Sulitnya Mengubah Mindset Masyarakat dan Kasus Konkret Lembah Anai, Flyover Kelok Sembilan
Tantangan Mengubah Mindset Masyarakat: Antara Cuan dan Kelestarian
TANAH DATARA, kiprahkita.com –Mengubah perilaku masyarakat bukan sekadar program atau imbauan. Bahkan bagi seorang pemimpin, itu adalah pekerjaan paling berat dan rumit. Apalagi jika berhadapan dengan masyarakat yang memiliki akar budaya kuat namun terhimpit kebutuhan ekonomi yang mendesak. Hal ini nyata terlihat dalam berbagai kejadian di Sumatera Barat, termasuk di kawasan Lembah Anai dan Fly Over Kelok Sembilan.
![]() |
Suasana Pemandian Lembah Anai |
![]() |
Gubernur Saat Merelokasi Pedagang Kelok 9 |
![]() |
Wisata Air di Lembah Anai Tanah Datar |
Sumatera Barat dikenal dengan filosofi adat "adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah"—sebuah panduan moral dan budaya yang menjunjung tinggi norma, etika, dan keberlanjutan hidup. Namun, realita sosial-ekonomi sering kali berbicara lain. Masyarakat yang dulunya menjaga tanah adat kini mulai membuka lahan secara ilegal, membangun objek wisata di kawasan rawan bencana, bahkan bertindak ekstrem dengan kekerasan demi motif pribadi.
Sebagai contoh, tragedi galodo (banjir bandang) yang melanda Lembah Anai belum lama ini menyisakan luka dan trauma. Namun hanya beberapa saat setelah itu, muncul lagi aktivitas pembangunan pemandian wisata di aliran sungai yang sama. Ini bukan sekadar tentang minimnya kesadaran lingkungan, tapi soal pertarungan antara logika ekonomi dan urgensi konservasi. Masyarakat butuh penghasilan, sementara alam menuntut perlindungan.
Ketika penertiban dilakukan oleh Kementerian Kehutanan melalui BKSDA, resistensi justru muncul. Banyak yang menilai bahwa penertiban itu menghambat roda ekonomi lokal. Padahal, penertiban itu penting untuk menyelamatkan kawasan konservasi dan mencegah bencana terulang kembali.
Penyebab Sulitnya Perubahan Mindset Masyarakat:
Kebutuhan Ekonomi yang Mendesak
Ketika perut lapar, nilai adat bisa digeser. Masyarakat yang berada di pinggir kawasan hutan atau daerah rawan bencana seringkali melihat alam sebagai peluang ekonomi instan, bukan warisan yang harus dijaga.
Minimnya Literasi Lingkungan Sejak Kecil
Banyak masyarakat belum memahami dampak jangka panjang dari eksploitasi alam. Sosialisasi dan edukasi seringkali tidak menyentuh akar persoalan, bahkan tak jarang dilakukan hanya formalitas.
Keteladanan yang Lemah dari Elite
Jika pemimpin lokal atau tokoh adat sendiri tidak memberikan teladan dalam menjaga lingkungan atau mematuhi aturan, maka sulit mengharapkan masyarakat untuk taat.
Ketegangan antara Hukum Negara dan Nilai Lokal
Penertiban sering dianggap sebagai tekanan dari luar, bukan bagian dari kesadaran internal. Padahal, seharusnya ada integrasi antara aturan negara dan nilai adat.
Kurangnya Alternatif Ekonomi Berkelanjutan
Selama tidak ada pilihan ekonomi lain yang ramah lingkungan, masyarakat akan tetap membuka lahan, membangun wisata ilegal, atau berdagang di zona merah bencana.
Perubahan mindset tidak bisa instan. Ia harus dibangun lewat pendidikan, teladan, pendekatan budaya, dan tentu saja, penyediaan alternatif ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah dan tokoh masyarakat perlu berjalan bersama, bukan hanya menindak tapi juga membina. Karena jika tidak, cuan akan tetap menang melawan kelestarian, dan tragedi demi tragedi akan terus berulang.
