Kehadiran Dakwah di Mentawai - Kiprah Kita | Nuansa Baru

Breaking News

close

Selasa, 02 April 2024

Kehadiran Dakwah di Mentawai

Laporan Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd. (LDK PP Muhammadiyah)


MENTAWAI, kiprahkita.com - Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ditugaskan khusus oleh Persyarikatan Muhammadiyah untuk berdakwah di kalangan komunitas.


Objek dakwah itu mencakup komunitas atas, golongan elite minority, orang yang memiliki kelebihan harta benda, professional, politisi dan selebriti.


Golongan ini tentu kelompok strategis yang berpengaruh terhadap kebijakan dan haluan berbangsa, bernegara dan beragama, mereka sedikit tetapi sangat strategis untuk efektifitas dakwah secara makro dan mikro di negara ini. 


Demikian juga halnya kelompok menengah. Kelompok ini hanya satu oktaf di bawah kelompok kelas atas, profesi dan tabiatnya sama, tetapi episentrum pengaruhnya agak berbeda dengan kelompok kelas atas. 

Kelompok kelas atas berpengaruh pada tataran strategi kebangsaan, kelompok menengah berpengaruh terhadap mobilitas bangsa. 


Objek dakwah komunitas kelas atas dan menengah ini sangat strategis, dapat menjangkau objek dakwah pada komunitas yang lainnya, karena objek dakwah ini akan memberikan asupan nutrisi segar yang yang dapat dimanfaatkan dalam percepatan mobilitas gerakan dakwah pada komunitas yanglain. 


Tetapi permasalahannya, mendapatkan objek dakwah komunitas ini dan memelihara keberlangsungannya cukup sulit dan rumit, membutuhkan akseptabilitas personal dai, kapabilitas intelektualitas dan kompetensi personal yang mumpuni, kepiawaian dalam berkomunikasi dan networking power yang kuat dan handal, sehingga dapat merajut dan menghimpun para elit dalam komunitas tertentu, berbasis hobi dan kepentingan. 


Komunitas bawah pada umumnya kalangan awam, benar-benar membutuhkan sentuhan dakwah dan penguatan finansial. 


Mereka kelompok penunggu yang senantiasa menerima siapa saja yang datang menyapa dan memberikan uluran tertentu untuk keberlangsungan kehidupan mereka. Mereka ada di kota dan di desa. 


Di kota mereka dikenal sebagai kelompok marginal, yang gagal dalam menikmati keberkahan pembangunan yang telah diberikan oleh pemerintah. 


Di kampung-kampung dan dipelosok negeri, mereka yang belum menikmati kue pembangunan yang ditabur oleh pemerintah. 


Mereka ada di daerah terluar dari geografis negara kepulauan kita, berada pada posisi terdepan dari gugusan pulau-pulau yang ada di nusantara, mereka yang mengalami ketertinggalan dari laju pembangunan yang tengah berlari. 


Satu kepulauan yang terluar yang tengah digarap oleh Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah adalah Kepulauan Mentawai. Kepualauan ini terdiri dari tiga pulau besar, Siberut, Sipora, dan Pagai. 


Luas wilayah 6.033,76 km2. Jumlah populasi 93.313 berada pada 10 Kecamatan dan 43 Desa. Muslim sebanyak 22,22 persen, selebihnya Katolik dan Kristen 77,59 persen, dan masih animisme 0,19 persen. 

Indek lama pendidikannya 7,2 Tahun. Indek Pembangunan Manusianya 61,35. Selain tiga pulua besar tersebut, Mentawai mempunyai pulau-pulau kecil lebih kurang 103 (seratus tiga) buah, yang sangat potensial untuk dijadikan sebagai sumber daya alam, pertanian palawija. 


