Ada banyak cara seorang pemimpin menunjukkan kebesarannya.
Ada yang datang dengan iring-iringan panjang. Ada yang selalu dikelilingi protokol. Ada pula yang langkahnya harus dipersiapkan sedemikian rupa agar tidak bersentuhan dengan kerumunan.
Namun, ada pula pemimpin yang kebesarannya justru terlihat dari hal yang sangat sederhana: berjalan kaki.
Pemandangan sederhana itu terlihat ketika Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menghadiri rangkaian kegiatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.
Dari lokasi kedatangan menuju tempat kegiatan, beliau memilih berjalan kaki sekitar 500 meter.
Lima ratus meter mungkin bukan jarak yang istimewa. Bagi sebagian orang, jarak itu bahkan terasa sangat pendek. Tetapi dalam dunia kepemimpinan, terutama bagi seorang tokoh nasional yang memiliki posisi penting, keputusan untuk berjalan kaki di tengah kesibukan agenda justru menghadirkan makna yang lebih dalam.
Tidak ada jarak yang dibuat-buat.
Tidak ada kesan bahwa jabatan harus selalu menghadirkan perlakuan istimewa.
Yang terlihat hanyalah seorang pemimpin berjalan menuju tempat yang dituju.
Di situlah kesederhanaan menemukan maknanya.
Prof. Haedar Nashir tidak perlu banyak kata untuk menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejatinya tidak harus berjarak dengan masyarakat. Kadang-kadang, pesan kepemimpinan justru lebih kuat disampaikan melalui tindakan kecil yang dilakukan tanpa banyak publikasi.
Berjalan kaki sekitar 500 meter menuju lokasi Muktamar NU juga dapat dibaca sebagai simbol penghormatan.
Muhammadiyah dan NU adalah dua kekuatan besar umat Islam Indonesia. Keduanya memiliki sejarah panjang, tradisi intelektual, jaringan pendidikan, sosial, dan dakwah yang sangat luas. Perbedaan tradisi dan corak gerakan tidak seharusnya menjadi tembok yang menjauhkan.
Justru pada titik-titik tertentu, keduanya dapat berjalan beriringan untuk kepentingan umat dan bangsa.
Hari itu, langkah kaki seorang Ketua Umum PP Muhammadiyah menuju arena Muktamar NU seolah menghadirkan simbol sederhana tentang hal tersebut.
Berjalan mendekat, bukan menjaga jarak.
Ada sesuatu yang menarik dari kesederhanaan seorang pemimpin. Ia tidak selalu lahir dari keadaan terpaksa. Justru sering kali merupakan pilihan sadar.
Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi tetapi tetap mampu menempatkan dirinya secara sederhana menunjukkan bahwa jabatan tidak harus mengubah cara seseorang menghargai kehidupan.
Sebab jabatan adalah amanah, bukan mahkota.
Kekuasaan adalah tanggung jawab, bukan alasan untuk mendapatkan keistimewaan.
Dan kepemimpinan bukan tentang seberapa jauh orang lain harus mendekat kepada kita, tetapi seberapa jauh kita bersedia melangkah mendekati orang lain.
Lima ratus meter itu akhirnya bukan lagi sekadar jarak.
Ia menjadi sebuah pelajaran kecil tentang humble leadership—kepemimpinan yang tidak kehilangan kerendahan hati ketika berada di puncak organisasi.
Di tengah zaman ketika citra sering kali lebih cepat daripada substansi, tindakan sederhana seperti berjalan kaki justru terasa menyegarkan.
Tidak spektakuler.
Tidak gaduh.
Tidak membutuhkan panggung.
Tetapi mungkin justru karena itulah ia memiliki pesan yang kuat.
Bahwa menjadi besar tidak harus selalu terlihat besar.
Bahwa seorang pemimpin tidak kehilangan wibawa hanya karena berjalan kaki.
Dan bahwa kesederhanaan bukan tanda berkurangnya kehormatan.
Sebaliknya, bagi seorang pemimpin, kesederhanaan adalah salah satu cara paling jujur untuk menunjukkan bahwa dirinya tetap manusia biasa yang sedang menjalankan amanah luar biasa.
Lima ratus meter telah ditempuh.
Namun pesan dari langkah sederhana itu mungkin jauh lebih panjang daripada jaraknya.
Ia berbicara tentang keteladanan, tentang penghormatan, tentang persaudaraan, dan tentang bagaimana seorang pemimpin besar tetap memilih untuk berjalan dengan sederhana.
Sebab terkadang, langkah kaki seorang pemimpin mampu menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam daripada pidato panjang.
Inilah kesederhanaan Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M. Si (Ketum PP. Muhammadiyah Rela Jalan Kisaran 500 m Menuju Lokasi Muktamar NU Ke-35 PP. Bahrul Ulum Jombang*

0 Komentar