DHARMASRAYA, kiprahkita.com –Lebih dari tujuh kilometer jalan rusak parah di Lubuk Besar–Asam Jujuhan bukan sekadar aspal yang mengelupas. Ia adalah potret jalan yang tersendat di level paling dasar, akses. Ketika jalan utama berubah menjadi lumpur, yang macet bukan hanya kendaraan—melainkan hak warga atas mobilitas, ekonomi, pendidikan, dan keselamatan.
Jalan ini nadi. Dari sanalah hasil kebun petani keluar, anak-anak pun berangkat sekolah, pasien menuju puskesmas, dan roda ekonomi antar-nagari berputar. Ketika nadi tersumbat, tubuh sosial mereka melemah. Ongkos naik, waktu terbuang, pembeli enggan masuk, risiko kecelakaan mengintai. Ini bukan lagi ketidaknyamanan; ini biaya sosial yang dibayar warga setiap hari.
Ironisnya, kerusakan yang “lebih dari setengah” panjang jalan kerap dijawab dengan tambal sulam—solusi kosmetik yang runtuh saat hujan turun. Padahal, setiap kubangan adalah tanda kegagalan perencanaan: drainase absen, kualitas material dipertanyakan, dan pemeliharaan tak berkelanjutan. Di titik ini, jalan rusak menjadi arsip kebijakan yang salah arah.
Yang lebih mengkhawatirkan, warga dipaksa beradaptasi dengan gotong royong mendorong mobil terjebak lumpur tiap saat. Solidaritas memang mulia, tapi ketika gotong royong menggantikan fungsi negara, itu alarm keras. Negara hadir bukan untuk dipuji saat seremonial, melainkan bekerja saat infrastruktur runtuh.
Pertanyaannya sederhana dan mendesak:
Apakah pemerintah daerah melihat jalan sebagai prioritas layanan publik, atau sekadar proyek yang menunggu musim anggaran? Apakah akan ada penanganan menyeluruh—perbaikan struktur, peningkatan kelas jalan, drainase memadai—atau lagi-lagi tambalan yang menunda masalah?
Lubuk Besar–Asam Jujuhan tidak meminta kemewahan. Mereka menuntut kelayakan jalan. Kelayakan adalah standar minimum keadilan. Jika akses utama dibiarkan lumpuh, maka yang runtuh bukan hanya jalan—melainkan kepercayaan.
Sorotan publik sudah ada. Kini giliran keputusan. Jalan ini akan diperbaiki dengan sungguh-sungguh, atau dibiarkan menjadi monumen kelalaian yang terus menelan biaya manusia?
![]() |
Kerusakan parah pada jalan penghubung Nagari Lubuk Besar dengan sejumlah nagari di Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya, kini menjadi keluhan serius masyarakat. Dari total panjang jalan sekitar 15 kilometer, warga menyebut lebih dari 7 kilometer di antaranya berada dalam kondisi rusak berat, bahkan nyaris tak layak dilalui.
Pantauan di lapangan menunjukkan, ruas jalan tersebut dipenuhi lumpur tebal, kubangan air, dan permukaan licin. Kondisi semakin memburuk saat hujan turun. Kendaraan roda dua kerap tergelincir, sementara kendaraan roda empat sering kali terjebak lumpur hingga harus didorong secara manual oleh warga.
“Kalau hujan, jalan ini seperti sawah. Motor jatuh itu sudah biasa, mobil bisa terbenam. Kami sering gotong royong mendorong kendaraan yang terjebak,” ujar salah seorang warga Lubuk Besar.
Akses Vital Warga Terancam
Jalan Lubuk Besar–Asam Jujuhan bukan sekadar jalur biasa. Jalan ini merupakan akses utama masyarakat untuk berbagai kebutuhan vital, mulai dari: Distribusi hasil perkebunan dan pertanian, Akses anak-anak ke sekolah, Mobilitas warga menuju fasilitas kesehatan, Aktivitas ekonomi antar nagari dan kecamatan.
Kerusakan lebih dari setengah panjang jalan membuat aktivitas masyarakat terganggu secara signifikan. Hasil kebun terlambat sampai ke pasar, biaya transportasi meningkat, dan waktu tempuh menjadi jauh lebih lama.
“Kalau jalan bagus, hasil kebun cepat keluar. Sekarang, ongkos naik, pembeli malas masuk. Kami yang rugi,” keluh warga lainnya.
Risiko Keselamatan Mengintai
Selain berdampak pada ekonomi, kondisi jalan yang rusak parah juga mengancam keselamatan pengguna jalan. Kubangan dalam yang tertutup air kerap mengecoh pengendara. Beberapa warga mengaku nyaris mengalami kecelakaan, terutama saat melintas pada malam hari atau ketika hujan deras.
Dokumentasi warga memperlihatkan kendaraan terjebak lumpur hingga roda tidak terlihat, mempertegas betapa parahnya kerusakan yang terjadi.
Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak lagi menutup mata terhadap kondisi ini. Warga meminta adanya penanganan serius dan menyeluruh, bukan sekadar perbaikan tambal sulam yang hanya bertahan sementara.
“Kami tidak minta muluk-muluk. Ini jalan utama. Kalau dibiarkan terus, kami seperti terisolasi,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Dengan kondisi jalan yang terus memburuk, warga khawatir kerusakan ini akan semakin parah dan berdampak jangka panjang terhadap perekonomian serta kesejahteraan masyarakat Lubuk Besar dan Asam Jujuhan.
Kini, sorotan publik tertuju pada respons pemerintah daerah: apakah keluhan warga ini akan segera ditindaklanjuti, atau kembali menjadi persoalan klasik yang berlarut-larut tanpa solusi nyata.(Mond)
#Infrastruktur #Daerah #KabupatenDharmasraya

0 Komentar