Kebiasaan Buruk Siswa, Lalai Mengerjakan PR

Oleh Ufairah Nur Afifa

Siswa Kelas 8H MTsN Padang Panjang 

Pendahuluan

BUKITTINGGI, kiprahkita.com Pemandangan ruang kelas yang riuh di pagi hari ini. Belasan siswa saling berebut menyalin tugas temannya. Ini sudah menjadi rahasia umum di banyak madrasah. 


Suasana di Kelas Impian 

Fenomena lalai mengerjakan pekerjaan rumah (PR) ini bukan lagi kasus satu atau dua anak saja, melainkan sudah bergeser menjadi kebiasaan buruk yang massal. PR yang seharusnya menjadi sarana evaluasi mandiri di rumah sering kali berakhir menjadi beban mental yang baru terpikirkan saat subuh menjelang.


Alasan yang dibawa siswa saat ditagih tugas pun sangat beragam, mulai dari lupa, tidak paham materi, hingga dalih ketiduran. Jika kebiasaan menunda dan menggampangkan tugas ini dibiarkan terus tumbuh, kualitas mental pembelajar para siswa taruhannya.


Jika kita kaji dari sudut pandang psikologi perkembangan remaja, tugas rumah sebenarnya didesain untuk melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab siswa di luar jam sekolah. PR berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan materi yang disampaikan guru di kelas dengan pemahaman mendalam siswa melalui latihan mandiri.


Kelalaian dalam menuntaskan tugas ini mencerminkan adanya masalah pada skala prioritas dan manajemen diri siswa yang belum matang. Masalah ini tidak boleh disepelekan orang tua karena berpotensi merusak integritas akademik melalui kebiasaan menyontek massal yang tidak jujur. Oleh karena itu, kita perlu membedah masalah ini secara jujur dari berbagai sudut pandang agar bisa menemukan solusi yang lebih menyentuh akar masalahnya.


Faktor terbesar yang paling sering dituding sebagai biang keladi dari kebiasaan buruk ini adalah kecanduan gawai yang sulit dikontrol oleh remaja di rumah. Sepulang sekolah, konsentrasi siswa langsung teralihkan oleh godaan untuk bermain game online atau berselancar di media sosial selama berjam-jam. Waktu sore yang seharusnya bisa dicicil untuk menyelesaikan PR justru habis mengalir begitu saja demi kesenangan sesaat di dunia maya. Ketika malam sudah larut dan tubuh sudah merasa sangat lelah, barulah mereka teringat akan kewajiban tugas sekolah yang belum disentuh sama sekali. Alhasil, rasa kantuk yang luar biasa memaksa mereka memilih untuk langsung tidur dan membiarkan buku tugasnya tetap kosong melompong.


Selain masalah gawai, kelelahan fisik akibat jadwal aktivitas sekolah yang terlalu padat juga menjadi alasan yang cukup masuk akal. 


Banyak siswa madrasah yang menghabiskan waktu seharian penuh untuk mengikuti program kelas hingga sore hari, lalu dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Setibanya di rumah, energi mereka sudah terkuras habis dan otak mereka sudah terlalu jenuh untuk diajak berpikir keras lagi. Kondisi fisik yang lelah ini membuat motivasi belajar mereka menurun drastis saat berada di lingkungan rumah. Akibatnya, PR sering kali dianggap sebagai beban tambahan yang menyiksa daripada sebagai sarana belajar yang menyenangkan.


Faktor luar yang tidak kalah pentingnya adalah kurangnya perhatian dan kontrol ketat dari orang tua selama anak berada di rumah.


Banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri atau menganggap bahwa urusan belajar sepenuhnya adalah tanggung jawab sekolah. Mereka jarang sekali menanyakan apakah anak-anak mereka memiliki tugas rumah atau kesulitan dalam memahami pelajaran tertentu. Tanpa adanya pengawasan dan batasan waktu yang jelas dari orang tua, anak akan merasa bebas untuk bermalas-malasan tanpa beban. Lingkungan rumah yang terlalu longgar ini akhirnya sukses membentuk karakter anak yang menggampangkan segala urusan akademisnya.


