Huntara Sudah Dihuni, Korban Terdampak Banjir Serasa Dapat Rumah Baru
PADANG, kiprahkita.com –Mata Mak Wet salah seorang korban bencana banjir dan galodo Kota Padang itu berair. Perasaannya campur aduk. Antara sedih dan senang. Matanya tak henti menatap rumah ukuran 6x6 meter di hadapannya.
Hari ini, Mak Wet dan kedua anaknya menempati “rumah baru”. Rumah hunian sementara (Huntara) di Kampung Nelayan, Kecamatan Koto Tangah, Padang, menjadi tempatnya untuk berteduh sementara waktu.
![]() |
| Huntara oleh Diskominfo Kota Padang |
“Rumah kami hanyut dibawa banjir, tak ada yang bersisa,” ujar Mak Wet ketika diwawancarai Diskominfo Padang, di Huntara Kecamatan Koto Tangah, Kamis (11/12/2025).
Mak Wet merupakan salah satu korban bencana banjir bandang 28 November 2025 lalu. Rumahnya di Kampung Apa, Lubuk Minturun dibawa hanyut. Begitu juga dua rumah saudaranya yang ikut dibawa arus pada pagi nahas itu.
“Setelah kejadian kami mengungsi ke Masjid Al Hijrah dekat rumah, hampir dua pekan kami di pengungsian dan sekarang di sini (Huntara),” kenang Mak Wet.
Rumah yang ditempati Mak Wet di Huntara cukup nyaman. Ada dua kamar. Satu kamar utama, dan satu lagi kamar untuk anak. Di setiap kamar sudah ada tempat tidur spring bed ukuran besar. Sedangkan untuk anak, tempat tidur bertingkat lengkap dengan spring bed.
Di bagian ruang tamu juga telah tersedia kursi tamu berikut meja. Di ruang tengah juga terdapat meja makan sederhana. Kipas angin disiapkan. Jendela sudah ada gorden. Di bagian dapur sudah tersedia kompor beserta tabung gas. Air sumur juga sudah mengalir.
“Semuanya lengkap di sini, barangnya baru-baru,” kata Mak Wet.
Di Huntara terdapat 80 unit rumah. Semua rumah memiliki fasilitas yang sama. Tidak ada yang membedakan. Terasa nyaman, tak sesempit di pengungsian, pastinya. Alhamdulillah.
Korban banjir lainnya, Dani, juga menempati salah satu rumah di Huntara, Kampung Nelayan. Dani merupakan warga Batu Busuk, Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. Rumahnya juga hanyut terbawa arus sungai pada 28 November 2025 lalu.
“Kawasan bekas tempat tinggal kami sudah jadi sungai, digaris merah oleh pemerintah untuk tidak membangun rumah di sana,” ungkap Dani.
Begitu mendengar ada Huntara bagi korban terdampak bencana banjir, dirinya beserta istri dan ketiga anaknya sangat antusias untuk segera menempati. Apalagi anaknya paling kecil yang berusia dua bulan sedang sakit. Wajahnya terluka dan infeksi saat di pengungsian.
“Anak kami sakit, kalau di pengungsian, berbaur, kalau di sini hanya kami sekeluarga, anak bisa diobati secara maksimal,” ujar Dani dibenarkan istrinya, Rifi.
Dani sekeluarga menempati rumah Huntara pada Kamis siang. Mereka diantarkan pihak kelurahan. Dani sekeluarga merasa senang.
“Terimakasih kepada Pemerintah Kota Padang yang sudah memikirkan nasib kami yang sudah kehilangan rumah, kini berganti rumah baru, meski hanya sementara, jadilah,” ungkap Dani.
Kepala UPTD Rusunawa dan Rusus Kota Padang, Angga Liberdo mengatakan bahwa hingga hari kedua dibukanya Huntara di Kampung Nelayan, sudah 79 keluarga yang menempati 80 unit rumah.
Di hari pertama dibuka, Rabu (10/12/2025), sebanyak 30 kepala keluarga dari Kecamatan Koto Tangah langsung menempati 30 unit rumah. Kemudian di hari kedua, Kamis (11/12/2025), sebanyak 38 kepala keluarga dari Kecamatan Pauh dan 11 kepala keluarga dari Kecamatan Kuranji datang menempati rumah Huntara.
“Rumah khusus yang dijadikan Huntara ini sudah kita siapkan jauh-jauh hari, kelengkapan isi rumah sudah seratus persen, tinggal pengecatan, seiring berjalan waktu kita lakukan,” ungkap Angga.
Menurut Angga, warga yang menempati rumah merasa sangat nyaman. Korban banjir tidak lagi merasa terbebani. Mereka nyaman di tempat baru.
