TANAH DATAR, kiprahkita.com –Proyek Daerah Irigasi (DI) Sinamar yang mulai digagas sejak sekitar tahun 2013 hingga kini belum menunjukkan manfaat signifikan bagi masyarakat. Padahal, proyek yang disebut-sebut sebagai mega proyek tersebut direncanakan mampu mengairi sekitar 30.000 hektare sawah tadah hujan di Kabupaten Tanah Datar serta sebagian wilayah Kabupaten Sijunjung.
Namun di lapangan, kondisi justru berbanding terbalik. Saat musim hujan melanda, sejumlah infrastruktur irigasi dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari longsor, jebolnya saluran, hingga runtuhnya bendungan. Akibatnya, aliran sungai meluap dan memicu bencana yang merugikan warga.
![]() |
| Koondisi Irigasi Sinamar |
Masyarakat setempat mengaku kebingungan menghadapi kondisi tersebut. Selain lahan pertanian yang rusak akibat terjangan banjir dan galodo, sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan. Tidak sedikit pula ternak warga yang hanyut terbawa arus.
“Yang kami harapkan air untuk sawah, tapi yang datang justru bencana,” ungkap salah seorang warga.
Warga menyebut, sejak proyek Irigasi Batang Sinamar dimulai, kewenangan pengelolaan berada di bawah Balai Wilayah Sungai (BWS) V Sumatera Barat. Berbagai laporan dan surat telah disampaikan kepada pihak terkait, mulai dari kondisi irigasi yang rusak hingga dampak bencana yang dialami masyarakat. Namun, hingga kini mereka menilai belum ada penanganan yang memadai.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah titik kembali dilaporkan mengalami longsor. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk melakukan perbaikan secara mandiri dengan segala keterbatasan.
Atas kondisi tersebut, warga berharap adanya evaluasi terhadap pengelolaan proyek DI Sinamar. Mereka meminta agar kewenangan pengelolaan irigasi dapat diserahkan kembali kepada pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Tanah Datar, agar penanganan bisa lebih cepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Masyarakat juga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah agar proyek yang telah lama berjalan ini benar-benar memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan kerugian yang berkelanjutan.*

0 Komentar