Berawal dari kehidupan sederhana di lingkungan masjid, Hanifa Humaira Mumtazah, remaja berusia 17 tahun asal Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, akhirnya menginjakkan kaki di Mesir untuk mengejar cita-citanya menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar.
Dalam wawancara bersama Cover Minangindo, ibunda Hanifa, Vivia Juita (41), menceritakan perjuangan putri sulungnya hingga berhasil berangkat ke Negeri Piramida tersebut.
Hanifa merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya, Ustaz Rodi Wakyudi, sehari-hari bertugas sebagai imam Masjid Raya Mujahidin sekaligus guru mengaji. Keluarga mereka tinggal di ruangan lantai dua masjid yang berada di kawasan Pasar Mudik, Lubuk Alung.
Kedekatan Hanifa dengan Al-Qur’an telah tumbuh sejak kecil. Ia mulai menghafal Al-Qur’an pada usia empat tahun dan meraih Juara I MTQ tingkat Provinsi Sumatera Barat cabang tilawah tingkat taman kanak-kanak pada 2015, saat usianya baru tujuh tahun.
Berbagai prestasi di bidang tahfiz, tilawah, pidato bahasa Arab, dan kepesantrenan terus diraihnya hingga menempuh pendidikan di sejumlah pondok pesantren di Sumatera Barat.
Namun, perjuangan menuju Mesir tidak mudah. Meski memperoleh pembebasan UKT, keluarga masih harus menyiapkan biaya keberangkatan dan pembekalan yang menurut keterangan ibunya mencapai sekitar Rp44 juta.
Hanifa bahkan sempat berpikir untuk mengurungkan niatnya karena turut memikirkan pendidikan ketiga adiknya. Namun, sang ibu terus menguatkannya agar tidak menyerah.
“Selama sandaran kita adalah Allah, tetaplah berharap dan berjuang. Teruslah melayakkan diri untuk menjemput pertolongan Allah,” pesan Vivia kepada putrinya.
Berkat ikhtiar keluarga dan bantuan para dermawan, Hanifa akhirnya berangkat pada 18 Oktober 2026 dan tiba dengan selamat di Mesir pada 21 Oktober 2026.
Ia bercita-cita mendalami bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas Al-Azhar. Perjalanan pendidikannya masih panjang, tetapi keberangkatannya menjadi langkah penting dalam mewujudkan mimpi yang telah diperjuangkan sejak duduk di bangku SMP.
Vivia berharap putrinya kelak tidak hanya meraih gelar akademik, tetapi juga menjadi perempuan berilmu yang menjaga Al-Qur’an dan membawa manfaat bagi umat.
Kisah Hanifa menjadi pengingat bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari lingkungan masjid di Lubuk Alung, ia membawa harapan keluarga dan doa banyak orang untuk menuntut ilmu di negeri yang selama ini hanya hadir dalam impian.
Wawancara Cover Minangindo bersama Vivia Juita, ibunda Hanifa Humaira Mumtazah. *

0 Komentar