Dampak buruk dari kebiasaan melalaikan PR ini bisa langsung terlihat nyata dari anjloknya nilai harian siswa saat dievaluasi. 


Siswa yang tidak mengerjakan PR otomatis kehilangan kesempatan untuk menguji sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang sudah diajarkan. Saat guru membahas tugas tersebut di kelas, siswa yang lalai ini hanya bisa diam kebingungan tanpa bisa ikut berpartisipasi aktif. Rasa tidak tahu ini akan terus terakumulasi hingga membuat mereka kelabakan saat menghadapi ujian semester yang sesungguhnya. Jangan heran jika pada akhirnya performa akademik mereka tertinggal jauh di belakang teman-temannya yang rajin berlatih di rumah.


Efek domino yang jauh lebih berbahaya dari fenomena ini adalah rusaknya moral akademik siswa akibat maraknya budaya menyontek.


Demi menghindari amarah guru atau sanksi nilai nol, jalan pintas berupa menyalin kerjaan teman menjadi pilihan yang paling instan setiap pagi. Mereka tidak lagi malu untuk menyalin bulat-bulat jawaban milik temannya tanpa mau memahami proses berpikir di balik jawaban tersebut. Praktik culas yang dilakukan secara berjamaah ini lambat laun akan mengikis nilai kejujuran yang dijunjung tinggi di madrasah. Jika mentalitas penjiplak ini terus dipelihara, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang rapuh dan suka menghalalkan segala cara.


Dari sudut pandang nilai karakter religius, kelalaian dalam menepati tugas ini sebetulnya mencederai prinsip amanah dalam Islam.


Sebagai seorang pelajar, tugas dan kewajiban belajar adalah bentuk amanah dari orang tua dan guru yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Sikap mengabaikan tugas mencerminkan kurangnya rasa disiplin dan tidak menghargai waktu yang menjadi modal utama seorang Muslim untuk sukses. Madrasah seharusnya menjadi tempat di mana karakter tanggung jawab ini ditempa kuat-kuat melalui pembiasaan tugas yang konsisten. Oleh karena itu, pendekatan spiritual perlu disentuh kembali agar siswa sadar bahwa belajar adalah bagian dari ibadah yang menuntut kesungguhan.


Untuk mengatasi benang kusut ini, guru di madrasah perlu mengevaluasi kembali strategi pemberian tugas agar tidak terkesan monoton dan menyiksa.


PR yang diberikan sebaiknya tidak terlalu banyak berupa hafalan atau soal rumit yang justru membuat siswa frustrasi di rumah. Guru bisa mencoba memberikan PR yang sifatnya lebih aplikatif, kreatif, atau berbasis proyek sederhana yang menarik minat siswa. Pemberian tenggat waktu yang longgar dan manusiawi juga akan memberikan ruang bagi siswa untuk mengatur jadwal belajarnya dengan lebih rileks. Jika tugas yang diberikan dirasa seru dan bermanfaat, motivasi intrinsik siswa untuk mengerjakannya pasti akan tumbuh dengan sendirinya.


Langkah tegas berupa penerapan sanksi yang mendidik juga harus tetap ditegakkan oleh guru di dalam kelas tanpa pandang bulu.


Bagi siswa yang nekat tidak mengerjakan PR, mereka tidak boleh dibiarkan bebas begitu saja tanpa ada konsekuensi yang mengikat. Hukuman tidak perlu berupa bentakan atau pengusiran dari kelas, melainkan kewajiban menyelesaikan tugas tersebut di ruang perpustakaan saat jam istirahat tiba. Kebijakan ini akan memberikan efek jera yang halus karena mereka harus merelakan waktu bersenang-senang bersama teman demi menebus kelalaiannya. Konsistensi guru dalam menegakkan aturan ini sangat krusial agar siswa paham bahwa setiap kelalaian pasti ada konsekuensinya.


Pihak madrasah juga bisa memanfaatkan platform digital untuk memantau tugas secara transparan bersama wali murid. 


Setiap kali guru memberikan PR, detail tugas dan batas pengumpulannya harus diunggah ke sistem yang bisa diakses langsung oleh orang tua. Dengan adanya integrasi data ini, orang tua di rumah tidak bisa lagi dibohongi dengan kalimat klasik anak yang mengaku tidak ada PR. Transparansi informasi ini akan memaksa orang tua untuk ikut bertanggung jawab memantau perkembangan akademis anak mereka setiap malam. Sinergi digital ini terbukti sangat ampuh untuk mempersempit ruang bagi siswa yang gemar menunda-nunda pekerjaan.


