Oleh Pepih Nugraha
JAKARTA, kiprahkita.com –Setiap pagi saya mengantar anak wedhok ke sekolah di SMAN II Tasikmalaya (Smanda), tempat di mana setengah abad lalu saya juga bersekolah di sini. Tentu bangunan sekolahnya sudah lebih bagus dan modern dibanding 50 tahun lalu.
Akan tetapi hal lain yang membuatnya berbeda adalah hampir semua siswi berjilbab atau mengenakan tutup rambut dan kepala, termasuk anak saya. Sementara siswa tetap mengenakan putih abu, tanpa jilbab tentu saja, sehingga tidak ada perbedaan yang kontras antara sekarang dan dulu 50 tahun lalu.
Dulu, teman-teman perempuan saya sekelas dan bahkan sesekolah, tidak ada satupun yang berjilbab, sehingga saya bisa "menikmati" beragam rambut mereka yang berbeda. Yang keriting, yang lurus, yang bergelombang, yang panjang, pendek, semua ada.
Mereka mengenakan rok dengan panjang beberapa senti di bawah lutut, bahkan ada yang "dipas-pasin" rata dengan lutut. Dalam pandangan saya, mereka berpenampilan modis. Jangan tanya guru perempuannya, semua tanpa jilbab.
Bayangkan, dalam hitungan lima dekade, busana siswi SMA, SMP, SD mungkin TK telah berubah. Dari yang tanpa penutup rambut, sampai hampir semua siswi sekolah berbagai strata berhijab. Peribahan yang revolusioner dan luar biasa.
Ini di Indonesia yang mayoritasnya Islam. Bagaimana dengan Arab Saudi yang mayoritas Islam-nya sangat dominan? Berhijab atau berjilbab bagi perempuan adalah kewajiban!
Tetapi waktu berjalan tanpa pernah meminta izin kepada masa lalu. Di bawah langit Riyadh yang luas, angin perubahan berhembus membawa butir-butir modernitas yang menyentuh setiap jengkal ruang publik.
Nah, ketika Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), melangkah dengan Visi 2030-nya, ia tidak sekadar merombak kebijakan bernegara, tetapi membuka jendela lebar-lebar agar angin segar zaman baru berembus ke dalam rumah tradisi yang telah lama tertutup rapat.
Salah satu babak paling kasat mata dari transformasi ini adalah pelonggaran aturan berpakaian. Abaya hitam dan kerudung penutup kepala yang selama puluhan tahun menjadi simbol ketundukan mutlak pada norma publik, kini bergeser dari sebuah kewajiban hukum yang mengikat kaku menjadi sebuah pilihan personal.
Di jalan-jalan ibu kota-kota besar Arab Saudi, kita mulai menyaksikan perempuan-perempuan Saudi mengekspresikan diri melalui busana modern yang tetap bersahaja namun sarat gaya.
Di sinilah sebuah pertanyaan besar mengusik benak saya: benarkah agama-agama, termasuk Islam, sudah tidak berpengaruh lagi bagi generasi yang lebih muda?
Pertanyaan ini seringkali muncul dari kekhawatiran yang lahir akibat cara pandang yang keliru. Ketika melihat anak-anak muda melepaskan ikatan-ikatan formal yang selama ini dianggap sakral oleh generasi tua, banyak yang buru-buru menyimpulkan bahwa iman telah tanggal dari hati mereka.
Padahal, esensi agama tidak pernah identik dengan sehelai kain penutup atau sekadar kepatuhan pada birokrasi moral yang dipaksakan negara. Agama, dalam perjalanan sejarah kemanusiaan, ibarat sebuah mata air yang jernih. Kadang kala, mata air itu terjebak di dalam saluran pipa birokrasi yang berkarat. Kaku, penuh endapan, dan kehilangan kelenturannya.
Ketika generasi muda hari ini menuntut ruang napas yang lebih longgar, memilih jalan hidup yang lebih mandiri, dan mempertanyakan ulang bentuk-bentuk simbolik, mereka sebenarnya bukan sedang menolak nilai-nilai ilahiah itu sendiri. Mereka sedang membersihkan saluran air tersebut agar kembali menemukan kejernihannya.
Mereka ingin merasakan agama bukan sebagai beban yang membungkuk-bungkuk di pundak, melainkan sebagai kompas batin yang menuntun langkah dengan kesadaran penuh.
Perubahan di Arab Saudi, negara yang jantung spiritual umat Islam berada, memberikan pelajaran berharga tentang hakikat keimanan. Selama ini, kepatuhan sering kali diukur dari seberapa patuh seseorang pada aturan luar. Namun, sebuah ketaatan yang lahir dari ketakutan akan sanksi hukum belumlah menjadi ketaatan yang merdeka.
Ketika Pangeran MBS menyerahkan urusan berpakaian kepada preferensi dan pilihan pribadi perempuan, sejatinya ia sedang mengembalikan marwah kemanusiaan, bahwa kebajikan sejati hanya bermakna jika ia dipilih secara sadar, bukan dipaksakan oleh titah penguasa.
Bagi generasi muda hari ini, agama tidak lagi diletakkan di ruang pameran museum yang tidak boleh disentuh dan harus dihormati dari kejauhan. Mereka menarik agama ke ruang tamu kehidupan sehari-hari, mendiskusikannya, merenungkannya, dan menguji relevansinya di tengah kompleksitas dunia modern.
Agama tidak kehilangan pengaruhnya, ia justru sedang bermetamorfosis dari sebuah doktrin yang kaku menjadi etika batin yang dinamis.
Maka, keliru besar jika kita menganggap generasi muda hari ini tercerabut dari akarnya. Mereka tetap membawa nilai-nilai luhur agama di dalam dada mereka, namun dengan cara pandang yang lebih luas dan terbuka.
Mereka paham bahwa kesalehan sosial tidak diukur dari seragam yang dikenakan, melainkan dari kejujuran, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Agama dan modernitas bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sisi koin yang membentuk keutuhan zaman.
Sebagaimana gurun pasir yang selalu berubah bentuk karena tiupan angin namun tetap mempertahankan esensinya sebagai bumi tempat manusia mengabdi, demikian pula iman di hati generasi muda.
Ia beradaptasi, mengalir, dan menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih jujur, menyapa masa depan dengan kepala tegak dan hati yang tetap berpijak pada nilai-nilai keabadian.
Anda boleh setuju, boleh juga tidak, atas pandangan penulis ini.*

0 Komentar