“Setelah ini kita menyiapkan rumah di tempat lain, rencananya di Rusunawa Lubuk Buaya, tapi kita sekarang fokus dulu di sini (Huntara Rusus Rumah Nelayan),” ungkapnya.
Pemerintah Kota Padang memang telah berkomitmen membantu mencarikan tempat hunian sementara bagi korban terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu. Wali Kota Padang, Fadly Amran ketika itu langsung menunjuk rumah khusus di Kampung Nelayan, Kecamatan Koto Tangah sebagai tempat hunian sementara (Huntara) bagi korban bencana. Gerak cepat dilakukan dengan membersihkan rumah agar nyaman. Barang-barang kebutuhan juga dilengkapi.
Setelah selesai dibersihkan dan “dibedaki”, akhirnya Huntara ditempati korban banjir. Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Maigus Nasir datang melihat. Senyuman warga yang menempati rumah telah menghilangkan kekhawatiran wali kota dan wakil wali kota selama ini. Kini, korban banjir sudah tenang di rumah barunya. Tidak lagi merasa gundah gulana ketika tidur di pengungsian.(Charlie Ch. Legi)
Cerita Mak Wet Bertahan Tiga Jam Dekap Pohon Kelapa
Kota Padang dilanda hujan berkepanjangan, namun Jumat subuh, 28 November 2025, menjadi hari paling mencekam bagi Yuli Wetri (Mak Wet) dan warga Kampung Apar, Koto Panjang, Koto Tangah. Ketika air bah dari sungai belakang rumahnya tiba-tiba masuk dengan deras, Mak Wet harus berjuang mati-matian menyelamatkan diri dan kedua anaknya.
Air Bah Datang, Rumah Hanyut dalam Sekejap
Usai menunaikan salat Subuh, Mak Wet melihat air sungai mulai naik. Tak lama kemudian, air masuk rumah dengan sangat kencang. Berbekal kasur, Mak Wet mencoba mengevakuasi Aura (11) dan Serli menuju Musala di depan rumah.
Di tengah perjuangan melawan arus, suara gemuruh tiba-tiba terdengar. Mak Wet menoleh ke belakang dan menyaksikan momen yang tak terlupakan: rumah tempatnya berteduh hanyut terseret arus sungai.
Keterkejutan itu membuat kasur yang didorongnya terbalik, menjatuhkan Aura ke dalam air. Arus yang kuat membuat Mak Wet kewalahan menolong.
Tiga Jam Dekap Batang Kelapa
Beruntung, arus deras membawa ibu dan anak itu ke arah dua batang pohon kelapa yang berdekatan. Mereka berpegangan erat di masing-masing pohon. Namun, air terus naik ke dada.
Mak Wet segera memanjat pohon kelapa sehabis-habis napas, diikuti oleh putrinya, Aura. Dari ketinggian pohon, Mak Wet menjadi saksi langsung keganasan banjir bandang.
“Saya lihat langsung bagaimana derasnya air menghantam rumah, gelondongan kayu juga menerjang hingga hancur. Seperti mau kiamat rasanya,” kenang Mak Wet.
Mereka berteriak minta tolong, namun tak ada warga yang bisa membantu karena sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Dingin menyergap, dan Mak Wet harus mencengkeram erat batang pohon, khawatir tergelincir sedikit saja akan terbawa arus. Ia terus berdoa agar mereka diselamatkan.
Selama kurang lebih tiga jam Mak Wet dan Aura bertahan hidup di puncak pohon kelapa, hingga akhirnya air perlahan surut.
Hunian Sementara Jadi Harapan Baru
Setelah selamat, Mak Wet dan Aura turun dan bergegas mencari Serli yang ternyata berhasil selamat di Musala. Mereka kemudian dievakuasi ke Posko pengungsian di Masjid Al Hijrah.
Mak Wet, yang telah lama ditinggal mati suaminya, kini menjadi salah satu korban yang rumahnya hanyut total. Setelah dua pekan di pengungsian, Mak Wet bersama kedua anaknya dan saudara-saudaranya memilih menetap di Hunian Sementara (Huntara) yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Padang di Kampung Nelayan, Kecamatan Koto Tangah.
Huntara yang disiapkan sebanyak 80 unit ini menjadi tempat tinggal sementara yang menjamin ketenangan dan kesehatan para penyintas banjir, sembari pemerintah menyiapkan rumah tetap bagi seluruh korban yang kehilangan tempat tinggal.
"Alhamdulillah ada tempat menetap sementara, terimakasih kepada Pemko Padang,” ungkap Mak Wet penuh syukur.
Sumber: Kliksiar.com
Gambar ilustrai banjir

0 Komentar