Peran aktif orang tua di lingkungan domestik tetap menjadi fondasi paling utama dalam memutus rantai kelalaian siswa ini.


Orang tua harus tega dan disiplin dalam menetapkan jam wajib belajar di rumah, misalnya dari jam tujuh sampai jam sembilan malam. Selama jam tersebut berlangsung, semua gawai dan televisi harus dimatikan agar anak bisa fokus penuh pada buku pelajarannya. Orang tua juga perlu hadir secara fisik di samping anak untuk sekadar memberikan semangat atau membantu menguraikan soal yang dianggap sulit. Pendampingan yang hangat dari orang tua akan membuat anak merasa didukung dan lebih bertanggung jawab atas tugasnya.


Selain sanksi, madrasah juga perlu memberikan suntikan motivasi berupa apresiasi bagi siswa yang selalu mengumpulkan PR tepat waktu. Bentuknya tidak harus mahal, cukup dengan memberikan bintang prestasi di papan mading kelas atau pujian langsung di depan teman-temannya. Pengakuan sederhana dari seorang guru memiliki dampak psikologis yang sangat besar bagi peningkatan rasa percaya diri seorang remaja. Hal ini juga bisa memicu persaingan sehat di dalam kelas, di mana siswa lain akan merasa tertantang untuk ikut mendapatkan apresiasi serupa. Pendekatan positif seperti ini sering kali jauh lebih efektif mengubah perilaku anak ketimbang terus-menerus dicekoki dengan ancaman hukuman.


Terakhir, pengurus OSIM bisa dilibatkan untuk menciptakan atmosfer belajar kelompok yang suportif di luar jam pelajaran sekolah. OSIM bisa menginisiasi program tutor sebaya atau komunitas belajar kecil di mana para siswa bisa saling membantu menyelesaikan tugas yang sulit. Belajar bersama teman sebaya biasanya terasa jauh lebih santai, seru, dan tidak menegangkan bagi psikologis remaja yang sedang berkembang. Melalui program ini, siswa yang kurang paham materi tidak perlu malu bertanya karena yang menjelaskan adalah teman mereka sendiri. Lingkungan pertemanan yang positif dan produktif seperti inilah yang akan pelan-pelan mengikis budaya malas mengerjakan PR.


Penutup


Kesimpulan yang bisa kita tarik adalah bahwa kebiasaan buruk siswa yang lalai mengerjakan PR merupakan penyakit menahun yang tidak boleh diabaikan. Akar masalahnya sangat kompleks, mulai dari lemahnya kontrol diri terhadap gawai, faktor kelelahan, hingga longgarnya pengawasan di rumah. Dampak kelalaian ini nyata-nyata merugikan nilai akademik siswa serta menyuburkan budaya menyontek masal yang merusak moral kejujuran. Menyelesaikan masalah ini jelas bukan tugas guru mata pelajaran sendirian yang harus terus-menerus marah di dalam kelas setiap pagi. Perlu ada komitmen kolektif dan sinergi yang kuat antara pihak madrasah, keteladanan guru, serta ketegasan orang tua di rumah.


Sebagai saran penutup, madrasah sebaiknya segera menerapkan sistem kontrol tugas berbasis digital yang melibatkan peran aktif orang tua. Guru juga diharapkan lebih bijak dan kreatif dalam merancang bobot tugas agar tidak membuat siswa jenuh dan stres di rumah. Bagi orang tua, mari lebih peduli dan konsisten dalam menerapkan jam wajib belajar serta membatasi waktu bermain gawai bagi anak. Untuk para siswa sendiri, ubahlah pola pikir kalian dan sadarilah bahwa PR bukanlah hukuman, melainkan anak tangga untuk menggapai masa depan. Dengan kerja sama yang kompak dari semua pihak, budaya menyontek di pagi hari pasti bisa kita hilangkan dari lingkungan madrasah. Ufairah*

Posting Komentar

0 Komentar