Panas Ekstrem dan Teologi Al-Infithār: Ketika Krisis Iklim Menjadi Cermin Tanggung Jawab Manusia

Oleh: Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd. (Dosen UIC Jakarta)


JAKARTA, kiprahkita.com Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi fenomena yang semakin mengkhawatirkan, yakni meningkatnya suhu bumi yang memicu terjadinya panas ekstrem di berbagai negara, termasuk Indonesia.


Suhu udara yang terus memecahkan rekor bukan lagi sekadar persoalan musim kemarau yang lebih panjang atau matahari yang terasa lebih terik. Fenomena ini merupakan bagian dari krisis iklim global yang dipicu oleh aktivitas manusia sendiri.


Pemanasan global telah mengubah keseimbangan alam sehingga berbagai bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi, mulai dari kekeringan, kebakaran hutan, gagal panen, hingga meningkatnya risiko penyakit akibat suhu tinggi.





Indonesia memang berada di kawasan tropis sehingga masyarakat telah terbiasa dengan cuaca panas. Namun, kondisi yang terjadi saat ini berbeda dengan keadaan beberapa dekade lalu. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa suhu maksimum di beberapa wilayah Indonesia telah mencapai lebih dari 37 derajat Celsius. Angka tersebut tidak hanya membuat masyarakat merasa tidak nyaman, tetapi juga mengancam kesehatan, produktivitas kerja, ketahanan pangan, bahkan ketersediaan air bersih.


Di balik fakta ilmiah tersebut, terdapat satu pertanyaan penting yang layak direnungkan. Apakah panas ekstrem hanyalah persoalan sains dan teknologi, ataukah ia juga mengandung pesan moral dan spiritual bagi manusia?


Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa pemanasan global terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Karbon dioksida, metana, dan berbagai gas lainnya dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, aktivitas industri, transportasi, pembukaan hutan, serta gaya hidup manusia yang boros energi. Gas-gas tersebut menahan panas matahari sehingga suhu bumi terus meningkat.


Proses ini sebenarnya menyerupai fungsi selimut. Selimut tidak menciptakan panas, tetapi menghambat keluarnya panas tubuh. Demikian pula gas rumah kaca. Semakin tebal "selimut" tersebut, semakin sulit panas bumi dilepaskan ke luar angkasa. Akibatnya, suhu rata-rata bumi terus naik dan cuaca menjadi semakin tidak menentu.


Namun, ilmu pengetahuan hanya menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi. Agama memberikan jawaban mengapa manusia harus peduli terhadap fenomena tersebut.


Al-Qur'an melalui Surah Al-Infithār menggambarkan bahwa alam semesta memiliki keteraturan yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Langit, bumi, lautan, dan seluruh isi alam berjalan sesuai hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Ketika keseimbangan itu terganggu, manusia diingatkan bahwa tidak ada satu pun sistem di bumi yang benar-benar abadi.


Ayat-ayat Al-Infithār memang berbicara tentang hari kiamat, saat langit terbelah, bintang-bintang berjatuhan, dan lautan meluap. Akan tetapi, sebelum datangnya hari akhir tersebut, manusia telah lebih dahulu menyaksikan berbagai tanda rapuhnya keseimbangan alam. Perubahan iklim, panas ekstrem, kekeringan, banjir, hingga kebakaran hutan menjadi pengingat bahwa alam memiliki batas kemampuan dalam menanggung beban eksploitasi manusia.


Dalam perspektif Islam, manusia bukan pemilik bumi. Manusia hanyalah khalifah yang diberi amanah untuk mengelola dan memakmurkannya. Amanah berarti hak selalu berjalan bersama tanggung jawab. Ketika manusia mengambil hasil hutan tanpa menanam kembali, membakar bahan bakar fosil tanpa mengurangi emisi, membuang limbah ke sungai, atau mengubah kawasan hijau menjadi beton tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan, maka sesungguhnya manusia sedang mengkhianati amanah tersebut.


Fenomena panas ekstrem menjadi bukti bahwa kerusakan lingkungan tidak pernah berhenti pada pelaku utamanya. Dampaknya dirasakan oleh seluruh masyarakat, bahkan oleh generasi yang belum lahir. Anak-anak hari ini mungkin akan hidup di dunia yang lebih panas, lebih kering, dan lebih rentan terhadap bencana dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, persoalan perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga persoalan keadilan antargenerasi.


Al-Infithār juga mengingatkan bahwa setiap amal manusia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan. Pesan ini memberikan makna yang sangat relevan dalam konteks krisis iklim. Setiap tindakan manusia meninggalkan jejak, termasuk jejak karbon. Apa yang hari ini dianggap sebagai keuntungan ekonomi sesaat dapat berubah menjadi beban lingkungan yang harus ditanggung masyarakat luas.


Oleh sebab itu, keimanan tidak cukup diwujudkan dalam ibadah ritual semata. Keimanan juga harus tercermin dalam kepedulian terhadap bumi. Menghemat energi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga hutan, menggunakan transportasi ramah lingkungan, menghemat air, dan mendukung kebijakan pembangunan berkelanjutan merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.


Di sisi lain, pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama besar. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Dunia usaha harus menerapkan praktik industri yang lebih ramah lingkungan. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menanamkan pendidikan lingkungan kepada peserta didik sejak dini. Sementara masyarakat harus membangun budaya hidup yang lebih sederhana, hemat energi, dan tidak berlebihan dalam mengonsumsi sumber daya alam.


Krisis iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau satu kelompok saja. Ia membutuhkan kerja sama seluruh umat manusia. Semakin cepat perubahan perilaku dilakukan, semakin besar peluang bumi mempertahankan keseimbangannya.


Pada akhirnya, panas ekstrem bukan sekadar peristiwa meteorologi yang dicatat oleh termometer. Ia adalah alarm yang mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam sedang mengalami gangguan serius. Al-Qur'an melalui Surah Al-Infithār mengajarkan bahwa keseimbangan alam adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah, sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan bagaimana keseimbangan itu dapat rusak akibat ulah manusia.


Karena itu, menyelamatkan bumi bukan hanya tugas para ilmuwan atau pemerintah, melainkan juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral setiap manusia. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan, menjaga masa depan generasi berikutnya, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat terbaik bagi seluruh makhluk-Nya.


Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Posting Komentar

0 Komentar