Bencana Sumatera Update Terbaru: Korban Tewas Capai 1.178 Orang, 148 Masih Hilang

JAKARTA, kiprahkita.com Seribu seratus tujuh puluh delapan. Itu bukan sekadar angka dalam rilis pers BNPB. Itu adalah nama-nama yang tak sempat disebut, rumah-rumah yang tak lagi punya pintu pulang, dan doa-doa yang terputus di tengah lumpur serta longsor.

Sumatera kembali menangis. Seperti biasa, air mata itu datang bukan hanya dari hujan yang tak berhenti, tetapi dari kegagalan panjang yang terus diulang.


Setiap kali bencana datang, negara selalu hadir—dalam konferensi pers, infografik rapi, dan kalimat “pemerintah terus berupaya”. Namun pertanyaan paling jujur tetap menggantung: mengapa kita selalu sibuk setelah tragedi, tapi gagap sebelum ia terjadi?

Aceh mencatat korban terbanyak. Sumatera Barat menyimpan luka terdalam dengan puluhan orang masih hilang. Medan berat dan cuaca ekstrem kembali dijadikan alasan. Padahal, bukankah kita sudah lama tahu wilayah ini rapuh? Bukankah peta rawan bencana sudah bertahun-tahun tersimpan di laci-laci kebijakan?

Hutan digerus, sungai dipersempit, bukit dilubangi—lalu kita heran ketika alam menagih dengan cara paling kejam.

Ironisnya, saat alam murka, yang pertama disalahkan justru cuaca. Seolah manusia hanya penonton pasif dalam kerusakan yang ia ciptakan sendiri.

Ratusan ribu orang mengungsi. Mereka kehilangan rumah, ladang, dan masa depan yang sebelumnya tampak biasa-biasa saja. Di posko pengungsian, hidup direduksi menjadi antrean logistik dan selimut tipis. Sementara itu, di luar sana, wacana cepat bergeser—dari duka ke trending topic berikutnya.

Bencana ini bukan sekadar tragedi alam. Ia adalah cermin.

Cermin tentang tata ruang yang abai, tentang izin yang mudah diteken, tentang mitigasi yang kalah oleh kepentingan jangka pendek dan yang paling menyedihkan: cermin tentang betapa cepatnya kita lupa.

Jika setelah 1.178 nyawa melayang kita masih berbicara dengan bahasa yang sama—bahasa normatif, aman, dan tanpa keberanian berubah—maka sesungguhnya kita sedang menunggu korban berikutnya.

Alam tidak pernah tiba-tiba kejam.

Ia hanya jujur mengembalikan apa yang selama ini kita ambil.

Kapusdatin BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan perkembangan penanganan bencana Sumatera dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Ini belum termasuk penambahan korban di Malalak Sumatera Barat minggu lalu.

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera terus menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Selasa, 6 Januari, jumlah korban meninggal dunia kembali bertambah menjadi 1.178 orang, sementara 148 korban lainnya masih dinyatakan hilang.

Penambahan korban jiwa terbaru berasal dari Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dengan satu orang dilaporkan meninggal dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers di Jakarta.

“Hari ini ada penambahan satu korban meninggal dunia dari wilayah Tapanuli Tengah. Dengan demikian, total korban meninggal per hari ini berjumlah 1.178 jiwa,” ujar Abdul Muhari, Selasa (6/1).

Korban Hilang Masih 148 Orang

BNPB memastikan bahwa tidak ada penambahan jumlah korban hilang hingga laporan terbaru ini dirilis. Meski demikian, proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan di berbagai titik terdampak.

“Untuk korban hilang, jumlahnya masih sama, yakni 148 orang,” jelas Abdul Muhari yang akrab disapa Aam.

Wilayah dengan jumlah korban hilang terbanyak tercatat berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dengan 74 orang hingga kini belum ditemukan. Kondisi medan yang berat serta cuaca yang belum sepenuhnya stabil menjadi tantangan utama dalam proses pencarian.

Aceh Catat Korban Jiwa Terbanyak

Dari seluruh provinsi terdampak, Aceh menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal dunia paling tinggi, yakni mencapai 543 orang. Selain Aceh, wilayah lain yang terdampak parah meliputi Sumatera Utara dan Sumatera Barat, dengan sebaran korban yang signifikan akibat longsor dan banjir bandang.

BNPB menegaskan bahwa operasi pencarian dan pertolongan (SAR) masih terus dilanjutkan dan akan berlangsung setidaknya hingga masa tanggap darurat provinsi dievaluasi pada 8 Januari 2026.

“Operasi SAR tetap berjalan dan akan dievaluasi pada tanggal 8 Januari, menyesuaikan dengan status tanggap darurat di masing-masing provinsi,” tutur Aam.

Pengungsi Tembus 242 Ribu Jiwa

Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan lonjakan jumlah pengungsi. BNPB mencatat total pengungsi saat ini mencapai 242.174 jiwa, dengan Aceh menjadi provinsi penyumbang jumlah pengungsi terbesar, yakni sekitar 217 ribu orang.

Rincian wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak di Aceh meliputi:

Kabupaten Aceh Tamiang: sekitar 74.000 jiwa

Kabupaten Aceh Utara: sekitar 67.000 jiwa

Kabupaten Gayo Lues: sekitar 19.000 jiwa

Ratusan ribu pengungsi tersebut saat ini tersebar di posko-posko darurat, rumah ibadah, sekolah, serta fasilitas umum lainnya. Pemerintah bersama relawan terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, mulai dari logistik pangan, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial.

Pemerintah Fokus Penanganan Darurat

BNPB menegaskan bahwa pemerintah pusat dan daerah masih memprioritaskan penanganan darurat, termasuk evakuasi korban, pencarian warga hilang, serta pemenuhan kebutuhan pengungsi. Selain itu, koordinasi lintas instansi terus diperkuat guna mempercepat pemulihan di wilayah terdampak.

Bencana banjir dan longsor ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di awal tahun 2026, sekaligus pengingat akan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. (Mond/DG*)

Posting Komentar

0 Komentar