DHARMASRAYA, kiprahkita.com –Kabupaten Dharmasraya minggu lalu kembali diramaikan dengan semangat kebersamaan masyarakat melalui kegiatan jalan santai berhadiah dalam rangka puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 kabupaten setempat. Acara itu digelar oleh Pemerintah Kabupaten Dharmasraya terbuka untuk seluruh lapisan warga dan dirancang sebagai ajang rekreasi keluarga.
![]() |
Rangkaian acara telah dilaksanakan pada Minggu, 4 Januari 2026 itu, mulai pukul 07.00 WIB. Rute jalan santai kala itu dimulai dari Kantor Camat Koto Baru dan berakhir di Lapangan Matador Koto Baru, sebuah ruang publik kebanggaan masyarakat di sana.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya, Drs. Jasman Dt Bandaro Bendang, yang juga Ketua Umum Panitia HUT ke-22, sudah mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi bersama keluarga dalam kegiatan itu. Menurutnya waktu itu, jalan santai tidak hanya sebagai aktivitas olahraga ringan tetapi juga sebagai momentum mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
“Jalan santai terbuka untuk seluruh masyarakat Dharmasraya. Kami mengajak warga datang bersama keluarga, menikmati kebersamaan, sekaligus memeriahkan peringatan HUT kabupaten yang ke-22,” ujar Jasman kala itu.
Panitia pun telah menyiapkan ratusan doorprize untuk peserta, termasuk hadiah utama satu unit sepeda motor, serta sejumlah hadiah menarik lainnya seperti sepeda dan peralatan elektronik lainnya. Kehadiran hadiah-hadiah itu tentu dapat meningkatkan antusiasme masyarakat dan menjadikan jalan santai sebagai salah satu agenda paling dinanti dalam rangkaian perayaan HUT.
Kegiatan merupakan bagian dari rangkaian acara HUT ke-22 Dharmasraya yang mengusung tema “Dharmasraya Harmonis, Inovatif, dan Sejahtera.” Tema tersebut mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, memperkuat inovasi, dan menjaga keharmonisan sosial. dirgantaraonline.co.id
Pemerintah Kabupaten mengharapkan jalan santai bukan hanya sebagai ajang olahraga dan hiburan, tetapi juga sebagai wadah bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk saling berinteraksi, berbagi kebahagiaan, serta memperkuat rasa memiliki terhadap daerah mereka.
Dengan semangat ulang tahun yang ke-22 saat itu, Dharmasraya terus bergerak maju menuju kabupaten yang harmonis, inovatif, dan sejahtera dengan masyarakat sebagai kekuatan utama pembangunan.
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Kabupaten Dharmasraya yang dipenuhi oleh kegiatan jalan santai berhadiah dan hadiah utama sepeda motor mencerminkan fenomena yang lebih besar dalam cara pemerintah daerah mengemas momentum kebersamaan sosial. Jalan santai merupakan aktivitas sehat dan inklusif — sebuah ruang sederhana untuk mempererat hubungan sosial — bisa juga menjadi arena mengukuhkan hubungann antara rakyat dan statecraft lokal yang ingin menarik perhatian dan partisipasi massa.
Kegiatan diselenggarakan pada 4 Januari 2026 lalu juga bisa mempromosikan gaya hidup sehat atau ruang kebersamaan keluarga, apalagi memanfaatkan daya tarik material sebagai magnet sosial. Sepeda motor — sebagai hadiah utama — bukan hanya sekadar hadiah besar yang meningkatkan jumlah peserta, tetapi juga simbol status dan mobilitas yang sangat dipandang dalam struktur masyarakat pedesaan dan semi-urban Indonesia. Di banyak daerah, sepeda motor seringkali dilihat masih sebagai pencapaian ekonomi dan kebebasan bergerak, sehingga diposisikan strategis sebagai “hadiah utama” yang mengokohkan daya tarik acara.
Tentu pendekatan ini berpotensi menimbulkan dua efek yang kontras. Di satu sisi, hadiah-hadiah menarik seperti sepeda motor dan berbagai doorprize lainnya menjadi cara efektif untuk meningkatkan partisipasi publik dalam kegiatan sosial massal, mempertemukan warga dari berbagai latar belakang, dan secara simbolis mengukuhkan komunitas daerah dalam tema ulang tahun daerah: “Dharmasraya Harmonis, Inovatif, dan Sejahtera.”
Di sisi lain, pendekatan berbasis insentif materi seperti sepeda motor juga menginginkan semarak perayaan yang bisa memperkuat identitas kolektif dan diharap tidak bergeser menjadi kontestasi hadiah yang menonjolkan aspek konsumtif. Ketergantungan pada insentif material untuk memobilisasi warga dapat mengedepankan makna perayaan itu sendiri, sehingga partisipasi masyarakat didorong oleh rasa kebersamaan atau gotong-royong, bukan oleh harapan mendapatkan satu unit kendaraan—yang bagi sebagian besar warga merupakan aset penting. Rezki yang beruntung.
Ini adalah sesuatu yang eksklusif untuk Dharmasraya, juga bagian dari pola nasional yang lebih luas dalam mengemas perayaan publik — insentif dan hiburan komersial tidak mempengaruhi cara warga merespons dan berpartisipasi dalam ritual kebersamaan. Dengan demikian, memang kadang sepeda motor yang “menanti” bukan hanya menjadi hadiah bagi individu beruntung, tetapi juga cara dari dinamika sosial yang lebih kompleks: sebuah perayaan selain ada nilai sosial juga simbolik bertautan dengan daya tarik materi dalam ritus publik modern masyarakat dalam pesta 1x se tahun tentunya. Digo*

0 Komentar