JAKARTA — Dialog kebangsaan yang menghadirkan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berlangsung dalam suasana penuh kesantunan dan keakraban. Namun, forum yang semula membahas persoalan kebangsaan itu berubah menjadi momen mengharukan ketika sejumlah kepala daerah menyampaikan kegelisahan dan kondisi yang mereka rasakan di daerah.
Dialog tersebut berlangsung secara terbuka dan tidak tertutup bagi publik. Bahkan, peserta diperbolehkan merekam jalannya pertemuan. Dialog dipandu Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya.
Kehadiran SBY sebagai tokoh bangsa menghadirkan suasana tersendiri. Dengan gaya penyampaian yang santun dan berwibawa, SBY menyampaikan pandangan kebangsaan yang dinilai menyentuh persoalan mendasar yang sedang dihadapi para kepala daerah.
Materi yang disampaikan seolah menjadi ruang bagi para kepala daerah untuk menyampaikan beban yang selama ini mereka rasakan. Tanpa direncanakan, suasana dialog kemudian berubah menjadi penuh haru.
Sejumlah kepala daerah tak mampu menahan air mata. Beberapa di antaranya bahkan tampak terisak ketika menyampaikan kondisi daerah masing-masing.
Suasana tersebut bukan lagi sekadar persoalan kepentingan pribadi maupun ego daerah. Yang muncul adalah kegelisahan tentang Merah Putih, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta kondisi daerah sebagai salah satu penopang utama persatuan bangsa.
Setelah dua kepala daerah dari kawasan Timur menyampaikan pesan yang juga mengundang keharuan, kesempatan berbicara kemudian diberikan kepada salah seorang kepala daerah dari Riau.
Dengan suara yang sudah diliputi kelelahan dan emosi, ia menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi. Tentang langkah yang seolah tidak pernah berhenti, perjuangan yang terus dilakukan, hingga upaya mengetuk berbagai pintu untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.
Ia juga mengangkat sejarah panjang Sultan Siak, termasuk sumpah setia dan pengorbanan yang diberikan untuk Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Di tengah suasana yang semakin hening, ia menyampaikan sebuah kalimat yang kemudian terasa begitu kuat.
“Kami kini hanya meminta apa yang menjadi hak rakyat Siak saja. Tidak lebih...”
Air mata pun tak terbendung. Seperti kepala daerah sebelumnya, tangis pecah di tengah ruangan. Tidak ada yang buru-buru menyodorkan tisu. Seolah seluruh peserta memberikan ruang agar suara dan perasaan itu dapat disampaikan hingga tuntas.
Tangisan tersebut bukan sekadar ekspresi pribadi. Ia menjadi gambaran keresahan daerah yang berharap persoalan mereka tidak berhenti sebagai laporan administratif, tetapi benar-benar sampai ke ruang pengambilan keputusan di tingkat nasional.
Terlebih, SBY memiliki kedekatan historis dengan Siak. Ia merupakan satu-satunya Presiden Indonesia yang pernah menginjakkan kaki di Negeri Istana saat meresmikan Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.
Dalam kesempatan tersebut, SBY menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin melakukan intervensi terhadap pemerintahan saat ini. Sebagai mantan Presiden, ia memilih untuk tidak mengkritik atau melakukan cawe-cawe.
“Saya tidak mau cawe-cawe. Tidak pantas untuk seorang mantan Presiden mengkritik. Saya tidak akan melakukan itu. No way,” ujar SBY.
Ia mengatakan, saat ini dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis buku puisi dan melukis. Namun demikian, SBY mengaku memahami keresahan mengenai kondisi daerah yang menurutnya telah disampaikan oleh banyak pihak sejak tahun lalu.
Menurutnya, demi kepentingan bangsa, berbagai persoalan tersebut perlu dicarikan jalan agar dapat disampaikan dan ditemukan solusi bersama.
“Tidak boleh ada kemacetan komunikasi dan seolah tidak terjembatani. Saya nanti coba berpikir bagaimana caranya,” kata SBY.
SBY juga mengajak para kepala daerah untuk tetap tabah dan tidak menyerah dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Ia meminta para kepala daerah tetap setia menjalankan perjuangan, sembari mengingatkan bahwa harapan masih selalu ada.
“Tetaplah tabah. Jangan menyerah. Jangan frustrasi. Masih ada harapan,” pesan SBY.
Kalimat berikutnya kemudian membuat suasana kembali berubah haru ketika SBY hendak menyampaikan salam kepada masyarakat di daerah.
“Sampaikan salam saya untuk seluruh rakyat di dae...,” ujar SBY dengan suara yang tiba-tiba terbata-bata.
Dari barisan terdepan, perubahan nada suara itu terlihat jelas. SBY kemudian segera meletakkan mikrofon.
Pertemuan yang awalnya dirancang sebagai dialog kebangsaan akhirnya menjadi ruang penitipan kegelisahan para kepala daerah. Mereka berharap suara daerah tidak terhenti di tengah perjalanan, tetapi dapat tersampaikan ke ruang-ruang pengambilan kebijakan nasional.
Di balik suasana haru tersebut, terselip pesan penting bahwa pembangunan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi daerah. Ketika daerah menghadapi persoalan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kepentingan administratif pemerintahan daerah, melainkan juga keberlangsungan pelayanan kepada masyarakat dan kokohnya persatuan Indonesia.
Dialog bersama SBY itu pun meninggalkan satu pesan kuat: di tengah beratnya perjuangan daerah, harapan untuk menemukan jalan keluar masih tetap ada.
0 Komentar