PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Tak terasa di tengah gegap gempita perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah institusi yang telah berdiri tegak bagai pohon beringin yang akarnya menghunjam dalam. Sementara dahannya meraih langit. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang namanya. Sebentar lagi akan menginjak usia satu abad (100 tahun), bukan sekadar saksi bisu perjalanan zaman, melainkan pelaku aktif yang terus membentuk dan dibentuk oleh denyut nadi sejarah.
Berdiri pada masa pra-kemerdekaan, tepatnya di awal pergerakan Muhammadiyah di Minangkabau, pesantren ini lahir dari rahim semangat pembaruan (tajdid) yang digagas K.H. Ahmad Dahlan. Di Padang Panjang—sebuah kota yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah” dan pusat pendidikan Islam tradisional—kehadiran Pesantren Kauman Muhammadiyah membawa angin segar: integrasi antara ilmu agama yang murni dengan pengetahuan umum yang modern.
Selama hampir seabad, pesantren ini telah menjadi “kawah candradimaka” bagi ribuan santri. Prinsip utamanya adalah memadukan kekuatan tradisi pesantren (seperti penghayatan Al-Qur’an-Hadits, kitab kuning, dan kehidupan berasrama) dengan semangat keilmuan Muhammadiyah yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan. Pendidikan akhlak al-karimah menjadi fondasi, sementara penguasaan sains, teknologi, dan ketrampilan hidup menjadi instrumen untuk berkontribusi di masyarakat.
Banyak tokoh bangsa, ulama, cendekiawan, dan profesional yang merupakan alumni dari pesantren ini. Mereka adalah bukti nyata bahwa model pendidikan integral yang diusung Pesantren Kauman Muhammadiyah berhasil melahirkan manusia yang tidak hanya “alim dalam agama” tetapi juga “cerdas dalam dunia.”
Menjelang usia satu abad, tantangan yang dihadapi tentu berbeda dengan era pendiriannya. Dunia yang semakin digital, generasi Z dan Alpha yang berpikir cepat, masalah degradasi moral, serta persaingan global, menuntut pesantren untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Beberapa langkah strategis menuju abad kedua dapat dirumuskan:
Penguatan Kurikulum Masa Depan: Mengintegrasikan lebih dalam pendidikan digital, kewirausahaan, literasi data, dan keahlian abad 21 ke dalam kurikulum pesantren, tanpa mengesampingkan pendalaman tafsir, fiqh, dan tasawuf.
Internasionalisasi Jejaring: Memperluas kerja sama dengan lembaga pendidikan dan pesantren modern di dalam dan luar negeri untuk pertukaran ilmu, santri, dan guru.
Pelestarian dan Digitalisasi Khazanah: Mendokumentasikan dan mendigitalkan sejarah, karya ulama, serta tradisi keilmuan pesantren sebagai warisan intelektual untuk generasi mendatang.
Peran Sosial-Ekologis: Memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pusat kajian isu-isu kontemporer (seperti lingkungan, moderasi beragama, dan kesetaraan), serta penjaga kemaslahatan umat.
Pemodernan Manajemen: Menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel untuk memastikan keberlanjutan dan kemajuan institusi.
Padang Panjang, dengan identitasnya sebagai kota pendidikan, akan semakin bersinar dengan peran Pesantren Kauman Muhammadiyah yang semakin matang di usia seabad. Pesantren ini diharapkan bukan hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menjadi engine of change, mesin penggerak yang melahirkan inovator-inovator muslim yang berakhlak, berilmu, dan bermanfaat bagi peradaban.
Menuju satu abad, perjalanan Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah perjalanan dari sebuah sejarah menuju sebuah legasi. Legasi tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam bisa tetap relevan, berkontribusi, dan menjadi mercusuar pencerahan dari generasi ke generasi.
Selamat menuju satu abad, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Teruslah mengukir sejarah, menebar manfaat, dan melahirkan generasi yang “Muhammadiyah” dalam semangat, “Pesantren” dalam spiritualitas, dan “Modern” dalam visi peradabannya. (TR)
.jpg)
0 Komentar