LIMA PULUH KOTA, kiprahkita.com –Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota, tepatnya di Jalan Lintas Sumatera Barat–Riau, kawasan Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Kotobaru, menyebabkan tanah longsor yang menutup badan jalan pada Kamis (8/1/2026). Akibatnya hingga minggu ini, arus lalu lintas dari dua arah mengalami macet panjang dan tersendat karena kendaraan hanya bisa melintas secara bergantian.
Longsor yang terjadi sekitar siang hari saat hujan deras membasahi kawasan tersebut membuat material tanah dan bebatuan menumpuk di badan jalan. Sejumlah pengendara yang sedang melintas terpaksa berhenti dan menunggu hingga sebagian material bisa dibersihkan secara manual oleh warga serta pengendara lain.
Seorang pengendara, Riadi Mustofa, mengaku bahwa kemacetan sempat berlangsung sekitar dua jam sebelum petugas penanganan darurat datang ke lokasi. Selama waktu itu, semua kendaraan dari dua arah tidak bisa bergerak karena badan jalan tertutup material longsor.
Petugas gabungan dari pihak kepolisian dan instansi terkait telah diturunkan ke lokasi untuk melakukan pembersihan material longsor dan mengatur lalu lintas. Hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Namun, para pengguna jalan diimbau untuk tetap waspada terutama saat hujan deras, mengingat jalur tersebut dikenal sebagai kawasan rawan longsor.
Proses pembersihan material longsoran masih berlangsung dan diperkirakan akses akan kembali lancar setelah alat berat digunakan untuk menyingkirkan tanah dan bebatuan yang menutup jalan.
![]() |
Curah hujan tinggi, fenomena yang kini semakin sering terjadi di musim hujan, kembali menunjukkan potensi destruktifnya dengan memicu tanah longsor di Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Kotobaru, Kabupaten Lima Puluh Kota. Material tanah dan bebatuan menutup badan jalan nasional, sehingga arus lalu lintas dari dua arah terganggu dan antrean kendaraan mengular sementara petugas bekerja untuk membuka kembali akses. Hingga kini belum ada laporan korban jiwa tetapi dampak logistik dan mobilitas sangat terasa.
Fenomena ini, meskipun lokal, sesungguhnya bukan kejadian tunggal. Jalan Lintas Sumbar–Riau adalah urat nadi mobilitas antarprovinsi yang melayani ribuan kendaraan setiap hari, dari truk barang hingga perjalanan antarwilayah masyarakat sipil. Ketergantungan pada rute ini membuat setiap gangguan — seperti longsor — langsung terasa luas: dari tertundanya distribusi barang kebutuhan pokok hingga kerugian waktu dan bahan bakar pengendara yang terjebak macet berjam-jam.
Namun jika kita melihat lebih jauh dari episode ini sendiri, reruntuhan tanah yang menutup jalan bukan sekadar bencana alam semata. Ini mencerminkan kekurangan perencanaan mitigasi risiko bencana di wilayah yang secara geologis memang rawan longsor. Kawasan perbukitan di sepanjang jalur lintas Sumatera kerap mengalami curah hujan tinggi di musim tertentu, dan sepanjang tahun lalu saja sejumlah titik di jalur yang sama tercatat mengalami longsor serta penutupan jalan lebih dari sekali, bahkan memaksa sistem buka tutup atau penutupan total untuk perbaikan dan evakuasi material.
Bukan Hanya Curah Hujan — Ini Tantangan Infrastruktur Indonesia
Apa yang terjadi di Koto Alam menggarisbawahi dua tantangan struktural besar:
Perubahan iklim memperkuat pola hujan ekstrem.
Intensitas curah hujan yang tinggi, yang memicu longsor ini, adalah bagian dari tren perubahan iklim yang memperlemah kestabilan lereng-lereng perbukitan di Sumatera. Curah hujan yang tadinya “normal” kini lebih sering berubah menjadi hujan ekstrem secara tiba-tiba — kondisi yang membuat sistem drainase dan proteksi lereng harus kembali dievaluasi.
Perencanaan infrastruktur belum sebanding dengan risiko bencana.
Jalan nasional yang menghubungkan dua provinsi justru rentan terhadap hambatan seperti longsor dan banjir. Padahal, jalan ini bukan sekadar jalur transportasi — ia adalah arteri ekonomi. Upaya pembersihan darurat maupun perbaikan rutin seringkali hanya bersifat reaktif. Belum adanya sistem mitigasi yang kuat meningkatkan kemungkinan kejadian serupa berulang di musim hujan berikutnya.
Kemacetan: Indikator Luka Lebih Dalam
Macet yang terjadi bukan semata dampak logistik. Ia adalah indikator ketidaksiapan sistem transportasi menghadapi bencana alam yang meningkat frekuensinya. Ketika satu titik longsor saja sudah bisa membuat mobil menunggu berjam-jam, apa jadinya jika skala kejadian lebih besar atau terjadi di beberapa titik sekaligus? Ini menuntut perencanaan jangka panjang yang memperhitungkan:
Penguatan lereng dengan teknik geoteknik yang memadai
Drainase yang cocok dengan perubahan pola curah hujan
Rute alternatif yang layak serta pemberdayaan jalur lokal ketika jalan utama tertutup
Peringatan risiko dan edukasi kepada pengguna jalan
Longsor di Koto Alam dan macetnya lalu lintas adalah lebih dari sekadar berita hari ini. Ia adalah peringatan keras bahwa ketahanan infrastruktur Indonesia harus ditingkatkan, terutama di kawasan yang secara alamiah rentan terhadap bencana. Jalan bukan hanya soal konektivitas; itu soal ketahanan sosial-ekonomi masyarakat yang bergantung pada kelancaran aliran manusia dan barang.
Dengan perubahan iklim yang semakin nyata, kita memerlukan investasi mitigasi yang strategis dan berkelanjutan, bukan perbaikan darurat ketika bencana sudah terjadi. Longsor sesungguhnya memberi kita dua pilihan: memperbaiki atau menunggu terulang lagi. DGO/PE/RE*

0 Komentar