku mulai memahami bahwa seorang internis tidak mengobati satu organ, tetapi memandang manusia sebagai satu kesatuan yang utuh. Sesak napas bisa berasal dari paru, jantung, ginjal, anemia, maupun gangguan metabolik. Demam yang tampak sederhana dapat menjadi petunjuk berbagai penyakit yang sangat berbeda. Semua gejala harus dirangkai menjadi satu kesimpulan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pencitraan.
Aku juga masih mengingat saat pertama kali mempresentasikan kasus di depan para konsulen. Tangan terasa dingin, suara bergetar, dan setiap pertanyaan terasa seperti ujian kehidupan. Namun justru dari koreksi-koreksi itulah aku belajar berpikir sistematis dan ilmiah.
Jaga malam mengajarkan arti tanggung jawab. Pasien dapat sewaktu-waktu mengalami syok, penurunan kesadaran, henti jantung, atau gagal napas. Dalam situasi seperti itu kami harus bertindak cepat sambil tetap menjaga ketenangan.
Namun pelajaran terbesar bukanlah ilmu penyakitnya, melainkan tentang manusia. Banyak pasien berasal dari keluarga sederhana yang datang dengan harapan sembuh. Ada yang tetap tersenyum meski menahan nyeri. Ada keluarga yang bergantian menjaga tanpa pernah mengeluh. Dari mereka aku belajar bahwa empati sering kali sama berharganya dengan obat yang kami berikan.
Di stase ini pula aku memahami bahwa tidak semua penyakit dapat disembuhkan. Ada kalanya tugas dokter bukan lagi menyembuhkan, melainkan mengurangi penderitaan dan mendampingi pasien hingga akhir hayatnya dengan penuh hormat dan kasih sayang.
Ketika tiba saatnya ujian akhir stase, aku diuji oleh dr. Muharman Idham dengan sebuah kasus Diabetes Melitus. Alhamdulillah aku dapat menjawab dengan baik dan memperoleh nilai yang sangat memuaskan. Nilai itu tentu membahagiakan, tetapi jauh lebih berharga adalah pelajaran yang kuterima selama beberapa bulan berada di Departemen Penyakit Dalam.
Stase Penyakit Dalam di RS Dr. Pirngadi Medan pada tahun 1987 menjadi salah satu fondasi terpenting dalam perjalanan hidupku sebagai seorang dokter. Di sanalah aku belajar bahwa mendiagnosis penyakit memerlukan ketajaman ilmu dan logika, tetapi menyembuhkan manusia membutuhkan hati yang penuh kasih, kesabaran, kerendahan hati, serta kemampuan memahami penderitaan orang lain. Pelajaran itu terus kubawa sepanjang perjalanan profesiku hingga hari ini. Delyuzar Harris
Baca Juga

0 Komentar