PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Peringatan Seabad Gempa Padang Panjang 1926 menjadi momentum penting untuk merefleksikan sejarah sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan. Hal itu mengemuka dalam Seminar Internasional Seabad Gempa Padang Panjang (1926–2026) yang menghadirkan Guru Besar sekaligus peneliti dari Leiden University Institute for Area Studies, Belanda, Prof. Dr. Surya Suryadi, Ph.D., sebagai pemakalah utama.
Mengangkat tema "Merawat Ingatan, Membangun Ketangguhan", seminar tersebut mengajak masyarakat untuk memandang peristiwa gempa dahsyat yang mengguncang Padang Panjang tepat satu abad silam bukan semata sebagai tragedi, melainkan sebagai warisan sejarah yang menyimpan pelajaran berharga.
Dalam paparannya, Prof. Surya Suryadi menjelaskan, gempa bumi yang melanda Padang Panjang pada 1926 telah menghancurkan berbagai bangunan dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Namun di balik bencana itu, tersimpan kisah tentang daya juang dan kemampuan masyarakat untuk bangkit kembali.
"Sejarah bukan hanya tentang mengingat peristiwa, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat masa lalu menghadapi tantangan yang mereka alami. Dari sanalah kita belajar membangun ketangguhan di masa kini," ujarnya.
Melalui berbagai manuskrip, arsip, dan catatan sejarah, lanjutnya, generasi sekarang dapat mempelajari bagaimana masyarakat terdahulu beradaptasi dengan kondisi geologi di sepanjang Sesar Sumatra yang menjadi sumber aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.
Menurut Prof. Surya, ingatan kolektif mengenai bencana harus terus dipelihara agar tidak hilang ditelan zaman. Pembelajaran dari masa lalu perlu ditransformasikan menjadi langkah-langkah nyata dalam memperkuat literasi kebencanaan, menghidupkan kembali kearifan lokal, serta mengembangkan sistem mitigasi yang didukung ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Ia menegaskan, ancaman gempa bumi tidak dapat dihilangkan karena merupakan bagian dari dinamika alam. Namun dampak yang ditimbulkannya dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya sadar bencana yang kuat.
Seminar internasional ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Seabad Gempa Padang Panjang yang bertujuan menghubungkan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebijakan kebencanaan. Kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat bahwa mengenang bencana bukan sekadar membuka kembali luka masa lalu, tetapi menjadi bekal untuk membangun masa depan yang lebih tangguh.
Melalui semangat Merawat Ingatan, Membangun Ketangguhan, peringatan satu abad gempa diharapkan menjadi pengingat bahwa bencana mungkin akan kembali terjadi, namun ketangguhan masyarakat harus terus diperbarui melalui pendidikan, kolaborasi, dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
Versi Ringkas
Seminar Internasional Seabad Gempa Padang Panjang (1926–2026)
Pemakalah : Prof.Dr Surya Suryadi, PHD a Lecturer at the Leiden University Institute for Area Studies Merawat Ingatan, Membangun Ketangguhan
Tepat satu abad lalu, bumi Serambi Mekah berguncang hebat, meruntuhkan bangunan dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Padang Panjang.
Namun, dari puing-puing sejarah tahun 1926 tersebut, kita tidak hanya mewarisi cerita kedukaan, melainkan juga sebuah refleksi besar tentang ketangguhan.
Melalui catatan sejarah dan manuskrip lama, kita diajak untuk membaca kembali cara generasi terdahulu beradaptasi dengan Sesar Sumatra.
Menghadapi abad baru, ingatan kolektif ini harus ditransformasikan menjadi aksi nyata: memperkuat literasi bencana, menghidupkan kembali kearifan lokal, dan memperkokoh mitigasi modern demi melindungi masa depan. Karena bencana mungkin berulang, namun ketangguhan harus terus kita perbarui.
0 Komentar