Oleh Asmet Syamsu
PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Hidup tidak pernah lepas dari ujian. Ada saat ketika hati lapang, tetapi ada pula masa ketika dada terasa sempit, rezeki terasa sulit, masalah datang bertubi-tubi, dan jalan keluar seakan tertutup dari segala arah.
Namun seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya tenggelam dalam kecemasan. Ia harus mengingat bahwa di balik setiap kesulitan ada Allah Yang Mahakuasa, dan di balik setiap kesempitan ada pintu pertolongan yang dapat dibuka-Nya.
Allah berfirman:
> **﴿وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ﴾**
> “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
> *(QS. Adz-Dzariyat: 22)*
Rezeki kita tidak berada di tangan manusia. Kehormatan kita tidak sepenuhnya ditentukan oleh manusia. Masa depan kita pun tidak berada dalam kekuasaan manusia. **Semuanya berada di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى.**
1. Jangan Takut, Rezekimu Tidak Akan Tertukar
Betapa sering manusia merasa takut kehilangan rezeki. Ia khawatir tentang hari esok, takut tidak mendapatkan pekerjaan, takut kebutuhan tidak terpenuhi, bahkan terkadang rela mengorbankan prinsip agama demi mengejar dunia.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
> **«إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا»**
> “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) meniupkan ke dalam hatiku bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga ia menyempurnakan rezeki dan ajalnya.”
> *(HR. Ibnu Majah)*
Maka janganlah mengejar rezeki dengan cara yang haram. Jangan menjual agama demi dunia. Jangan merendahkan diri kepada manusia karena takut kehilangan sesuatu yang telah Allah tetapkan.
**Apa yang Allah tetapkan untukmu tidak akan meleset darimu.**
Sebagaimana ungkapan hikmah:
> **مَا كَانَ لَكَ سَيَأْتِيكَ، وَمَا لَمْ يَكُنْ لَكَ فَلَنْ تَنَالَهُ.**
> “Apa yang menjadi milikmu akan datang kepadamu, dan apa yang bukan milikmu tidak akan pernah dapat engkau raih.”
2. Jika Terhimpit, Larilah kepada Allah
Allah tidak mengatakan:
> “Larilah kepada manusia.”
Tetapi Allah berfirman:
> **﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ﴾**
> “Maka berlarilah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya kepada kalian.”
> *(QS. Adz-Dzariyat: 50)*
Inilah rahasia kekuatan seorang mukmin.
Ketika masalah datang, ia berwudhu.
Ketika hati gelisah, ia mengangkat tangan.
Ketika dunia terasa sempit, ia membuka mushaf.
Ketika manusia mengecewakan, ia mengingat Allah.
Sebab ia mengetahui bahwa **makhluk mempunyai keterbatasan, sedangkan Allah memiliki kekuasaan tanpa batas.**
Allah berfirman:
> **﴿أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ﴾**
> “Siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?”
> *(QS. An-Naml: 62)*
Maka jangan biarkan kesulitan menjauhkanmu dari Allah. **Jadikan kesulitan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya.**
3. Husnuzanlah kepada Allah
Seorang mukmin boleh menangis, tetapi jangan berputus asa. Ia boleh merasa lemah, tetapi jangan kehilangan tawakal. Ia boleh tidak mengetahui jalan keluar, tetapi ia harus yakin bahwa Allah mengetahuinya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
> **«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي»**
> “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
> *(HR. Bukhari dan Muslim)*
Betapa indah kehidupan orang yang berbaik sangka kepada Allah.
Hari ini mungkin sulit, tetapi Allah mampu mengubahnya menjadi mudah.
Hari ini pintu tertutup, tetapi Allah mampu membuka pintu yang tidak pernah kita bayangkan.
Hari ini kita menangis, tetapi Allah mampu menghadirkan kebahagiaan yang jauh lebih indah.
