PADANG, kiprahkita.com –Tokoh nasional sekaligus pemerhati sepak bola Sumatera Barat, H. Arisal Aziz, menilai bergulirnya Liga 4 PSSI Sumatera Barat lebih dari sekadar agenda kompetisi tahunan. Menurutnya, kompetisi ini menjadi ruang strategis dalam pembinaan sepak bola daerah dan persiapan masa depan generasi muda.
Arisal Aziz menegaskan bahwa Liga 4 harus dipandang sebagai ajang pembentukan karakter dan profesionalisme bagi klub-klub serta pemain yang terlibat. Kompetisi berjenjang seperti Liga 4, menurutnya, adalah urat nadi perkembangan sepak bola di tingkat lokal.
“Liga 4 bukan hanya soal menang dan kalah. Ini adalah ruang harapan, ruang pembentukan karakter, dan tanggung jawab moral kita bersama,” ujar Arisal Aziz.
Ia menekankan bahwa penyelenggaraan yang profesional, berintegritas, dan berkelanjutan merupakan kunci utama agar kompetisi bisa menghasilkan pemain berkualitas dan klub yang solid.
Arisal juga melihat sepak bola sebagai ruang positif bagi generasi muda, yang dapat menjauhkan mereka dari pengaruh negatif dan memperkuat nilai sosial dalam masyarakat.
“Sepak bola adalah benteng sosial. Ketika lapangan hidup dan kompetisi berjalan baik, anak-anak kita memiliki ruang positif untuk tumbuh, bermimpi, dan menjauh dari narkoba serta pergaulan yang keliru,” tambahnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan di dunia sepak bola Sumbar untuk bersama menjaga marwah kompetisi agar dapat berjalan secara bermartabat, serta melahirkan prestasi yang membanggakan di panggung nasional.
Liga 4 sendiri merupakan kompetisi tingkat keempat dalam struktur sepak bola nasional Indonesia yang digelar PSSI secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi dan nasional. Kompetisi ini bertujuan menjadi wadah pembinaan pemain muda dan klub amatir agar memiliki kesempatan berkembang menuju level lebih tinggi di sepak bola nasional.
![]() |
Masyarakat sepak bola Sumatera Barat kembali disuguhi momentum penting: perguliran Liga 4 PSSI Sumbar. Bukan sekadar kompetisi semata, tetapi wujud pembinaan, penumbuhan karakter, dan — sebagaimana ditegaskan H. Arisal Aziz — urat nadi bagi klub serta pemain di akar rumput. Pernyataan ini relevan bukan hanya secara retoris, tetapi menyingkap persoalan fundamental sepak bola Indonesia yang sering terlupakan: keberlanjutan pembinaan dan profesionalisme di level lokal.
Arisal Aziz membuka wacana dengan cara yang tepat: ia tidak melihat Liga 4 hanya sebagai ajang menang–kalah, melainkan sebagai ruang strategis pembangunan kualitas sepak bola daerah. Ini seharusnya menjadi prinsip dasar setiap kompetisi tingkat provinsi: menghasilkan pemain siap bersaing di level nasional, membentuk karakter profesional sejak usia dini, dan menjaga integritas jalannya kompetisi.
Namun, kritik tajam terhadap kondisi sepak bola sekarang adalah bahwa seringkali kompetisi lokal diselenggarakan tanpa visi pembinaan jangka panjang. Liga amatir seringkali dipandang hanya sebagai formalitas tahunan — rutinitas kalender yang tak benar-benar menghasilkan dampak signifikan bagi kualitas klub dan pemain. Ketika Arisal menyebut “kompetisi adalah urat nadi,” itu seharusnya menyentak semua pihak bahwa tanpa struktur dan mekanisme yang kuat, kompetisi akan mati di level makna — hanya sekadar pertandingan tanpa nilai tambah nyata.
Lebih dari itu, pernyataan Arisal tentang sepak bola sebagai benteng sosial signifikan, apalagi dalam konteks Sumatera Barat yang kaya talenta tetapi sering terpinggirkan di skala nasional. Sepak bola di sini bukan hanya olahraga, tetapi ruang sosial yang membentuk karakter, menyediakan alternatif positif dari pengaruh negatif seperti kenakalan remaja dan narkoba. Ketika kompetisi dikelola sehat, itu berarti memberi nilai sosial nyata kepada komunitas lokal.
Namun, untuk mencapai cita–cita itu, tidak cukup hanya semangat retoris. Profesionalisme harus diikuti oleh tindakan nyata: pelatihan pelatih yang berkualitas, sarana dan prasarana memadai, sistem pengawasan yang kuat terhadap integritas pertandingan, serta dukungan finansial yang berkelanjutan. Tanpa ini, Liga 4 hanya akan menjadi slogan, bukan mesin pencetak talenta.
Terakhir, perlu diingat bahwa keberhasilan kompetisi seperti Liga 4 bukan hasil kerja satu individu atau satu klub. Ini membutuhkan kolaborasi berbagai pihak: Asprov PSSI Sumbar, klub peserta, pelatih, komunitas pendukung, dan tentu saja para pemain itu sendiri. Bila semua komponen ini bergerak sinergis, maka bukan tidak mungkin Sumatera Barat kembali melahirkan pemain–pemain yang membanggakan di kancah nasional. IO*

0 Komentar