Medan Kota Hamka Mengawali Sukses Sebagai Wartawan

Catatan MUSRIADI MUSANIF

(Wartawan Utama)


USAI menghadiri Kongres Muhammadiyah di Semarang pada tahun 1923, pada tahun 1924 Prof. Dr. Hamka kembali ke Padang Panjang.


AR Soetan Mansoer yang telah menjadi petinggi Muhammadiyah di Pekalongan, dan Haji Mukhtar yang menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, turut pula bersama beliau.


Kedua orang itu, sebenarnya bertujuan hendak menghadiri Kongres Daerah Muhammadiyah Sibolga. Pada kongres itu, Hamka terpilih pula menjadi anggota Majlis Konsul Muhmmadiyah Sumatera Tengah.


Posisi ini beliau pegang hingga permulaan tahun 1936, saat beliau pindah ke Medan untuk mengelola sebuah penerbitan pers berbentuk majalah dengan nama Pedoman Masyarakat.


Selain itu, selama merantau di Medan, Hamka juga aktifkan diri di Muhammadiyah Sumatera Timur. Putra ketiga beliau H. Rusydi Hamka, dalam catatan beliau tentang Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka yang diterbitkan Pustaka Panjimas, Jakarta, 1983, bercerita panjang lebar tentang dinamika kehidupan mereka selama berada di Medan.


Satu hal yang pasti, kemiskinan hidup akibat penjajahan Belanda. “Bagi Buya Hamka, Medan adalah kota yang penuh kenang-kenangan. Dari kota ini dia memulai melangkahkan kakinya, menjadi sorang pengarang yang melahirkan sejumlah novel dan buku-buku agama, falsafah, tasawuf, dan lain-lain," katanya.


BACA JUGA


Di sini pula, jelas Rusydi, dia beroleh sukses sebagai wartawan dengan majalah Pedoman Masyarakat. Tapi di sini pula dia mengalami kejatuhan yang sangat menyakitkan. Hingga bekas-bekas luka yang membuat dia meninggalkan kota ini, menjadi salah satu pupuk yang menumbuhkan pribadinya di belakang hari.


Sebenarnya, Medan hanyalah kota yang menjadi tempat bertolak bagi Hamka menuju Mekah ketika beliau masih muda. Sementara Tanah Deli, merupakan tempat bagi beliau untuk mengadu untung dalam arti yang sebenarnya.


Di Deli pada waktu itu, saat kembali dari Mekah, Hamka sempat menjadi guru sebuah perkebunan tak berapa jauh dari Tebing Tinggi, kampung kecilnya bernama Bajalinggai.


Kembali ke cerita kepengarangan, bakat Hamka benar-benar tumbuh dan berkembang ketika beliau merantau ke Medan. Informasi ini bisa ditelusuri dari beberapa dokumen, baik yang beliau tulis sendiri dalam buku Kenang-kenangan Hidup maupun yang ditulis orang lain, misalnya dalam buku Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka.


Hamka memperkukuh eksistensinya sebagai penulis seiring dengan hadirnya angkatan Pujangga Baru yang sebagian dari mereka bertempat tinggal di Jakarta dan Medan.


Sukses Hamka dalam menghasilkan berbagai karya tulis fenomenal hingga saat ini, sebenarnya tak bisa dilepaskan dari tingginya bakat beliau di bidang tulis-menulis.


Bakat itu sendiri sudah mulai terlihat tatkala Hamka masih tinggal di Padang Panjang dalam usia 17 tahun. Sebanyak tiga jilid buku Khatibul Ummat, di usia sweet seventeen tersebut berhasil beliau selesaikan dengan baik.


Tak lama setelah itu, Hamka menulis roman berbahasa Minang dengan tulisan Arab Melayu, Si Sabariyah, yang menuai sukses besar pada zamannya. Roman Si Sabariyah mengalami tiga kali naik cetak.


Cara beliau menceritakan kisah dalam roman itu menarik minat banyak orang. Hamka pernah menjelaskan kepada Rusydi, berkat honor yang beliau kumpulkan dari menulis buku itulah, ‘modal nikah’ dengan Siti Raham beliau perdapat.


Di majalah Pedoman Masyarakat, Hamka memegang posisi sebagai redaktur. Karena tugasnya inilah, beliau bisa berkenalan dengan banyak pengarang yang telah punya nama.


Sejumlah penulis muda yang kelak kemudian hari dikenal sebagai pengatang hebat pun bertemu dengan beliau, sebutlah misalnya penyair nasional A. Hasjmi, OR Mandank, Samadi dengan nama asli Anwar Rasyid, Bandaro, Dada Mauraxa, Yoesoef Syoe’ib dan lain-lain.


Untuk penulis-penulis bidang politik yang sempat beliau kenal di antaranya Yunan Nasution dan Gazali Hasan.


Rusydi menyebut, di zaman Hamka memulai debutnya di bidang jurnalistik dan karang-mengarang itu, persisnya di rentang waktu 1930-an hingga 1940-an, Medan dan Jakarta sebenarnya telah tumbuh menjadi dua kota tempat dunia intelektual mulai berkembang dengan baik.


Sejumlah penerbit telah hadir di Medan yang umumnya banyak menerbitkan buku-buku roman, sastra dan tentang agama Islam, di antaranya Firma Cerdas, Pustaka Antara, dan Pustaka Islamiyah.


Sementara pada waktu bersamaan, di Jakarta telah hadir Balai Pustaka yang didirikan dan menjadi milik pemerintah Penjajah Belanda. Ada pula majalah Pujangga Baru yang memegang posisi sebagai media intelektual hasil didikan barat.


Prof. Teew, menurut Rusydi, termasuk salah seorang ilmuwan hebat yang menyatakan, pada saat itu Hamka berada di peringkat pertama pengarang-pengarang hebat yang ada di Medan.


Sayangnya, para penulis hebat dari Medan tidak diperhitungkan oleh kritikus sastra modern Indonesia, sehingga mereka tidak dimasukkan ke dalam angkatan Balai Pustaka seperti Marah Rusli, Abdul Muis dan Nur Sutan Iskandar maupun angkatan Pujangga Baru seumpama Sutan takdir Alisyahbana, Sanusi Pane dan Amir Hamzah.


Tapi, lanjutnya, pernahkah dikaji tentang betapa besarnya peranan pengarang-pengarang di Medan kala itu dalam mengembangkan Bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa kesatuan?


“Buya Hamka berpandangan bahwa Bahasa Indonesia dialek Medan adalah yang terbaik penggunaannya dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Baik susunan tata bahasanya, maupun pengucapannya pada lidah orang Medan," terang Rusydi.


Oleh sebab itu, imbuhnya, pengarang-pengarang asal Minangkabau yang tinggal di Medan, karena kayanya orang Minang dengan petatah-petitih, mempunyai kemungkinan dan potensi yang besar untuk berkembang sebagai seorang pengarang Indonesia.***

Posting Komentar

0 Komentar