> **رُبَّ ضِيقٍ ظَنَنْتَهُ نِهَايَةً، فَكَانَ بَدَايَةَ فَرَجٍ عَظِيمٍ.**
> “Betapa banyak kesempitan yang engkau sangka sebagai akhir, ternyata ia menjadi awal dari kelapangan yang besar.”
4. Jangan Bergantung kepada Makhluk
Islam tidak melarang kita menggunakan sebab. Kita bekerja, berdagang, berobat, meminta bantuan, dan berusaha. Namun hati tidak boleh bergantung kepada sebab.
Sebab hanyalah jalan. **Allah-lah yang menciptakan hasilnya.**
Allah berfirman:
> **﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾**
> “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
> *(QS. Ath-Thalaq: 3)*
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> **«لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ»**
> “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.”
> *(HR. Tirmidzi)*
Burung keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar. Ia tetap terbang dan berusaha. Tetapi hatinya tidak bergantung kepada sayapnya. **Demikian pula seorang mukmin: berusaha dengan anggota tubuhnya, tetapi bergantung dengan hatinya kepada Allah.**
*Penutup: Berlarilah kepada Allah!*
Wahai saudaraku...
Jika dunia terasa sempit, **jangan menyerah!**
Jika rezeki terasa sulit, **jangan berputus asa!**
Jika manusia meninggalkanmu, **Allah tidak pernah meninggalkanmu!**
Jika semua pintu tertutup, **pintu Allah tetap terbuka!**
Jika engkau tidak tahu harus pergi ke mana, ingatlah firman-Nya:
> **﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ﴾**
> “Maka berlarilah kepada Allah.”
> *(QS. Adz-Dzariyat: 50)*
Lari kepada Allah dengan taubat.
Lari kepada Allah dengan shalat.
Lari kepada Allah dengan doa.
Lari kepada Allah dengan dzikir.
Lari kepada Allah dengan Al-Qur’an.
Lari kepada Allah dengan tawakal dan sabar.
Sebab pada akhirnya, **bukan banyaknya manusia yang menyelamatkan kita, bukan kuatnya harta yang menenangkan kita, dan bukan luasnya dunia yang membahagiakan kita. Hati hanya akan benar-benar tenang ketika kembali kepada Rabb-nya.**
Allah berfirman:
> **﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾**
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
> *(QS. Ar-Ra‘d: 28)*
> **إِذَا ضَاقَتْ بِكَ الدُّنْيَا، فَافْزَعْ إِلَى اللَّهِ، فَإِنَّ مَنْ كَانَ اللَّهُ مَعَهُ فَمَنْ عَلَيْهِ؟ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَمَنْ مَعَهُ؟**
> “Jika dunia terasa sempit bagimu, maka berlindunglah kepada Allah. Sebab siapa yang Allah bersamanya, siapakah yang mampu mencelakakannya? Dan siapa yang Allah menentangnya, siapakah yang mampu menolongnya?”
*Jangan takut kepada masa depan. Jangan terlalu sibuk menghitung kemungkinan buruk. Percayakan urusanmu kepada Allah, lakukan ikhtiarmu, perbaiki hubunganmu dengan-Nya, lalu tunggulah pertolongan-Nya dengan hati yang penuh harapan.*
Sebab boleh jadi pertolongan itu sedang menuju kepadamu dari arah yang sama sekali tidak pernah engkau sangka.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَنَسْأَلُكَ قُلُوبًا مُطْمَئِنَّةً بِكَ، وَنُفُوسًا رَاضِيَةً عَنْكَ، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً لَكَ، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً تُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ.
"Ya Allah, kami memohon kepada-Mu rezeki yang halal, baik, melimpah, dan penuh berkah; hati yang tenteram bersama-Mu; jiwa yang rida kepada-Mu; lisan yang senantiasa mengingat-Mu; serta amal saleh yang mendekatkan kami kepada-Mu." Batu Piring Balangan, 12 Agustus 2026 M/ 29 Shafar 1448 H*

0 Komentar