SUMBAR, kiprahkita.com –Banyak yang cinta sepakbola, tapi jarang yang mau berkorban untuk sepakbola. Banyak yang tulus membina sepakbola, tapi jarang berkorban pulus membangun sepakbola. Ketulusan disertai pengorbanan materi, bagian dari rasa cinta mendalam terhadap olahraga sikulit bundar ini.
![]() |
Tapi, masih ada yang mau mengorbankan apa saja untuk sepakbola. Sosok yang tulus itu, H. Arisal Azis Funding Father Indah Kargo Group. Tak terbantahkan, dihatinya sepakbola menggelora.
Semuanya ditangani, semuanya dilakukan, demi sepakbola. Mulai dari infrastruktur, lapangan, memfasilitasi anak anak Sumatera Barat berkecimpung dalam olahraga sikulit bundar itu
Komitmen untuk membangun sepakbola Sumatera Barat terlihat jelas dalam obsesi dan cita citanya. Ini terlihat melalui langkah langkah yang menenangkan perasaan dan sarat kebersamaan.
Kepedulian ini, lahir dari kecintanya terhadap generasi muda dan kemajuan olahraga di Ranah Minang
Anggota DPR RI priode 2024-2029 tersebut, mengajak klub Sepakbola kabupaten dan kota di Sumatera Barat untuk ambil bagian di kompetisi Liga 4 Asprov PSSI Sumatera Barat.
Langkah ini, diharapkan agar pembinaan, Silaturahmi, pengembangan dan penguatan karekteristik sepakbola daerah terus memberikan dampak yang positif.
H.Arisal Azis, bukan sekedar omong omong. Apa yang dilakukan, bentuk ikhtiar yang tulus dan dukungan nyata. Menyiapkan fasilitas, biaya untuk pendaftaran bagi tim Asprov PSSI Sumatera Barat yang ingin ambil ikut ambil bagian dari dalam kompetisi Liga 4 Asprov PSSI Sumatera Barat musim 2025-2026. Dua set Jersey home-away dan bola latihan bagi tim yang ingin berpartisipasi.
Dukungan ini diberikan dengan niat yang tulus. Semangat kebersamaan dan rasa persaudaraan yang di jalin lewat sikulit bundar.
Kebersamaan, keterbukaan, tanpa membedakan latar belakang klub dan murni ketulusan H. Arisal Aziz untuk membantu klub liga 4 Asprov PSSI Sumatera Barat.
“Sepakbola milik kita bersama. Niat saya, bagaimana klub daerah bisa tetap eksis. Berlatih dan berlaga dengan nuansa suasana yang sehat dan menyenangkan,” katanya
Ia berharap, Liga 4 Sumatera Barat dapat menjadi ajang menumbukan semangat kebersamaan, sportifitas dan menumbuhkan talenta talenta pemain lokal yang mampu membanggakan Daerah.
Anggota DPR RI yang duduk di Komisi XIII tersebut, juga ingin tim -tim asal kabupaten -kota di Dumatera Barat senantiasa mempersiapkan diri tanpa mengenal rasa lelah.
Disamping itu, memiliki jiwa membangun dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia sepakbola Sumatera Barat.”Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” ulasnya mengakhiri
Imbauan H. Arisal Azis agar klub-klub meramaikan Liga 4 Asprov PSSI Sumbar sejatinya bukan sekadar ajakan normatif. Ia adalah kritik halus terhadap ekosistem sepakbola daerah yang kerap rapuh di level paling dasar: biaya pendaftaran, jersey, dan bola latihan. Tiga hal sederhana, tapi sering menjadi tembok penghalang bagi klub-klub kecil yang hidup dari semangat, bukan sponsor.
Ketika ia menyatakan siap membantu biaya pendaftaran, menyediakan jersey home-away, hingga bola latihan, yang ditawarkan bukan hanya fasilitas, melainkan keadilan kesempatan. Bahwa talenta tidak seharusnya gugur sebelum bertanding hanya karena kas klub yang kering. Bahwa sepakbola daerah tidak boleh menjadi arena eksklusif bagi mereka yang kuat modal, tapi miskin pembinaan.
Namun, di sisi lain, langkah ini juga menjadi cermin telanjang bagi institusi sepakbola itu sendiri. Pertanyaannya sederhana tapi menohok: di mana peran sistem, ketika seorang individu harus turun tangan menutup lubang-lubang dasar pembinaan? Jika Liga 4 masih harus bergantung pada ketulusan satu figur, maka ada yang belum beres dalam tata kelola sepakbola daerah.
H. Arisal Azis menunjukkan bahwa loyalitas pada sepakbola bukan soal posisi, melainkan keberanian berkorban. Tapi sepakbola Sumatera Barat tidak boleh selamanya hidup dari kedermawanan personal. Ketulusan seperti ini semestinya menjadi pemantik, bukan penyangga tunggal. Ia harus diikuti oleh Asprov yang profesional, klub yang disiplin, dan pemerintah daerah yang berhenti melihat sepakbola sekadar hiburan, lalu mulai memposisikannya sebagai investasi sosial.
Liga 4 bukan sekadar kompetisi. Ia adalah fondasi. Dari sanalah karakter, disiplin, dan mimpi pemain-pemain muda dibentuk. Jika fondasi ini rapuh, jangan berharap bangunan di atasnya kokoh. Maka ketika ada yang datang membawa niat, fasilitas, dan semangat kebersamaan, publik patut mengapresiasi—sekaligus menagih tanggung jawab pihak lain agar tidak bersembunyi di balik ketulusan seseorang.
Sebab sepakbola memang milik bersama. Tapi jika cinta hanya dipikul segelintir orang, maka yang lain sejatinya sedang menikmati tanpa mau ikut memikul. Dan itu, dalam bahasa sepakbola, bukan loyalitas—melainkan penonton yang terlalu nyaman. HJ*

0 Komentar