Selain pulau potensi laut sangat luar biasa, berbagai jenis ikan komoditas ekspor ada di Mentawai, Lobster, Kerapu, Gurita, Cumi, Kakap, Kepiting, dan berbagi jenis kerang laut. Bakau dan terumbu karang sangat mempersona. Deburan ombak membuat para tourist manca negara betah berselancar menyelam di kepulauan tersebut. 


Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah, sebagai eksponensial bangsa ikut berkontribusi memberikan pencerahan dan pemberdayaan untuk komunitas kelas bawah, yang rata-rata mereka petani dan nelayan yang berada di pulau Sipora dan Siberut. 


Kami datang memberikan penguatan keagamaan pada saudara-saudara yang beru mengalami konversi keagamaan, dari dulunya menganut kepercayaan menjadi muslim. 


Pada 29-31 Maret 2024 mereka diberikan penguatan aqidah Islamiyah, penertiban ibadah mahdah, dan menggembirakan keberagamaan dengan memberikan tuntunan tata cara dan adabul Islam dalam kehidupan sosial dan budaya. 


Disamping itu, Muhammadiyah memberikan konstribusi dalam bentuk rehabilitas ringan rumah ibadah, yang dititipkan oleh Universitas Aisyiyah Yogyakarta, perupa pengecatan dan pengadaan karpet mushalla. 


Kami dan rombongan melakukan survey ke sebuah desa yang yang berada pada belahan timur Pulau Sipora: Desa Matobek.  Di sana berdiri Mushalla Nurul Yaqin, berada pada bibir muara Matobek. 


Di sinilah awal muawal Islam masuk di Kepulauan Mentawai yang dibawa oleh Ustad Burhanuddin, putra Asli Payakumbuh, melaksanakan dakwah Islam pada awal kemerdekaan Republik Indonesia. 


Gerakan dakwah yang dibawa oleh sang ustad mengalami keterputusan, karena mesin dakwahnya mengalami kelambanan gerak, sehingga kaum mukminin mengalami pertukaran iman dan pencopotan aqidah Islamiyah, oleh saudara yang berbeda agama. 


Saudara agama lain lebih kencang mesin misionnya dibandingkan dengan mesin dakwah Islamiyah. Pelan tapi pasti, beberapa mukminin pindah agama dan mendirikan kampung baru di bantaran sungai tersebut. 


Dakwah komunitas untuk daerah terdepan dan terluar ini, membutuhkan mesin dakwah yang kuat dan stabil. Amunisi dan nutrisi sangat dibutuhkan oleh teman-teman dai lapangan. 


Mereka tidak memiliki penghasilan yang memadai, selain dari kiriman dari lembaga kepada personal dai. 


Ada beberapa dai yang berusaha untuk mengembangkan usaha, diantaranya dengan membuat budidaya ikan dan pengolahan ikan kering, tetapi semua itu membutuhkan modal dan manajemen, sementara waktu dakwah memerlukan durasi yang tidak terbatas, dengan daya jelajah serta daya jangkau yang cukup jauh, dan memakan energi dan kestabilan emosional. 


Saya ditunjukkan oleh Ustad Jafar, mereka mengantarkan hewan kurban ke suatu tempat, menempuh jarak lebih dari tiga puluh kilometer dengan berjalan kaki, dengan ruas jalan setapak, berlumpur dan bersemak. 


Hewan kurban diantar siang, sampai ke tempat waktu pagi, menjelang pelaksanaan Shalat Idul Adha. Dalam pelaksanaan Idul Adha tersebut, sang ustad juga harus tampil berkhutbah di hadapan jamaah, selesai khutbah menyembelih dan menguliti hewan kurban tersebut. 


Dengan tidak memiliki honorarium berupa materi, tetapi luapan kebahagiaan kaum muslimin yang menikmati daging kurban, melebihi dari upah dan honor yang diberikan kepadanya. 


Bravo Ustad Jafar dan teman-teman mujahid dakwah di Kepulauan Mentawai, semoga Anda prioritas utama dari Malaikat Ridwan, terdepan masuk surga.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar