HAB ke-80 Kemenag: Ketika “Ikhlas Beramal” Diuji oleh Algoritma

TANAH DATAR, kiprahkita.com Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama di Tanah Datar bukan sekadar perayaan rutin tahunan. Ia adalah cermin—tempat institusi keagamaan negara bercermin pada wajah zaman yang kian dipenuhi kecerdasan buatan, algoritma, dan kecepatan yang sering kali menenggelamkan makna.

Pesan Menteri Agama tentang kedaulatan ASN di era Artificial Intelligence terdengar visioner, namun sekaligus mengandung kegelisahan. Sebab teknologi, seperti pisau bermata dua, tak pernah netral. Ia bisa menjadi wasilah dakwah moderasi, atau justru menjadi kanal baru bagi ekstremisme yang dibungkus ayat dan simbol kesalehan. Di titik inilah Kementerian Agama diuji: bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi berani mewarnainya dengan nilai.

Agile, lincah, adaptif—istilah-istilah modern itu kerap bergema di ruang birokrasi. Namun pertanyaannya sederhana: apakah kelincahan itu dibarengi kejernihan nurani? Sebab birokrasi keagamaan tak cukup hanya cepat dan canggih. Ia harus jernih, sabar, dan berpihak pada kemanusiaan. Tanpa itu, AI hanya akan melahirkan kesalehan instan—viral, tapi hampa.

HAB ke-80 juga mengingatkan kembali pada akar historis Kementerian Agama. Lembaga ini lahir bukan untuk menjadi menara gading moral, tetapi penjaga nalar keagamaan dalam rumah besar kebangsaan. Ketika agama kerap ditarik ke gelanggang politik identitas, Kemenag seharusnya berdiri sebagai penyeimbang—tenang, rasional, dan berjarak dari hiruk-pikuk kepentingan sesaat.

Pemberian penghargaan kepada mitra strategis—dari kepala daerah hingga aparat penegak hukum—menunjukkan satu pesan penting: urusan agama tak bisa dikerjakan sendirian. Moderasi beragama memerlukan orkestrasi lintas sektor. Program Satu Rumah Satu Hafiz, Jaksa Masuk Madrasah, hingga penguatan hukum keluarga adalah bukti bahwa agama menemukan maknanya ketika ia hadir dalam kebijakan publik yang menyentuh kehidupan nyata.

Namun esensi HAB sesungguhnya terletak pada penghargaan bagi ASN yang setia mengabdi puluhan tahun. Di tengah budaya instan dan serba cepat, loyalitas menjadi nilai yang nyaris langka. Satyalancana Karya Satya bukan sekadar medali di dada, tetapi penanda bahwa pengabdian masih memiliki tempat terhormat di republik ini.

Zikir dan doa yang menutup rangkaian HAB terasa semakin relevan ketika Tanah Datar dan Sumatera Barat dilanda banjir dan longsor. Di sana, agama kembali pada fitrahnya: menjadi ruang penghiburan, bukan penghakiman; menjadi energi empati, bukan sekadar retorika.

Delapan puluh tahun Kementerian Agama adalah perjalanan panjang antara iman dan institusi. Tantangan ke depan bukan lagi soal menjaga ritual, tetapi merawat makna. Bukan sekadar menguasai algoritma, tetapi memastikan algoritma tidak menguasai nurani.

Di era kecerdasan buatan, barangkali pertanyaan terpenting bagi Kementerian Agama adalah ini: apakah kita masih ikhlas beramal, atau sekadar sibuk mengelola citra kesalehan digital?

HAB ke-80 memberi kita satu pesan sunyi namun tegas: agama akan tetap relevan, selama ia berpihak pada kemanusiaan.


HAB ke-80 Kemenag Tanah Datar Sukses dan Sejumlah Penghargaan Diberikan Kepada Sejumlah Pimpinan Lembaga Mitra.

Ratusan ASN dari lingkungan kantor kemenag, madrasah, KUA, pimpinan pondok pesantren ikuti  peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia dengan khidmat di MAN 2 Tanah Datar  Sabtu itu, (3/1). Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tanah Datar, Abdurrahman Hadi

Sekda Abdurrahman Hadi  membacakan sambutan Menteri Agama, Nasaruddin Umar yang  menekankan pentingnya setiap ASN Kementerian Agama untuk memiliki kedaulatan di era Artificial Intelligence (AI) dan bertransformasi menjadi pribadi yang lincah (agile) dalam melayani umat.

Menteri menegaskan bahwa ASN harus mampu mewarnai substansi teknologi dengan konten keagamaan yang moderat agar algoritma masa depan tetap berlandaskan nilai-nilai ketuhanan. Mengiringi pesan visioner tersebut,

Ketua HAB Bahrul Fahmi membacakan sejarah singkat Kementerian Agama untuk mengingatkan kembali peran strategis lembaga sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan sejak masa perjuangan.

Kepala Kantor Kemenag Tanah Datar, H. Amril, menegaskan pentingnya momentum ini sebagai puncak dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak Desember lalu. “Puncak peringatan HAB ke-80 ini bukan sekadar seremonial, melainkan simbol komitmen kita untuk terus memperkuat sinergi demi kedamaian bangsa.

Ini adalah waktu bagi kita untuk merefleksikan kembali semangat ‘Ikhlas Beramal’ dalam setiap helai nafas pengabdian kepada umat,” ujarnya memberikan keterangan.

Dalam Rangkain kegiatan itu, Kemenag Tanah Datar memberikan piagam penghargaan kepada sejumlah pimpinan lembaga mitra sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin dengan sangat baik.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Bupati Tanah Datar atas program “1 Rumah 1 Hafiz”, Ketua DPRD atas dukungan legislasi keagamaan, serta Kapolres Tanah Datar sebagai mitra harkamtibmas keagamaan.

Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Kepala Kejaksaan Negeri atas program “Jaksa Masuk Madrasah”, Ketua Pengadilan Agama Batusangkar untuk sinergi hukum keluarga, serta Ketua Baznas atas kolaborasi pengelolaan zakat terbaik.

Momen ini juga diisi dengan pembacaan para pemenang berbagai perlombaan inovatif dan olahraga yang telah menyemarakkan HAB ke-80 di tingkat daerah.

Penghargaan bagi internal ASN juga menjadi agenda penting melalui penganugerahan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya sebagai apresiasi atas dedikasi dan loyalitas yang tinggi. Tercatat sebanyak 4 ASN menerima penghargaan untuk masa pengabdian 30 tahun, sementara 50 ASN lainnya menerima penghargaan untuk pengabdian selama 10 tahun. Penyerahan tanda kehormatan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh aparatur untuk terus meningkatkan integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara dan pelayanan masyarakat.

Kemudian  dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama untuk keselamatan Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Tanah Datar yang baru saja tertimpa musibah banjir dan longsor.

Kegiatan ini juga diisi dengan tausiyah oleh Ketua MUI Tanah Datar, Ustadz Yendri Junaidi, yang memberikan penguatan spiritual bagi keluarga besar Kemenag (Sumber GWT*)


Posting Komentar

0 Komentar