Hujan Deras di Padang Melahirkan Pola Sama: Air Naik Cepat

PADANG, kiprahkita.com Setiap hujan deras di Padang selalu melahirkan pola yang sama: air naik cepat, warga panik, aparat datang belakangan, lalu negara tampil heroik di tengah lumpur. Di Pasar Lalang Guo, Kuranji, banjir kembali memaksa puluhan personel Polresta Padang turun tangan mengevakuasi warga. Sebuah pemandangan yang menyentuh—sekaligus memalukan karena berulang dan lagi.

Menyentuh, karena aparat kembali menjadi tangan pertama penyelamat warga. Memalukan, karena peristiwa ini menegaskan satu hal pahit: negara kita masih bekerja setelah bencana, bukan sebelum bencana.

Sungai Batang Kuranji bukan sungai baru. Daerah rawan banjir ini bukan wilayah tak dikenal. Curah hujan tinggi di Padang juga bukan kejutan. Lalu mengapa setiap tahun warga tetap terjebak di rumah, pasar terendam, dan aparat harus berenang menembus arus dengan peralatan seadanya?

Jawabannya sederhana tapi menyakitkan: mitigasi hanya jadi slogan, bukan kerja nyata.

Evakuasi oleh polisi patut diapresiasi. Mereka menyelamatkan anak-anak, lansia, perempuan—kelompok yang selalu paling dulu menjadi korban. Namun pertanyaan yang lebih penting bukan siapa yang mengevakuasi, melainkan mengapa evakuasi selalu menjadi solusi utama.

Di sinilah ironi negara bekerja. Kita membiarkan tata ruang kacau, sungai dangkal oleh sedimentasi, drainase kota tersumbat, dan pemukiman tumbuh liar di bantaran sungai. Semua ini diketahui, semua ini dilaporkan, semua ini dibahas dalam rapat. Tapi ketika hujan turun, yang bergerak justru polisi—bukan sistem.

Aparat keamanan akhirnya memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab lintas sektor: pemerintah daerah, perencana kota, pengelola lingkungan, hingga pengambil kebijakan anggaran. Polisi turun bukan karena itu tugas ideal mereka, tetapi karena tak ada yang lebih siap selain mereka.

Banjir Kuranji memperlihatkan wajah negara yang reaktif. Negara yang gagah saat kamera menyala, tapi abai ketika seharusnya membangun pencegahan. Negara yang rajin mengimbau warga waspada, namun lamban membenahi sebab.

Warga pun terjebak dalam siklus yang kejam: setiap hujan menjadi ancaman, setiap banjir menjadi trauma, setiap evakuasi menjadi rutinitas. Dan kita, sebagai publik, sering kali ikut larut dalam romantisme kepahlawanan, lupa menagih pertanggungjawaban jangka panjang.

Jika banjir terus datang, bukan karena hujan terlalu deras, melainkan karena kebijakan terlalu dangkal.

Suatu hari nanti, yang kita butuhkan bukan lagi evakuasi massal, melainkan keberanian politik untuk mengakui: Padang tidak kekurangan hujan, tapi kekurangan keseriusan mengelola risiko.

Dan selama negara hanya datang membawa pelampung, bukan pencegahan, maka banjir akan selalu lebih cepat daripada solusi. 

Personil Kepolisian Bantu Evakuasi Warga Pasar Lakang Guo Kuranji yang Terjebak Banjir 

Puluhan personel Polresta Padang kala itu melakukan evakuasi terhadap warga Pasar Lalang Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, yang terjebak banjir akibat meluapnya Sungai Batang Kuranji, Jumat sore (2/1). Banjir terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Kota Padang sejak Kamis malam (1/1) hingga Jumat sore.

Evakuasi dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Padang, AKP Martadius, bersama personel gabungan dari berbagai satuan. Dengan menggunakan peralatan evakuasi seadanya dan menyusuri genangan air, petugas mengevakuasi warga yang masih bertahan di dalam rumah serta area pasar yang terendam.

Luapan Sungai Batang Kuranji menyebabkan sejumlah rumah warga dan kawasan Pasar Lalang Guo tergenang air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari lutut hingga pinggang orang dewasa. Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh total, sementara sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Dalam proses evakuasi, petugas memprioritaskan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan perempuan, yang kesulitan menyelamatkan diri akibat derasnya arus air. Beberapa warga terlihat hanya membawa barang seadanya, sementara lainnya dibantu petugas untuk menyelamatkan dokumen penting dan barang berharga.

Kapolresta Padang, Kombes Pol Apri Wibowo, mengatakan bahwa pihak kepolisian bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat terkait meluapnya sungai dan banyaknya warga yang terjebak banjir.

“Begitu mendapat informasi, personel langsung kami turunkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan pengamanan. Keselamatan warga menjadi prioritas utama, terutama bagi anak-anak dan lansia,” ujar Kombes Pol Apri Wibowo.

Selain mengevakuasi warga, personel Polresta Padang juga membantu mengamankan harta benda milik warga yang terdampak banjir, serta melakukan pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi untuk mencegah kemacetan dan kecelakaan akibat genangan air di badan jalan.

Kapolda Sumbar Tegaskan Loyalitas Polri Bukan pada Figur, Tapi Negara dan Masyarakat

Menurut keterangan warga setempat, banjir kali ini tergolong cukup parah karena air Sungai Batang Kuranji naik dengan cepat setelah hujan deras yang berlangsung berjam-jam. Beberapa warga mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka karena air tiba-tiba masuk ke rumah.

Kapolresta Padang mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan banjir untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan di Kota Padang masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan.

“Kami mengimbau warga agar terus memantau kondisi cuaca dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika debit air kembali meningkat,” tegasnya.

Hingga Jumat malam, petugas masih bersiaga di lokasi banjir untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal serta mengantisipasi kemungkinan luapan sungai kembali terjadi. (Md)*

Posting Komentar

0 Komentar