Hubungan Fenomena Lembah Anai, Fly Over Kelok Sembilan, dan Sulitnya Perubahan Mindset Masyarakat
Fenomena yang terjadi di Lembah Anai dan Fly Over Kelok Sembilan mencerminkan benturan antara nilai ideal dan realitas sosial. Di satu sisi, masyarakat Sumatera Barat menjunjung tinggi adat dan agama, seperti filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”. Namun di sisi lain, perilaku sehari-hari tidak selalu mencerminkan nilai itu — terutama ketika dihadapkan pada kebutuhan ekonomi atau godaan keuntungan sesaat.
Sumbar dikenal sebagai daerah dengan budaya dan agama yang kuat. Tapi munculnya tindakan kekerasan ekstrem (seperti kasus mutilasi), eksploitasi alam, hingga pembangunan liar di zona rawan bencana menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai dan perilaku nyata.
Ini menandakan bahwa mindset masyarakat belum sepenuhnya sejalan dengan nilai luhur yang mereka anut secara lisan atau simbolik.
Setelah galodo memporak-porandakan kawasan Lembah Anai, muncul lagi aktivitas wisata liar di aliran sungainya. Ini menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan belum tumbuh secara kolektif. Mindset jangka pendek (cuan hari ini) lebih kuat daripada kesadaran jangka panjang (keamanan dan kelestarian).
Ketika pemerintah melakukan penertiban di kawasan konservasi, seperti di Lembah Anai dan Kelok Sembilan, tidak sedikit masyarakat yang menolak. Ini memperlihatkan bahwa mindset masyarakat masih melihat aturan sebagai ‘gangguan’, bukan pelindung masa depan. Artinya, perubahan perilaku belum terjadi secara menyeluruh.
Perubahan mindset sulit terjadi kalau tidak dibarengi dengan solusi konkret dan berkelanjutan. Jika masyarakat hanya diberi larangan tanpa diberi alternatif sumber penghidupan yang halal dan lestari, maka perubahan perilaku hanya akan bersifat sementara. Maka, penertiban tanpa edukasi dan solusi justru bisa memicu konflik sosial.
Pemimpin daerah ditantang bukan hanya membuat aturan, tapi mengubah pola pikir dan perilaku warganya. Ini jelas lebih sulit dari pembangunan fisik. Kasus Lembah Anai adalah cerminan bagaimana tantangan perubahan mindset jauh lebih berat daripada sekadar membangun jembatan atau flyover.
Jadi, hubungan antara kejadian di Lembah Anai dan Fly Over Kelok Sembilan dengan sulitnya mengubah mindset masyarakat adalah:
Fenomena itu menunjukkan bahwa sistem nilai, kesadaran lingkungan, dan perilaku masyarakat belum selaras. Perubahan mindset memerlukan edukasi, teladan, solusi ekonomi, serta pendekatan budaya yang konsisten. Pemerintah daerah bisa mencarikan lokasi yang aman untuk masyarakat yang bermatapencarian di sana. Ada relokasi tentu harus ada solusi bagi masyarakat tersebut.
Lembah Anai
Wilayah ini berada di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Padang Panjang, Sumbar. Terkenal sebagai kawasan konservasi dan objek wisata alam (air terjun, jalur rel legendaris, hutan tropis). Namun, Lembah Anai juga jadi lokasi rawan bencana, terutama banjir bandang (galodo) yang terjadi pada 11 Mei 2024 lalu — menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur.
Setelah itu, muncul kembali aktivitas pembangunan spot wisata di area yang sama, padahal itu zona rawan dan kawasan lindung.
Fly Over Kelok Sembilan
Fly over ini membentang di kawasan perbukitan antara Kabupaten Limapuluh Kota (Sumbar) dan Riau. Pemandangannya luar biasa indah dan banyak dijadikan spot wisata tak resmi.
Meski begitu, aktivitas ekonomi di sekitar flyover sering melanggar aturan tata ruang, seperti bangunan liar atau warung semi permanen yang mengganggu fungsi jalan nasional dan ekosistem sekitarnya.
Penertiban oleh pihak berwenang (seperti BKSDA atau Satpol PP) kerap mendapat penolakan dari warga karena dianggap "mengganggu mata pencarian".
Sulitnya mengubah mindset masyarakat dan kasus konkret seperti yang kita sebutkan (Lembah Anai, Flyover Kelok Sembilan, dll) ini bisa dipakai untuk opini, pelajaran, atau refleksi bagi kepemimpinan daerah. (Yus MM/BS)*
0 Komentar