PADANG, kiprahkita.com –Dalam rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357, Pemerintah Kota Padang memperkuat komitmen pelestarian kawasan Kota Tua sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui International Symposium Ekosistem Kota Tua Padang.
Kegiatan bertema “Warisan, Sungai, Pasar, dan Lingkungan untuk Pariwisata Berkelanjutan” tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, di Convention Hall Universitas Bung Hatta (UBH), Kamis (6/8/2026).
Simposium ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dan internasional dalam menjaga kawasan bersejarah Kota Tua Padang. Selain aspek pelestarian warisan budaya, pembahasan juga diarahkan pada pengelolaan lingkungan, revitalisasi Sungai Batang Arau, serta penguatan potensi kawasan sebagai destinasi wisata berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Fadly Amran menegaskan bahwa persoalan sampah perkotaan dan pemulihan Sungai Batang Arau merupakan dua tantangan besar yang saling berkaitan.
Menurutnya, upaya membangun Kota Padang sebagai kota wisata tidak cukup hanya dengan mempercantik kawasan dan menghadirkan berbagai atraksi. Kebersihan lingkungan serta kualitas sungai juga menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik kota.
“Pengelolaan sampah perkotaan dan pemulihan Sungai Batang Arau merupakan dua tantangan utama yang saling berkaitan,” tegas Fadly.
Ia menyebutkan, pemerintah kota terus menempatkan kedua persoalan tersebut sebagai prioritas. Penanganannya membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga mitra internasional.
Fadly berharap kolaborasi yang dibangun melalui symposium tersebut dapat menghasilkan gagasan dan langkah konkret dalam mengembangkan kawasan Kota Tua Padang.
“Pelestarian Kota Tua bukan hanya menjaga bangunan dan sejarah, tetapi juga memastikan ekosistem di sekitarnya tetap hidup, bersih, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Kawasan Kota Tua Padang sendiri memiliki nilai historis dan budaya yang kuat. Keberadaannya tidak terlepas dari aktivitas perdagangan, pasar, serta Sungai Batang Arau yang sejak dahulu menjadi bagian penting dalam perkembangan Kota Padang.
Karena itu, revitalisasi kawasan tidak dapat dilakukan secara parsial. Penataan kawasan heritage, pengelolaan sungai, kebersihan lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, dan pengembangan pariwisata perlu dirancang dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Melalui International Symposium Ekosistem Kota Tua Padang, Pemko Padang berharap terbangun perspektif bersama bahwa kawasan bersejarah dapat menjadi ruang yang tetap hidup dan produktif tanpa kehilangan identitas serta nilai sejarahnya.
Momentum HJK Padang ke-357 pun menjadi kesempatan untuk memperkuat arah pembangunan kota yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan pelestarian warisan budaya.
Dengan kolaborasi tersebut, Kota Padang diharapkan mampu menjadikan Kota Tua dan Sungai Batang Arau sebagai salah satu kekuatan utama dalam membangun citra Padang sebagai kota wisata yang berkelanjutan, bersih, berbudaya, dan berdaya saing internasional.
Versi Ringkas
Dalam rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357, Wali Kota Padang, Fadly Amran, membuka International Symposium Ekosistem Kota Tua Padang bertema Warisan, Sungai, Pasar, dan Lingkungan untuk Pariwisata Berkelanjutan, di Convention Hall Universitas Bung Hatta (UBH), Kamis (6/8/2026).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi internasional dalam pelestarian kawasan Kota Tua, pengelolaan lingkungan, serta revitalisasi Sungai Batang Arau, dan mendorong pariwisata berkelanjutan di Kota Padang.
Fadly Amran menegaskan pengelolaan sampah perkotaan dan pemulihan Sungai Batang Arau merupakan dua tantangan utama yang saling berkaitan dan menjadi prioritas Pemerintah Kota Padang dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, sekaligus memperkuat pariwisata berkelanjutan. *

0 Komentar