Bupati Eka Putra Menegaskan bahwa Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten Selalu Mencari Solusi Terbaik untuk Normalisasi Infrastruktur Penanganan Bencana Alam di Tanah Datar

TANAH DATAR, kiprahkita.com Bencana memang tak pernah memilih waktu, tapi respons pemerintah selalu memilih arah. Kunjungan Bupati Eka Putra ke Tanjung Sawah dan Malalo adalah penanda bahwa fase darurat telah berganti baju: dari sirene ke slogan “masa transisi”. Namun transisi bukan sekadar jeda administratif; ia adalah ujian apakah pemimpin hadir sebagai solusi atau hanya sebagai saksi berhelm proyek.

Di Tanjung Sawah, galodo telah “menggambar ulang” peta—sungai baru mengalir di atas jalan lama. Ini bukan sekadar cerita alam yang murka, melainkan peringatan keras tentang rapuhnya tata ruang dan mitigasi. Rencana jembatan baru terdengar menjanjikan, tetapi janji pascabencana terlalu sering lahir sebelum evaluasi prabencana selesai. Jika sungai bisa pindah jalur, maka kebijakan pun harus berani pindah paradigma: dari reaktif ke preventif, dari tambal sulam ke desain yang membaca alam.

Pemasangan tiang listrik baru patut diapresiasi—listrik adalah denyut nadi pemulihan. Namun, pemulihan tak boleh berhenti pada menyala-tidaknya lampu. Jalan yang hanyut di Dusun Pasar Malalo adalah urat nadi distribusi pertanian; ia menuntut kecepatan yang sama dengan ketelitian. Sabo dam yang hancur dan akan diajukan kembali menegaskan satu hal: infrastruktur penahan bencana tak boleh menjadi ritual berulang—dibangun, rusak, dibangun lagi—tanpa audit desain dan pemeliharaan yang jujur.

Candaan Bupati soal operator “jangan sampai kelaparan” menyentuh sisi manusiawi, tapi publik menunggu lebih dari empati simbolik. Mereka menunggu kepastian anggaran, tenggat waktu yang jelas, dan transparansi koordinasi pusat–provinsi–kabupaten. Doa memang penting, namun doa yang paling ampuh adalah kebijakan yang presisi.

Akhirnya, bencana di Tanah Datar adalah cermin: seberapa siap kita membaca alam, seberapa cepat kita belajar, dan seberapa berani kita berubah. Jika masa transisi hanya menjadi jeda sebelum lupa, maka galodo berikutnya akan kembali mengajari kita dengan cara yang sama—keras dan mahal.

Masa tanggap darurat bencana Kabupaten Tanah Datar sudah berakhir. Saat ini masuk kedalam masa transisi tanggap darurat. Demi memastikan kegiatan masa transisi ini berjalan dengan lancar Bupati Tanah Datar Eka Putra meninjau beberapa lokasi di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuah Selatan, Sabtu (3/1).

Tempat pertama yang dikunjungi Bupati adalah di Tanjung Sawah, dilokasi ini Eka Putra menyaksikan langsung proses pemindahan material banjir bandang yang masih menutupi jalan, apalagi di lokasi ini terdapat aliran sungai baru yang mengaliri jalan. Bupati Tanah Datar didampingi oleh perwakilan Dinas SDABK Provinsi Sumbar, yang dalam hal ini langsung turun ke lokasi adalah Kabid PJSA Idola Duangga. Inilah alasan Bupati Eka Putra di lokasi ini.

Idola mengatakan dan melaporkan bahwa semua upaya sudah dilakukan untuk pembersihan jalan di Tanjung Sawah ini, bahkan alat berat yang diperlukan juga sudah diturunkan ke lokasi ini.

“Kedepannya pada lokasi Tanjung Sawah ini direncanakan akan dibuat jembatan baru dikarenakan galodo yang melanda lokasi ini sudah membuat aliran sungai baru yang mengaliri jalan, sesuai dengan kordinasi Bupati Tanah Datar dan Gubenur Sumatera Barat,” ucapnya.

Bupati juga memantau pembangunan tiang Listrik baru yang sedang dikerjakan dikarenakan tiang listrik yang lama sudah hanyut terbawa oleh arus banjir. Eka Putra mengatakan permintaan kepada PLN untuk memasang tiang listrik baru sudah direalisasikan oleh PLN dan sedang dalam proses pemasangan, semoga listrik segera normal pada lokasi bencana ini.

Berikutnya Bupati Tanah Datar dan Kabid PJSA Provinsi Sumbar mengunjungi lokasi di Dusun Pasar Malalo, dilokasi ini sesuai dengan laporan masyarakat dan Kabid SDA PU Tanah Datar Jhon Kenedy bahwa jalan yang biasa dilalui oleh masyarakat di Dusun ini sudah hanyut terbawa arus banjir. Didampingi oleh masyarakat setempat dan kepala Dusun Rabumas, Bupati dan rombongan meninjau pembersihan material sungai dari bebatuaan gunung yang hanyut akibat galodo.

Kedepannya Eka Putra akan merampungkan pengajuan Sabo Dam yang hancur akibat banjir bandang ini.

“Jalan yang hancur pada lokasi ini juga akan dibangun kembali karena merupakan jalan yang menjadi urat nadi distribusi dan hasil pertanian,” ujar Eka Putra. Lebih lanjut, Bupati berharap agar masyarakat mendukung segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna memperbaiki kerusakan akibat bencana alam.

“Kita jaga sama-sama petugas yang bekerja di lapangan, dalam nada candaan Eka Putra menyampaikan asalkan operator yang bekerja ini jangan sampai kelaparan,” lanjut Bupati pada kepala Dusun Rabumas. 

Eka Putra menegaskan bahwa pemerintah baik Pusat, Provinsi dan Kabupaten selalu mencari solusi terbaik untuk bisa menormalisasi infrastruktur dan penanganan bencana alam di Tanah Datar, tolong doakan kita bersama kuat dalam menjalankan tugas yang mulia ini demi kesejahteraan masyarakat Kabupaten yang kita cintai ini. (KT/Akos) 

Posting Komentar

0 Komentar